Bahagia Bersama AirAsia

Sekitar awal bulan Februari 2019 lalu, tiba-tiba jantung saya berdegup kencang. Juventus bakal bertanding di Singapura. Tepat di tanggal ulang tahun istriku. 21 Juli 2019.

Selidik pun berlanjut. Ternyata di hari sebelum pertandingan Juventus melawan Totenham Hotspur itu, ada pertandingan lain yang menambah kecang degup jantung saya. Ada Manchester United juga. Tim favorit istri saya. Sudah pasti bakal langsung ACC nih proposal bulan madunya. Wkwkwkwkwkwk…

Tanpa pikir panjang, tiket dua hari pertandingan International Champions Cup tersebut langsung saya beli. Baru setelah tiket ada di tangan saya, itenerary pun saya susun.

Sebenarnya saya dan istri sudah pernah ke Singapura. Tahun 2014 lalu. Pengalaman pertama kali berdua, kencan ke luar negeri, ber-Bahagia Bersama AirAsia! Ketika itu saya dan istri beruntung bisa dapat tiket promo pulang-pergi Surabaya-Singapura total hanya dua jutaan rupiah.

Sayang sekali rute AirAsia Surabaya-Singapura sudah tidak tersedia lagi. Namun justru karena itu, petualangan dimulai.

Saya tahu rute pendaratan terdekat AirAsia dari Surabaya ke Singapura adalah di Johor Bahru, Malaysia. Dan di Johor Bahru, ada taman hiburan keren: Legoland. Maka saya langsung browsing jadwal tiket di aplikasi AirAsia.

Jujur saja, baru menyusun itenerary dengan memilih-milih jadwal penerbangan di aplikasi AirAsia ini saja saya sudah sangat excited! Sangat bersemangat! Sudah merasa Bahagia Bersama AirAsia! Seakan-akan saya sudah sampai saja di tempat tujuan saya! Hahahahahaa…

Satu fitur yang paling saya suka dari aplikasi AirAsia adalah kita diperlihatkan harga tiket termurah di satu hari sebelum dan sesudah tanggal yang kita pilih. Ini sangat memudahkan saya dan istri untuk memilih jadwal dan harga yang paling pas dengan kami. Mengingat saya dan istri sama-sama bekerja, maka pemilihan tanggal yang tepat akan memudahkan kami mengatur jadwal cuti.

Informasi harga tiket AirAsia sehari sebelum dan sesudah jadwal yang dipilih memudahkan kita menyusun itenerary

Informasi harga tiket AirAsia sehari sebelum dan sesudah jadwal yang dipilih memudahkan kita menyusun itenerary

Singkat cerita kami pun memilih terbang ke Johor Bahru bersama AirAsia pada tanggal 18 Juli 2019, dua hari sebelum pertandingan ICC 2019 pertama antara Manchester United melawan Inter Milan. Dua hari kami rasa sudah cukup buat jelajahi Johor Bahru.

Maka hari itu pun tiba. Kami meninggalkan rumah sekitar pukul 02.00 dini hari. Jarak rumah kami yang membutuhkan waktu tempuh sekitar 1,5 jam ke Bandara Juanda membuat kami harus benar-benar on time. Karena kami sadar, sekalipun harga tiket pesawat yang murah, AirAsia sangat menghargai waktu.

Pernah suatu ketika saya terlambat check in, tapi itupun hanya 55 menit sebelum jadwal penerbangan AirAsia dari Sultan Mahmud Airport, Terengganu, ke Kuala Lumpur, Malaysia. Ketika itu saja saya sudah diharuskan check in di konter khusus, tidak boleh di konter standard yang sudah dipakai antri untuk penerbangan yang lain. Beruntung ketika itu saya masih bisa lanjutkan penerbangan.

Pengalaman yang diajarkan AirAsia tersebut benar-benar membuat saya sangat menghargai waktu. Sehingga ketika kami sampai di Bandara Juanda, waktu masih menunjukkan sekitar pukul 03.30 pagi, waktu yang sangat aman untuk check in penerbangan internasional: 3 jam sebelum jadwal boarding.

Kami pun langsung check in. Dan karena kami tidak ada koper untuk kami setor ke bagasi, maka kami mencoba check in menggunakan mesin check in mandiri AirAsia. Istri saya mencoba terlebih dahulu.

Viola! Lancar jaya!

Namun ketika giliran saya, gagal terus. Setiap ketika proses memindai paspor selalu berakhir dengan kegagalan. Entah karena apa, padahal nama lengkap saya di tiket booking online dan paspor sudah sama persis, termasuk nama keluarga. Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, saya pun menyerah dan memutuskan harus ikut antri ke konter check in manual.

Inilah kenapa kita harus menyiapkan waktu setidaknya tiga jam sebelum jadwal boarding sudah berada di bandara, supaya masih ada waktu jika terjadi terjadi sedikit kendala yang menghambat perjalanan kita.

Tidak membutuhkan waktu lama ternyata untuk antri di konter check in manual. Pelayanan yang cepat dan profesional dari petugas konter check in AirAsia sepertinya jadi nilai yang harus dipertahankan oleh mereka.

Setelah proses check in selesai, kami pun masih punya waktu cukup luang untuk bersantai. Di sela-sela waktu tersebut, saya gunakan untuk menyapa kamera ponsel saya, sebagai bahan vlog perjalanan piknik kali ini. Hahahahaa…

Bahagia Bersama AirAsia

Pagi Bahagia Bersama AirAsia

Maka benar saja, 10 menit sebelum jadwal boarding, kami sudah diminta masuk ke pesawat. Ini yang saya sangat suka dengan AirAsia: tepat waktu. Kami pun terbang sesuai jadwal.

Selama penerbangan kami menyibukkan diri masing-masing. Saya membaca buku, yaaa,, agak berat sih: Financial Management Canvas. Sedangkan istri saya seperti biasa, membuka-buka majalah penerbangan AirAsia.

Ketika membuka-buka buku Santan, istri saya sempat menawari saya sarapan. Ia berkata “Kayaknya enak nih nasi lemaknya. Ayah mau? Tapi kok ya kita tadi sarapannya pas jam sahur. Trus saiki dadi sik wareg. — (Jadinya sekarang masih kenyang).”

Hahahahahaa,, gimana Bunda ini, nawar-nawarin sendiri, dijawab-jawab sendiri. Tapi ya bener juga sih ya, ngapain juga tadi repot-repot sarapan di rumah, kepagian lagi, kalo di dalam pesawat AirAsia aja ada menu menggiurkan.

Oke! Next time wajib bebas repot!

Tapi tunggu dulu! AirAsia kasih kejutan lain rupanya!

Sejatinya jadwal penerbangan kami mendarat di Senai International Airport, Johor Bahru, pukul 10.20 waktu Malaysia. Tapi ternyata ketika jam masih menunjukkan pukul 10.00 kurang sepuluh menit, Om Kapten Pilot AirAsia QZ392 sudah mengumumkan bahwa kita akan mendarat pukul 10.00 tepat. Lebih cepat 20 menit dari jadwal seharusnya!

Wow! Istimewa!

Jujur saja, lagi-lagi saya terkesan dengan kualitas AirAsia. Mereka benar-benar memberi bukti bahwa siapapun bisa Bahagia Bersama AirAsia.

Pendaratan sempurna sekaligus lebih cepat dari jadwal ini menutup penerbangan kami menuju Johor Bahru.

LEGOLAND! KAMI DATANG! CIIAAAAAAATTTTTTT!

3A0EEF4D-8FA5-4455-8576-78491EB1957A

Terimakasih AirAsia

Hasil Tangkapan Perburuan Tahun ini

[Update Desember 2019]

Horeeeee! Redeem Telkomsel Poin ke voucher Gramedia nongol lagi!

Akhir tahun 2019 ini ternyata voucher Gramedia nongol lagi. Formatnya tapi berubah sedikit:

  1. Harga voucher lebih mahal. 400 Telkomsel Poin cuman dapet voucher Gramedia senilai Rp 50.000. Belum lagi mulai awal tahun 2019 kemarin Telkomsel mangkas habis perolehan poin pelanggan. Saya di tahun-tahun sebelumnya bisa dapet ratusan poin per bulan sekarang jadi cuman puluhan doang.
  2. Quota voucher dibatasi. Per hari dibatasi entah berapa voucher yang disediakan oleh Gramedia. Jadi kalo kuota dah habis otomatis pilihan redeem voucher Gramedia di aplikasi My Telkomsel akan hilang.
  3. Quota voucher per orang juga dibatasi hanya bisa menukar 10 kali voucher. Jadi total per hari per orang hanya bisa menukarkan 4000 Poin Telkomsel-nya.

Oke! Selamat berburu Voucher!

Hasil Tangkapan Perburuan Tahun ini

Hasil Tangkapan Perburuan Tahun ini

______________________________________________________________________

[Update Desember 2018]

Maaf beribu maaf kepada para pembaca postingan remeh ini. Karena nampaknya tahun ini saya tidak sendirian yang gagal menukarkan poin telkomsel menjadi voucher Gramedia.

Tahun ini memang gila! Dalam artian penukaran voucher Gramedia laris manis. Awal Desember lalu saya berniat menukarkan poin tapi ternyata di aps My-Telkomsel sudah raib. Tak perlu dipertanyakan apa penyebabnya karena jelas sudah banyak yang ‘melek’ poin. Kalo saya boleh ge-er mungkin juga karena tulisan remeh saya ini. Hehehee..

Tapi tenang wahai para pemburu voucher, nampaknya Telkomsel ingin memuaskan pelanggannya dengan menyediakan kembali voucher Gramedia. Namun tentu dengan format yang sedikit berbeda.

Khusus penukaran voucher Gramedia menggunakan Telkomsel Poin, sejak beberapa minggu ini dibuka setiap hari tepat pukul 10.00 WIB pagi, dengan jumlah kuota yang dibatasi oleh pihak Telkomsel. Hal ini tentu bertujuan untuk memeratakan jumlah voucher yang disediakan oleh Telkomsel. Entah berapa jumlah kuota per harinya, tapi jelas ini membuktikan bahwa semakin banyak orang yang suka baca buku.

Terimakasih buat Mas Andika yang sudah berbagi info tersebut di kolom komentar tulisan saya ini.

Dan buat Kamu yang sedang berburu voucher Gramedia: Semoga beruntung! Dan jika ada pegalaman lain, yuk berbagi di kolom komentar!

______________________________________________________________________

[Tulisan asli: 17 Desember 2017]

Telkomsel Poin Anda menumpuk di akhir tahun?

Sama…

Hahahahaa…

Dari tahun ke tahun selalu terjadi penumpukan akut t-poin. Dan dari tahun ke tahun pula saya selalu salah memanfaatkannya: ikut undian t-sel poin. Yang tentu saja, berakhir dengan ga dapat apa-apa. Wakakaka… Apa Anda juga mengalami hal yang sama?

Beruntung tahun ini tidak ada gembar-gembor lagi yang namanya undian t-poin. Jadinya saya kudu cari alternatif lain make poin-poin ini. Lha gimana lagi, poin t-sel saya bisa dibilang, banyak. Ada dua kartu halo yang saya piara. Dua-duanya kedaftar pakai paket halo kick yang 150rb. Otomatis tagihan per bulan pasti di atas 165rb (setelah ditambah pajak). Bahkan kadang tagihan salah satunya bisa ampe 200rb pas bulan-bulan sibuk. Ostosmastis, per bulan minimal dapat 100 t-sel poin. Jadi total, setelah ditambah dengan poin pembayaran bulan ini, hingga Desember 2017 ini, si halo 1 dapat poin 1503, dan si halo 2 poinnya 1839. Jadi total 3342 poin. Istimewahh



Berburu voucher pun seketika terhenti di pilihan voucher gramedia. Naaaah,, ini nih sasaran saya! Tukar 350 poin, dapat voucher senilai 50.000 rupiah. Lumayan ini kalo bisa belanja pake voucher doang. Total kan jadi punya voucher 450rb rupiah.

Tapi sempet ragu sih, apa bisa vouchernya digabung-gabung gitu. Sempet browsing sana-sini dan nemu blog lain juga yang cerita kalo semua itu bisa! Banyak voucher bisa dipake di satu kali pembelian. Bahkan ada yang bilang voucher yang ditukarkan dari beda pemilik t-sel poin bisa dipake jadi satu juga. Wah,, wenak tenan ini.

Daripada berlama-lama, langsung nekat saya ngajak istri berangkat ke Surabaya. Langsung meluncur ke Tunjungan Plaza. Putar-putar bentar, tengok sana-sini. Sempet anter istri belanja dikit di Matahari. Dan akhirnya sampai juga di Gramedia TP 1 lantai 4.

Sesampai di sana langsung tanya si mas-mas gimana ini vouchernya. Dan ternyata bener! Beberapa voucher senilai masing-masing 50.000 rupiah hasil penukaran t-sel poin, bisa digabungkan jadi sekali pembelian. Mantab to! Langsung deh saya berburu buku. Tengok sana-sini awalnya saya pengen beli ‘Disruption’-nya Om Rhenald Khasali. Trus ada lagi satu buku baru karya beliau lanjutan Disruption, judulnya ‘Tomorrow is Today’. Tapi kok ya mood saya lagi pengen baca novel. Lagi ga pengen baca yang terlalu berat.

Sebetulnya inti dari apa yang sering disampaikan Om Rhenald di buku beliau ini sudah mulai dibahas di buku sebelumnya yang saya baca: ‘Cracking Zone’. Bahwa dunia ini semakin super dinamis. AMAT SANGAT DINAMIS! Bahkan jika kita yang awam saja, yang mungkin tidak terlalu jatuh terjun ke dunia bisnis, jika hanya diam dan tidak mengambil antisipasi, bisa dipastikan tenggelam. Kenapa bisa demikian? Lha wong, mereka-mereka yang kita kenal dengan generasi milenial, yang lahir di era 2000-an ke atas, sudah punya dunia yang berbeda. Pemikiran yang berbeda. Prinsip hidup beda. Bahkan mereka lebih memprioritaskan piknik daripada beli rumah. Ini fakta lho! Coba aja googling masalah ini. Pemerintah sudah menyadari kok masalah ini.

Nah, itulah kenapa kita ga bisa diem aja. Kudu siap sama dunia yang switching-nya super dinamis cepat ini. Itu yang saya pahami. Dan pemahaman inilah yang membuat saya belok dari buku-buku Om Rhenald, ke novel-novel saja lah. Yang enteng-enteng dulu saja. Hahahahaa,,,

Akhirnya saya pilih novelnya Pakde Dan Brown. ‘Deception Point’. Sama satu novel dia yang sebenarnya sudah saya baca, dari minjem, yang akhirnya kebeli juga, ‘The Da Vinci Code’. Novel ini cocok buat mereka yang belum pernah baca karya Dan Brown, tapi pengen memulainya. Saya sarankan baca dulu Da Vinci Code. Jangan langsung ke ‘The Lost Symbols‘. Bisa-bisa ga nututi ntar ama cerdasnya seni bercerita ala Dan Brown yang penuh fakta teori konspirasi. Ato jangan juga memulai dengan ‘Inferno’, karena Anda akan dibuat jengkel oleh akhir kasus Robert Langdon di episode ini: sangat tragis…

Satu novel lain yang saya pilih adalah ‘Anak Rantau’ karya Mas Ahmad Fuadi. Penasaran dengan gimana cerita lain dari dia. Satu lagi buku yang ternyata, agak serius, ‘Atlas Wali Songo’. Baca judul buku ini aja saya jadi pengen mendalami gimana sih sebenernya para pejuang Islam pertama di Indonesia ini. Terakhir baca-baca sih, mereka adalah utusan dari kekhalifahan Turki Utsmani pada jaman itu. Yaaa,, mari kita buktikan. Nanti saya sempatkan buat resensinya tipis-tipis.

Oke dah,, dapat total empat buku. Setelah saya hitung kasar kira-kira dah lebih lah kalo 450.000. Lumayan juga. Hampir setengah juta. Hahahaa,, luebay

Tukar Telkomsel Poin dengan Voucher Gramedia

Lanjut saya ke costumer service Gramedia dulu. Bilang kalo mo tuker telkomsel poin dengan voucher. Tapi sebelumnya sih saya sudah reedem semua vouchernya. Jadi nanti di CS ini, si mas-nya, akan mengaktifkan voucher kita, dan mengisi semacam kertas voucher dadakan yang di dalamnya ada kode voucher, nomor hp, nama kita, dan nominal nilai vouchernya. Tapi sorry juga ya, ga sempat saya foto kertas vouchernya.



Setelah semua voucher kita pegang, saya sudah pegang 9 voucher, lanjut saja ke kasir buat bayar apa yang kita beli. Di kasir langsung saja voucher kita kasih ke mbak kasirnya. Nanti di akhir proses pembayaran, semua voucher akan diinputkan ke komputer kasir. Dan inilah proses yang agak lama, dan bikin antrian di belakang saya jadi agak panjang. Karena mbak kasirnya ternyata harus input manual dengan mengetik satu-satu kode voucher yang ada ke komputer kasir, sehingga total pembayaran terkurangi 50.000 setiap kode voucher masuk, sampai semua kode voucher terinput. Saya ampe minta maaf ke si mbak kasir karena harus input manual sembilan kode voucher. Ya, namanya pelayanan ya, si mbak sih sambil senyum-senyum manis bilang gapapa. Hehehehee..

Tapi semua proses antri dan tetek bengek itu sepadan kok, sangat sepadan, bahkan lebih dari sepadan. Lha gimana nggak? Wong belanja total 492.000 rupiah, cuman harus bayar 42.000 doang. Hahahahaa,, penak tenan!

Tukar Telkomsel Poin dengan Voucher Gramedia