img_0909

Hari-5: Hong Kong

Hari kelima perjalanan wisata kami menjadi hari terakhir kami berada di Hong Kong. Sengaja tidak ada itenerary khusus untuk hari ini. Sebab kami menggunakan sebagian waktu untuk packing. Namun demikian karena pesawat kami masih agak malam, maka ada sedikit waktu untuk beberapa saat menikmati area Tsim Sha Tsui di siang hari. Dan kami juga ingat salah satu tempat tujuan kami yakni Avenue of Stars belum sempat kami kunjungi. Maka setelah beberapa saat kami berkemas, kami menitipkan tas-tas besar kami di hotel tempat menginap. Beruntung staf London Guesthouse sangat baik mempersilahkan kami untuk menyimpan tas kami di sana.

Avenue of Stars adalah sebuah jalan pedestrian yang dipenuhi dengan stempel tangan para artis terkenal mandarin. Lokasinya cukup dekat jika dijangkau dari Tsim Sha Tsui, namun satu hal yang sedikit mengecewakan menghampiri kami. Ternyata area yang sebelumnya digunakan untuk Avenue of Stars ini sedang direnovasi. Setelah kami selidiki lebih lanjut ternyata kawasan ini sedang dalam proses renovasi hingga diperkirakan akan dibuka kembali di akhir tahun 2018. Untuk ornamen-ornamen Avenue of Stars saat ini sedang dipindahkan di Garden of Stars dan Starry Gallery.

img_0909
Untuk sedikit mengobati kekecewaan kami karena tidak bisa menikmati Avenue of Stars, maka kami sedikit menghabiskan waktu dengan menjelajahi beberapa spot di kawasan Tsim Sha Tsui. Salah satunya adalah berselfie sedikit di depan salah satu hotel legendaris di Hong Kong, The Peninsula. Hotel yang dibangung di tahun 1928 ini berada tepat di seberang Hong Kong Space Museum. Hotel supermewah ini juga tercatat sebagai hotel tertua di Hong Kong. Satu hal menarik dari hotel ini adalah keterikatannya dengan merk mobil mewah Rolls Royce. The Peninsula Hong Kong tercatat berkali-kali memecahkan rekor dunia untuk jumlah terbanyak pembelian Rolls Royce dalam sekali order. Catatan terakhir menyebutkan bahwa pada tanggal 14 Desember 2006, The Peninsula menyambut 14 Rolls Royce Phantom baru yang mereka order dalam sekali waktu.

 photo 0977A904-6614-449D-BFEA-A78B7180EFBE.jpg

Kami melanjutkan perjalanan kaki kami sedikit ke arah barat menuju depan bangunan klasik sebuah mall bernama 1881 Herritage. Bangunan klasik ini dahulunya adalah kantor polisi perairan yang dibangun di tahun 1884, sebelum akhirnya dialih fungsikan menjadi shopping mall. Namun kami tidak masuk ke pusat perbelanjaan ini karena takut banyak kehilangan waktu, maka kami lanjut melakukan penyusuran ke arah utara dan kembali terhenti di rumah makan halal Ebeneezer’s di Ashley Rd untuk makan siang. Setelah perut kenyang, kami sedikit membeli oleh-oleh tambahan di sekitar Chungking Mansion.

 photo EADC1EEA-66F7-43A4-995A-29FE976B192C.jpg

Membeli tambahan oleh-oleh menjadi penutup petualangan kami di kawasan Tsim Sha Tsui. Mengingat hari sudah semakin sore maka kami bergegas untuk mengambil tas koper yang kami titipkan tadi di London Guesthouse. Perjalanan kami lanjutkan untuk menuju ke bandara internasional Hong Kong. Maka dari stasiun Tsim Sha Tsui kami naik kereta jalur merah dan turun di stasiun Lai King. Di sini kami harus pindah ke kereta jalur Tung Chung (kuning) untuk menuju ke statiun Tsing Yi. Di stasiun Tsing Yi kami kembali harus pindah kereta untuk naik Airport Express menuju ke Hong Kong International Airport. Perjalanan naik Metroman Hong Kong dengan melintasi beberapa stasiun menandai akhir petualangan singkat kami di Hong Kong dan Macau. Karena malam harinya kami akan naik pesawat untuk transit satu hari di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kami tiba di Kuala Lumpur International Airport terminal 2 malam hari di hari kelima. Untuk menghemat budget, kami sengaja tidak menginap di hotel. Jadi ya sedikit “mbolang” dengan mencari tempat seadanya untuk beristirahat. Tetapi kami sepertinya tidak sendirian, banyak juga wisatawan yang melakukan hal yang sama. Dan entah sudah disiapkan atau tidak oleh pihak pengelola bandara, ada satu lokasi yang cukup nyaman untuk kita pakai sebagai tempat istirahat. Lokasinya terletak di sebelah kanan pintu keluar terminal kedatangan bandara KLIA2. Di lokasi ini sudah ada kursi-kursi panjang dan karpet yang tergelar di lantai. Saat kami tiba sudah banyak orang yang beristirahat di sini, maka kamipun juga langsung mencari posisi. Sepertinya tempat ini memang disediakan untuk para pengguna pesawat yang melakukan transit perjalanan, sebab tidak ada petugas bandara yang mengusir kami karena beristirahat di tempat ini. Namun perlu diingat bahwa nampak tempat ini hanya sebatas sementara, karena jika saya amati dengan detail, lokasi ini sepertinya sebuah halaman dari lapak bandara yang belum ada penyewa. Jadi ya bisa saja di lain kesempatan tempat ini sudah tidak ada lantaran sudah ada penyewanya.

Hari-6: Malaysia

Hari keenam menjadi hari terakhir petualangan kami di Hong Kong, Macau, dan Malaysia. Sebagai penutup perjalanan, kami berencana untuk mencari oleh-oleh khas Malaysia. Saat itu kami mempunyai dua alternatif tujuan untuk belanja oleh-oleh yakni Central Market Kuala Lumpur atau ke kawasan Bukit Bintang. Central Market adalah sebuah pasar yang khusus hanya menjual barang-barang kerajinan dan aneka souvenir khas Malaysia. Sedangkan Bukit Bintang dipenuhi dengan beberapa pusat perbelanjaan besar, yang jelas membutuhkan waktu lebih lama untuk menjelajahi lokasi ini. Dengan pertimbangan waktu tersebut, maka kami memutuskan untuk ke Central Market saja.

Seperti pada beberapa hari yang lalu kami di KLIA2, sebelum menuju Central Market kami menitipkan beberapa koper besar kami di Luggage Storage KLIA2. Setelah itu baru kami naik kereta KLIA Express dengan tujuan ke Stasiun Sentral. Dari Stasiun Sentral kami naik kereta jalur Kelana Jaya (hijau) menuju stasiun Pasar Seni (arah ke Terminal Putra).

Sesampainya di stasiun ini kami kami tertarik dengan penjaja makanan yang ada di depan stasiun. Nampak ada bungkusan-bungkusan khas kertas cokelat yang mungkin hanya bisa kita temukan di Indonesia dan beberapa negara tetangga saja. Setelah kami bertanya apa isi bungkusan tersebut akhirnya kami tahu bahwa bungkusan tersebut adalah nasi lemak. Maka kami putuskan kami makan saja di warung tersebut sejenak. Menu nasi lemak di sini cukup sederhana dan murah. Kalau di negara kita mungkin Anda pernah mendengar istilah nasi kucing, nah mirip dengan nasi lemak bungkusan ini. Makan untuk 5 orang kami hanya merogoh kocek RM 16,5 saja, atau sekitar Rp 56000 saja. Namun sayang saat pulang ke Indonesia kami sadar bahwa kami telah membayar lebih banyak beberapa ringgit ke penjaja warung tersebut. Karena setelah kami hitung sendiri, total ringgit yang harus kami bayar tidak sama dengan yang diminta si penjual. Tapi yah, biar saja lah, rejeki gak akan kemana to. Hehehehee…

 photo 62A8F432-1E5F-45D5-92FF-05BE49AB02E2.jpg

Fokus ke nasi lemaknya, jangan ke kaos kakinya! Hehehehee…

Untuk menuju Central Market, kita hanya perlu berjalan terus beberapa menit dari depan stasiun Pasar Seni ke arah utara. Anda harus menyeberangi jalan Tun Tan Cheng Lock sehingga Anda akan menjumpai sebuah bangunan yang nampak khas jika dilihat dari jauh karena bergaya bangunan kuno berwarna biru muda. Di atas pintu masuk bangunan ini ada tulisan “Central Market since 1888″, dan sampailah kami di salah satu pasar oleh-oleh khas Malaysia ini.

 photo C99B19A4-34B6-4B68-BB39-7504C32C9461.jpg

Menurut kami harga barang-barang di tempat ini cukup murah. Namun kami perlu beberapa saat berjalan untuk menemukan barang dengan kualitas baik namun harga yang paling masuk akal. Nampak di setiap bagian pasar menjual berbagai macam jenis barang yang memang khusus diperuntukkan sebagai oleh-oleh. Dari yang paling murah berharga hanya beberapa ringgit hingga ribuan ringgit ada di sini. Kami berkeliling dan membeli beberapa oleh-oleh di dalam pasar ini sekitar satu jam lamanya.

Central Market menjadi tempat wisata tujuan kami yang terakhir dari serangkaian agenda kami. Sedikit tanpa perencanaan sebenarnya untuk mengunjungi tempat ini, namun kami cukup mudah untuk mencari cara agar bisa sampai ke sini dengan mudah dan hemat. Selepas dari Central Market kami kembali ke KLIA2 melalui rute yang sama yakni dari stasiun Pasar Seni kami menuju Stasiun Sentral untuk berpindah kereta ke KLIA Express menuju KLIA2. Dari KLIA2 kami terbang untuk pulang ke Indonesia, menghirup udara Indonesia, dan kembali berkarya untuk Indonesia.

*Silahkan jika berminat: Itenerary Hemat Berlibur ke Hong Kong 4 hari 3 malam

image

Hari-4: Macau

Macau, sebuah kawasan lain yang wajib dikunjungi jika Anda berlibur ke Hong Kong. Macau masih termasuk wilayah Republik Rakyat Cina, yang memiliki history mirip dengan wilayah Hong Kong. Jika Hong Kong dahulunya merupakan daerah jajahan kerajaan Inggris, dan sempat menjadi salah satu negara persemakmurannya sebelum akhirnya bergabung menjadi satu wilayah dengan Cina, maka Macau dahulunya adalah sebuah wilayah jajahan Portugis. Di tahun 1999 Portugis menyerahkan kemerdekaan wilayah Macau kepada RRC. Sejak saat itu, Macau menjadi daerah dengan otonomi khusus RRC, sama dengan Hong Kong.

Portugal banyak mempengaruhi gaya bangunan di Macau. Bangunan-bangunan di Senado Square serta gereja-gereja di Macau sangat bergaya Eropa. Hotel-hotelnya juga sangat bernafaskan benua Eropa, salah satunya adalah The Venetian yang menjadi salah satu obyek wisata tujuan kami. Satu hal yang menarik adalah Macau dijuluki sebagai Las Vegas-nya Asia, hal ini dikarenakan banyaknya kasino yang dibangun di sini. Kasino-kasino di Macau saling berlomba untuk memberikan atraksi-atraksi menarik baik dalam bentuk arsitektur bangunan maupun ornamen-ornamen di dalam gedung yang fantastis. Sampai-sampai, demi menghubungkan dua kawasan wisata Macau dan Hong Kong, pemerintah Cina saat ini sedang membangun jembatan laut terpanjang di dunia dengan kombinasi jembatan bawah laut dan atas laut yang sangat spekatakuler. Proses pembangunan jembatan ini, sekilas dapat kita amati saat kita naik Ngong Ping Cable Car.

Jembatan penghubung Hong Kong – Macau diperkirakan baru akan beroperasi di akhir tahun 2018. Maka dari itu untuk saat ini jika ingin menuju Macau dari Hong Kong, ferry cepat menjadi transportasi paling efisien dengan harga yang relatif terjangkau. Dengan ferry cepat ini hanya membutuhkan waktu 1 jam dari pelabuhan Hong Kong maupun China Ferry Terminals ke Pelabuhan Macau atau juga Taipa. Kami yang saat itu menginap di kawasan Tsim Sha Tsui, memilih untuk menyeberang via ferry cepat di China Ferry Terminals. China Ferry Terminals hanya berjarak sekitar 750 m dari Mirador Mansion. Dari Mirador Mansion kami berjalan menyusuri Haiphong Road ke arah barat. Sampai di pertigaan Canton Road belok kanan dan berjalan lurus terus hingga menjumpai mall China Hong Kong City di barat jalan. Masuk saja ke dalam mall ini dan langsung naik saja ke lantai tiga, di sana kita akan menjumpai banyak counter tiket ferry cepat.

Tak disangka-sangka pada saat itu, tiket ferry cepat menuju Macau sudah banyak yang habis terjual, padahal kami tiba di China Ferry Terminals masih pukul 09.00 pagi. Nampak di kertas pengumuman counter tiket, bahwa keberangkatan paling cepat ke Macau yang tersedia adalah pukul 13.30 siang. Tentu jika kami berangkat ke Macau terlalu sore, kami bakal tidak puas menikmati setiap obyek di sana. Kami hampir juga terkecoh dengan banyaknya calo berpakaian necis nan rapi yang berdiri sambil menawarkan tiket ferry keberangkatan lebih pagi. Akhirnya dengan sedikit perasaan pasrah kami ambil antrian untuk membeli tiket. Toh juga jika memang harus menyeberang ke Macau sedikit sore, kami bisa atasi dengan membeli tiket balik ke Hong Kong pada jam yang lebih malam. Tak disangka saat berhadapan dengan si penjual tiket resmi, ia bilang masih tersedia 6 tiket yang kami butuhkan untuk penyeberangan pukul 11.30 siang. Tanpa pikir panjang langsung saja kami sambar tiket tersebut. Sekaligus kami juga membeli tiket untuk perjalanan balik ke Hong Kong di malam harinya.

Berdasarkan pengalaman berharga saya tersebut, saya sangat menyarankan kepada Anda, jika Anda berencana akan menyeberang ke Macau dari Hong Kong via ferry cepat, maka sebaiknya Anda membeli tiket ferry tersebut secara online saja. Dua provider ferry cepat Hong Kong – Macau yakni Turbojet dan Cotai Waterjet menyediakan pembelian tiket secara online melalui website mereka masing-masing. Harga pembelian tiket secara online maupun langsung di counter mereka juga tidak berbeda, sehingga paling tidak Anda tidak perlu cemas kehabisan tiket ataupun terdesak saat menghadapi banyaknya calo yang beredar di sana. Harga tiket juga bervariasi antara kedua provider tersebut, dari yang paling murah HK$153 hingga HK$2534 untuk kelas cabin VIP berisi 8 kursi. Harga tiket di hari kerja dan akhir pekan juga ada sedikit perbedaan. Selain itu tiket perjalanan malam juga sedikit lebih mahal dibandingkan dengan perjalanan siang ataupun sore.

Ada dua pelabuhan di Macau, Outer Harbour Terminal dan Taipa. Saat itu kami berlabuh di Outer Harbour Terminal dan berencana untuk langsung menuju Senado Square. Sebelumnya kami mendapat informasi dari teman kami, bahwa jika ingin ke Senado Square, dari Outer Horbour kita tinggal mencari bus shuttle gratis menuju ke Grand Lisboa, yang berjarak hanya 500 m dari Senado Square. Dan benar saja, di terminal bus Outer Harbour ternyata banyak bus shuttle gratis, ya sekali lagi gratis, menuju berbagai kasino dan hotel terkenal di Macau seperti Grand Lisboa, Wynn, MGM, StarWorld, City of Dreams, dan juga The Venetian. Tanpa pikir panjang lagi kami langsung menuju antrian shuttle bus tujuan Grand Lisboa. Hanya beberapa menit kami menunggu, kami sudah mendapat giliran untuk masuk ke dalam bus. Sejurus kemudian bus berangkat menuju Grand Lisboa Macau.

Sesampainya di Grand Lisboa, kami sedikit tercengang atas pemandangan yang tersaji di hadapan kami. Saat itu bus shuttle menurunkan kami tepat di depan pintu lantai paling dasar dari salah satu kasino terbesar di Macau. Ya, sebuah kasino! Setelah melewati pintu tersebut, berbagai jenis mesin permainan dan meja judi menyambut siapa saja yang turun dari bus shuttle. Tentu seumur hidup baru kali inilah kami melihat apa yang dinamakan kasino. Dengan perlahan kami melangkahkan kaki menyusuri lantai tersebut untuk mencari eskalator naik. Rasa ingin untuk mengambil gambar sangat kami tahan karena ada sedikit keyakinan bahwa mengambil gambar di lokasi ini adalah dilarang. Setelah naik satu lantai kamipun terus melangkahkan kaki menuju pintu lobby depan hotel. Ya, selain kasino, Grand Lisboa dikenal sebagai salah satu hotel mewah di Macau dengan bentuk bangunan yang sangat unik dan mudah dikenali dari kejauhan.

Sesampainya di lobby hotel, lagi-lagi kami dibuat kagum dengan berbagai ornamen unik dan indah di sekitar ruang ini. Sedikit berjalan ke arah kiri dari pintu keluar kasino tadi, ada sebuah ornamen ukiran sangat indah terbuat dari gading hewan prasejarah Mammoth. Ada perasaan miris sebenarnya setelah mengetahui bahwa ukiran ini menggunakan bahan dasar gading dari Mammoth, namun memang saya akui ukiran yang dibuat sangat-sangat indah dan detail. Ada dua ukiran gading Mammoth dengan tema ukiran yang berbeda, satu yang paling besar bertemakan kehidupan daratan Cina di masa lampau lengkap dengan tembok besarnya, sedangkan yang lebih kecil bertemakan legenda Monkey King. Selain ukiran gading, juga ada ornamen-ornamen lain yang tidak kalah indahnya.

Beberapa saat setelah puas berfoto ria dan menikmati keindahan karya seni di lobby Grand Lisboa, kami keluar dari hotel ini dan berjalan menyusuri trotoar ke arah barat laut. Hanya berjalan 500 meter saja kami telah sampai di Senado Square. Senado Square adalah sebuah kawasan pedestrian dengan kanan kiri berupa bangunan-bangunan bernuansa Eropa klasik. Cukup unik kawasan ini, dan memang jika sedang berada di sini kita seperti merasa berada di benua Eropa, dan lupa kalau sebenarnya sedang berada di kawasan sebuah negara terbesar di Asia. Konon katanya, Senado Square lebih indah jika dinikmati di malam hari. Namun sayang kami tidak mungkin melakukannya karena lagi-lagi keterbatasan waktu dan budget, hehehee.

Bangunan-bangunan klasik Senado Square bukannya tidak dimanfaatkan, akan tetapi justru digunakan sebagai pusat perbelanjaan serta restoran. Salah satunya digunakan oleh McD untuk membuka satu cabang di sini. Tidak kami sia-siakan begitu saja, setali tiga uang dengan perut kami yang sudah keronconganm akhirnya kami mengisi perut sembari istirahat sejenak di sini.

Selepas istirahat makan, kami melanjutkan penyusuran kami di Senado Square sekaligus berjalan menuju ke Ruins of St Paul. Untuk menuju ke Ruins of St Paul, kita tinggal mengikuti petunjuk jalan yang ada di sepanjang perjalanan. Selain pusat perbelanjaan dan restoran, ada satu bagian Senado Square yang kami lewati menjajakan makanan-makanan ringan. Beberapa saat dari pasar kecil tersebut, kami sudah dapat melihat megahnya bekas bangunan kampus dan gereja St Paul yang telah runtuh dan hanya menyisakan bagian depannya saja. Letaknya yang lebih tinggi dari bangunan-bangunan sekitar, serta keharusan untuk melewati beberapa anak tangga sebelum dapat mencapai Ruins of St Paul, menambah kesan megah bangunan klasik ini.

Ruins of St Paul menjadi bangunan paling iconic di Macau. Bagian muka dari bangunan ini masih berdiri tegak sejak runtuhnya badan bangunan pada tanggal 26 Januari 1835 akibat kebakaran besar saat bencana angin topan terjadi. Sisa-sisa reruntuhan bangunan masih dibiarkan berserakan di bagian dalam bangunan ini, hanya saja di atasnya sudah dibuatkan lantai kaca sehingga kita bisa mengamati reruntuhan tersebut sembari berjalan dengan nyaman. Melihat besar dan megahnya ukuran bagian depan dari reruntuhan gereja ini, membuktikan bahwa benar adanya apabila bangunan ini pernah dinobatkan sebagai gereja katolik terbesar di Asia pada masa itu. Tak lengkap jika saya tidak mengabadikan momen kedatangan kami di depan bangunan bersejarah ini.

Setelah kami puas menjelajahi Ruins of St Paul, kami tidak membuang waktu lama untuk segera menuju The Venetian. Mengapa The Venetian? Salah satu hotel, kasino, serta mall yang terkenal di Macau ini menyimpan sebuah keunikan tersendiri. Nama The Venetian diambil dari sebuah kawasan indah nan romantis di Italia bernama Venice atau Venesia. The Venetian ini berusaha mengadopsi keindahan Venesia ke dalam bentuk hotel dan pusat perbelanjaan, yang mana di salah satu lantai mall dibuat sebuah lokasi perairan yang menyerupai Venesia. Perairan indoor ini dibuat seakan-akan berada di luar ruangan dengan adanya langit-langit yang dicat dengan warna-warni awan yang indah. Sistem pencahayaan langit-langit ini dibuat sangat artistik sehingga sangat indah bahkan jika sekilas melihatnya Anda dapat terkecoh dan mengira bahwa langit-langit tersebut adalah langit alami. Satu hal lagi yang menarik adalah, perairan buatan ini juga dilengkapi dengan gondola yang dikemudikan oleh pria berpakaian khas Venesia. Semua keajaiban buatan ini menjadikan The Venetian obyek wisata yang wajib dikunjungi jika Anda pergi ke Macau.

The Venetian terletak agak jauh dari lokasi terakhir kami berada sebelumnya yakni Ruins of St Paul. Hotel yang pernah dijadikan lokasi syuting sinetron Korea “Boys Before Flowers” ini, berada di tengah-tengah Pulau Taipa. Untuk mencapainya, kami putuskan untuk menggunakan taksi saja, karena menurut informasi yang kami dapatkan tarif taksi di sini lebih murah jika dibandingkan di Hong Kong. Sebenarnya untuk menemukan taksi di sekitar Ruins of St Paul tidaklah sulit jika Anda bersabar, karena beberapa menit sekali akan ada taksi lewat di depan bangunan ini. Namun karena pada saat itu kami kurang begitu sabar, kami memutuskan untuk berjalan cukup jauh ke arah jalan R. do Visc. Paci de Arcos. Di perjalanan kami melewati jalan-jalan perkampungan yang sedikit berbeda dengan pedestrian di pinggir jalan raya. Namun satu hal yang membuat saya kagum adalah sekalipun jalan perkampungan, kebersihan lingkungan di sini sangat terjaga dengan baik. Seakan-akan setiap penduduk Macau sadar akan tanggungjawabnya menjaga kebersihan kota mereka. Dalam hati saya hanya bisa sedikit berharap, semoga semakin banyak penduduk Nusantara yang sadar akan kebersihan kota mereka.

Tarif argo taksi dari jalan R. do Visc. Paci de Arcos ke The Venetian adalah sekitar 70 Macau Pataca (MOP). Sesampainya di The Venetian kami langsung masuk ke dalam dan menuju ke lantai tiga. Mata kami kembali takjub dengan pemandangan Venice buatan di lantai tiga ini. Nampak sebuah gondola sedang melintasi sungai buatan ini, dikemudikan seorang pria Eropa yang sedang bercanda dengan penumpangnya. Tanpa membuang-buang waktu saya bersama istri langsung mencari dimana lokasi start tour naik gondola ini. Sesaat kemudian kami menemukan sekelompok pria dan wanita berseragam sama dengan pengemudi gondola tadi. Nampak di sini pulalah sebuah dermaga buatan digunakan sebagai tempat menaikkan dan menurunkan penumpang gondola. Tak berapa lama kami menanyakan harga tiket per orang untuk naik perahu romantis ini. Harga resmi untuk tour naik gondola selama kurang lebih 15 menit adalah MOP 125 per orangnya. Tiket gondola dapat dibeli di dua toko souvenir Boutique di Gondola dan Emporio di Gondola yang ada di sekitar dermaga tersebut.

Sesaat kemudian saya mencari anggota rombongan lain, sedangkan istri saya menunggu di dekat dermaga gondola. Tak berapa lama setelah saya kembali ke dermaga ini, istri saya bercerita bahwa tadi ada seorang pria menawarkan tiket gondola dengan harga miring yakni hanya MOP 100 saja per orang. Mendengar tawaran ini saya langsung mendatangi pria tadi untuk mengecek keaslian tiket gondola tersebut. Setelah beberapa saat mengobrol, ternyata pria tersebut mendapat harga “teman” dari pengelola gondola, maka dari itulah ia bisa memberi harga murah. Bahkan setelah kami sedikit menawar, ia memberi harga MOP 590 untuk 6 orang. Rejeki memang ga akan kemana! Hehehee…

Tiba saatnya kami naik perahu romantis The Venetian. Dan rupanya keberuntungan kami tidak berhenti di sini saja, ternyata perahu kami dinakhodai oleh seorang pria yang paling-paling dan paling ramai seantero Venetian. Pria beraksen Eropa latin ini amat sangat berisik, ramai, usil, tapi ramah, lucu, dan satu lagi romantis. Bayangkan saja, di tengah perjalanan mengarungi sungai ia tiba-tiba menyanyikan satu lagu romantis berbahasa Indonesia karya Andra and The Backbone berjudul Sempurna. Sontak kami semua ikut bernyanyi kencang bersamanya. Kondisi demikian tentu saja mengundang orang-orang untuk memperhatikan kami. Simak saja video berikut untuk lebih jelasnya.

Sungguh 15 menit yang tidak mungkin akan terlupakan! Sebuah pengalaman yang sungguh tidak terbayangkan sebelumnya! Berada di atas gondola bersama istri tercinta dan sanak keluarga tersayang, menjadi puncak petualangan kami di Hong Kong dan Macau. Berada di tempat ini membuat kami merasa sangat beruntung, karena mungkin tidak setiap orang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk dapat berada di sini. Tak henti-hentinya kami bersyukur atas nikmat yang tidak mungkin kami dustakan ini, sekaligus kami berharap agar terus diberi kesempatan untuk membahagiakan orang tua – orang tua kami dan semua sanak kerabat. Aamiin..

Selepas dari The Venetian, kami harus kembali ke Outer Harbour Terminal untuk naik ferry cepat ke Hong Kong. Di depan The Venetian kami mencari bus shuttle gratis tujuan Outer Harbour Terminal. Di tengah perjalanan naik bus, saya melihat sebuah pemandangan unik yakni sedang ada proses pembangunan kawasan, dengan sebuah replika menara Eiffel Paris berada di tengah-tengah pembangunan kawasan tersebut. Dalam hati saya bertanya-tanya, ingin membangun apa lagi Macau ini? Selidik punya selidik, rupanya lokasi tersebut sedang dibangun hotel dan kasino baru bernama The Parisian Macao, dan replika menara Eiffel dengan ukuran separuh dari aslinya tersebut rupanya akan menjadi icon dari resort raksasa ini. Rupanya The Las Vegas of Asia ini benar-benar semakin menunjukkan taringnya!

Sesampainya di pelabuhan kami masih menyimpan sedikit waktu. Untuk itu kami mampir sebentar ke jalan raya di depan pelabuhan tersebut. Jalan raya bernama Avenida da Amizade ini merupakan rute sirkuit balap Grand Prix Macau dan menjadi point start dan finish dari balap motor tersebut. Nampak dari atas jembatan penyeberangan paddock untuk team-team balap, serta tribun penonton di sisi yang lain. Setelah beberapa kali berselfie ria akhirnya kami menuju ke pelabuhan, dan menunggu jam keberangkatan ferry kami. Ferry kami tidak berlabuh di China Ferry Terminals, akan tetapi berlabuh di Hong Kong Central Pier, Pulau Hong Kong. Jadi untuk kembali ke Tsim Sha Tsui, kami memutuskan untuk naik kereta subway dari stasiun Hong Kong ke stasiun Tsim Sha Tsui via kereta jalur Tsuen Wan (merah).