img_0180

Dewa19, atau Dewa, bukanlah sebuah band! Mereka adalah legenda! Terlepas dari sifat si ‘pentol’-an Ahmad Dhani yang selalu kontroversial sejak jaman orok, lagu-lagu band ini memang diberi nyawa olehnya. Kesemua lagu Dewa bukan hanya enak, tapi seperti mampu membawa otak dan hati kita ke alam Dewa. Saya harus akui Ahmad Dhani memang jenius dalam hal bermusik, entah itu punya vokalis bergaya Ari Lasso atau Once Mekel, atau punya drummer sekelas Wong Aksan maupun Tyo Nugros, semua lini itu seakan diakomodir oleh Dhani. Semua ciri khas mereka diramu oleh Dhani. Masing-masing fase Dewa seakan memiliki ciri khas yang tidak tergantikan.

Perhatikan saja fase Dewa19 saat diperkuat drummer jadulnya Wawan, bergaya sedikit Rock dan Slow Rock, super sedap! Lalu hadir Wong Aksan dengan sentuhan gebukan Jazz-nya. Setelah itu datang fase Tyo Nugros, cenderung agak nge-Pop, tapi justru super sangat enak! Belum lagi membandingkan antara fase Ari Lasso dengan Once Mekel. Keduanya sama-sama super kuat! Karakteristik masing-masing sangat kuat. Tapi jujur saja, saya super salut dengan lagu-lagu ciptaan Dhani yang mampu benar-benar mengeksplor kekuatan vokal Once. Sebut saja lengkingan Once di lagu Arjuna dan Sayap-sayap Patah yang super sedap!

Sudahlah! Ini sekedar catatan kecil saya saja tentang Dewa. Sekalipun Dewa atau Dewa19 sudah pernah dinyatakan bubar untuk selama-lamanya, tapi doa saya cuman satu: semoga Dewa (khususnya Ahmad Dhani) kembali fokus dalam bermusik ala Dewa, dan menghasilkan lagu-lagu legendaris lagi hingga akhir hayat mereka. Aamiin…

Last but not least! Semalam saya nonton konser Dewa 19 di Graha Cakrawala Malang. Ari Lasso dan Once Mekel hadir untuk memperkuat mereka kembali. Sesuatu yang amat jarang pun terjadi: mereka berduet! Beruntung saya dan istri nonton. Setelah melewati sekelumit perjuangan karena aki BMW yang mulai soak-lah, kunci si Nouva yang kejebak di dalam mobil yang sudah terkunci-lah, tapi keren. Sekali lagi KEREN! Beruntung Allah SWT kasih kami kesempatan untuk menonton mereka, sekalipun dari jauh. Dari area tribun tertinggi di Graha Cakrawala. Heheee,, agak ngirit boss…

And here they are!

Satu Hati Feat. Ari Lasso

 

Cinta ‘Kan Membawamu Kembali Feat. Ari Lasso

 

Dua Sejoli Feat. Once Mekel

 

Sayap-Sayap Patah Feat. Once Mekel

 

Lagu Cinta Feat. Once Mekel

 

Pupus Feat. Once Mekel

img_0909

Hari-5: Hong Kong

Hari kelima perjalanan wisata kami menjadi hari terakhir kami berada di Hong Kong. Sengaja tidak ada itenerary khusus untuk hari ini. Sebab kami menggunakan sebagian waktu untuk packing. Namun demikian karena pesawat kami masih agak malam, maka ada sedikit waktu untuk beberapa saat menikmati area Tsim Sha Tsui di siang hari. Dan kami juga ingat salah satu tempat tujuan kami yakni Avenue of Stars belum sempat kami kunjungi. Maka setelah beberapa saat kami berkemas, kami menitipkan tas-tas besar kami di hotel tempat menginap. Beruntung staf London Guesthouse sangat baik mempersilahkan kami untuk menyimpan tas kami di sana.

Avenue of Stars adalah sebuah jalan pedestrian yang dipenuhi dengan stempel tangan para artis terkenal mandarin. Lokasinya cukup dekat jika dijangkau dari Tsim Sha Tsui, namun satu hal yang sedikit mengecewakan menghampiri kami. Ternyata area yang sebelumnya digunakan untuk Avenue of Stars ini sedang direnovasi. Setelah kami selidiki lebih lanjut ternyata kawasan ini sedang dalam proses renovasi hingga diperkirakan akan dibuka kembali di akhir tahun 2018. Untuk ornamen-ornamen Avenue of Stars saat ini sedang dipindahkan di Garden of Stars dan Starry Gallery.

img_0909
Untuk sedikit mengobati kekecewaan kami karena tidak bisa menikmati Avenue of Stars, maka kami sedikit menghabiskan waktu dengan menjelajahi beberapa spot di kawasan Tsim Sha Tsui. Salah satunya adalah berselfie sedikit di depan salah satu hotel legendaris di Hong Kong, The Peninsula. Hotel yang dibangung di tahun 1928 ini berada tepat di seberang Hong Kong Space Museum. Hotel supermewah ini juga tercatat sebagai hotel tertua di Hong Kong. Satu hal menarik dari hotel ini adalah keterikatannya dengan merk mobil mewah Rolls Royce. The Peninsula Hong Kong tercatat berkali-kali memecahkan rekor dunia untuk jumlah terbanyak pembelian Rolls Royce dalam sekali order. Catatan terakhir menyebutkan bahwa pada tanggal 14 Desember 2006, The Peninsula menyambut 14 Rolls Royce Phantom baru yang mereka order dalam sekali waktu.

 photo 0977A904-6614-449D-BFEA-A78B7180EFBE.jpg

Kami melanjutkan perjalanan kaki kami sedikit ke arah barat menuju depan bangunan klasik sebuah mall bernama 1881 Herritage. Bangunan klasik ini dahulunya adalah kantor polisi perairan yang dibangun di tahun 1884, sebelum akhirnya dialih fungsikan menjadi shopping mall. Namun kami tidak masuk ke pusat perbelanjaan ini karena takut banyak kehilangan waktu, maka kami lanjut melakukan penyusuran ke arah utara dan kembali terhenti di rumah makan halal Ebeneezer’s di Ashley Rd untuk makan siang. Setelah perut kenyang, kami sedikit membeli oleh-oleh tambahan di sekitar Chungking Mansion.

 photo EADC1EEA-66F7-43A4-995A-29FE976B192C.jpg

Membeli tambahan oleh-oleh menjadi penutup petualangan kami di kawasan Tsim Sha Tsui. Mengingat hari sudah semakin sore maka kami bergegas untuk mengambil tas koper yang kami titipkan tadi di London Guesthouse. Perjalanan kami lanjutkan untuk menuju ke bandara internasional Hong Kong. Maka dari stasiun Tsim Sha Tsui kami naik kereta jalur merah dan turun di stasiun Lai King. Di sini kami harus pindah ke kereta jalur Tung Chung (kuning) untuk menuju ke statiun Tsing Yi. Di stasiun Tsing Yi kami kembali harus pindah kereta untuk naik Airport Express menuju ke Hong Kong International Airport. Perjalanan naik Metroman Hong Kong dengan melintasi beberapa stasiun menandai akhir petualangan singkat kami di Hong Kong dan Macau. Karena malam harinya kami akan naik pesawat untuk transit satu hari di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kami tiba di Kuala Lumpur International Airport terminal 2 malam hari di hari kelima. Untuk menghemat budget, kami sengaja tidak menginap di hotel. Jadi ya sedikit “mbolang” dengan mencari tempat seadanya untuk beristirahat. Tetapi kami sepertinya tidak sendirian, banyak juga wisatawan yang melakukan hal yang sama. Dan entah sudah disiapkan atau tidak oleh pihak pengelola bandara, ada satu lokasi yang cukup nyaman untuk kita pakai sebagai tempat istirahat. Lokasinya terletak di sebelah kanan pintu keluar terminal kedatangan bandara KLIA2. Di lokasi ini sudah ada kursi-kursi panjang dan karpet yang tergelar di lantai. Saat kami tiba sudah banyak orang yang beristirahat di sini, maka kamipun juga langsung mencari posisi. Sepertinya tempat ini memang disediakan untuk para pengguna pesawat yang melakukan transit perjalanan, sebab tidak ada petugas bandara yang mengusir kami karena beristirahat di tempat ini. Namun perlu diingat bahwa nampak tempat ini hanya sebatas sementara, karena jika saya amati dengan detail, lokasi ini sepertinya sebuah halaman dari lapak bandara yang belum ada penyewa. Jadi ya bisa saja di lain kesempatan tempat ini sudah tidak ada lantaran sudah ada penyewanya.

Hari-6: Malaysia

Hari keenam menjadi hari terakhir petualangan kami di Hong Kong, Macau, dan Malaysia. Sebagai penutup perjalanan, kami berencana untuk mencari oleh-oleh khas Malaysia. Saat itu kami mempunyai dua alternatif tujuan untuk belanja oleh-oleh yakni Central Market Kuala Lumpur atau ke kawasan Bukit Bintang. Central Market adalah sebuah pasar yang khusus hanya menjual barang-barang kerajinan dan aneka souvenir khas Malaysia. Sedangkan Bukit Bintang dipenuhi dengan beberapa pusat perbelanjaan besar, yang jelas membutuhkan waktu lebih lama untuk menjelajahi lokasi ini. Dengan pertimbangan waktu tersebut, maka kami memutuskan untuk ke Central Market saja.

Seperti pada beberapa hari yang lalu kami di KLIA2, sebelum menuju Central Market kami menitipkan beberapa koper besar kami di Luggage Storage KLIA2. Setelah itu baru kami naik kereta KLIA Express dengan tujuan ke Stasiun Sentral. Dari Stasiun Sentral kami naik kereta jalur Kelana Jaya (hijau) menuju stasiun Pasar Seni (arah ke Terminal Putra).

Sesampainya di stasiun ini kami kami tertarik dengan penjaja makanan yang ada di depan stasiun. Nampak ada bungkusan-bungkusan khas kertas cokelat yang mungkin hanya bisa kita temukan di Indonesia dan beberapa negara tetangga saja. Setelah kami bertanya apa isi bungkusan tersebut akhirnya kami tahu bahwa bungkusan tersebut adalah nasi lemak. Maka kami putuskan kami makan saja di warung tersebut sejenak. Menu nasi lemak di sini cukup sederhana dan murah. Kalau di negara kita mungkin Anda pernah mendengar istilah nasi kucing, nah mirip dengan nasi lemak bungkusan ini. Makan untuk 5 orang kami hanya merogoh kocek RM 16,5 saja, atau sekitar Rp 56000 saja. Namun sayang saat pulang ke Indonesia kami sadar bahwa kami telah membayar lebih banyak beberapa ringgit ke penjaja warung tersebut. Karena setelah kami hitung sendiri, total ringgit yang harus kami bayar tidak sama dengan yang diminta si penjual. Tapi yah, biar saja lah, rejeki gak akan kemana to. Hehehehee…

 photo 62A8F432-1E5F-45D5-92FF-05BE49AB02E2.jpg

Fokus ke nasi lemaknya, jangan ke kaos kakinya! Hehehehee…

Untuk menuju Central Market, kita hanya perlu berjalan terus beberapa menit dari depan stasiun Pasar Seni ke arah utara. Anda harus menyeberangi jalan Tun Tan Cheng Lock sehingga Anda akan menjumpai sebuah bangunan yang nampak khas jika dilihat dari jauh karena bergaya bangunan kuno berwarna biru muda. Di atas pintu masuk bangunan ini ada tulisan “Central Market since 1888”, dan sampailah kami di salah satu pasar oleh-oleh khas Malaysia ini.

 photo C99B19A4-34B6-4B68-BB39-7504C32C9461.jpg

Menurut kami harga barang-barang di tempat ini cukup murah. Namun kami perlu beberapa saat berjalan untuk menemukan barang dengan kualitas baik namun harga yang paling masuk akal. Nampak di setiap bagian pasar menjual berbagai macam jenis barang yang memang khusus diperuntukkan sebagai oleh-oleh. Dari yang paling murah berharga hanya beberapa ringgit hingga ribuan ringgit ada di sini. Kami berkeliling dan membeli beberapa oleh-oleh di dalam pasar ini sekitar satu jam lamanya.

Central Market menjadi tempat wisata tujuan kami yang terakhir dari serangkaian agenda kami. Sedikit tanpa perencanaan sebenarnya untuk mengunjungi tempat ini, namun kami cukup mudah untuk mencari cara agar bisa sampai ke sini dengan mudah dan hemat. Selepas dari Central Market kami kembali ke KLIA2 melalui rute yang sama yakni dari stasiun Pasar Seni kami menuju Stasiun Sentral untuk berpindah kereta ke KLIA Express menuju KLIA2. Dari KLIA2 kami terbang untuk pulang ke Indonesia, menghirup udara Indonesia, dan kembali berkarya untuk Indonesia.

*Silahkan jika berminat: Itenerary Hemat Berlibur ke Hong Kong 4 hari 3 malam