Ini dia! Rumah lumba-lumba!

Pantai Lovina, Singaraja, Bali.

Awalnya cukup khawatir karena kami datang bertepatan dengan musim hujan. Saat saya bertanya kepada sang pemilik perahu, ternyata lumba-lumba di sini akan selalu ada. Itu karena memang di sini adalah rumah mereka. Jadi ya hanya dengan satu cara untuk membuktikannya, ayo kita kejar mereka!

Berbekal sekitar Rp 500.000 per perahu, kami di antar sedikit ke tengah laut untuk mengejar lumba-lumba. Dan benar saja, banyak sekali mereka! Ternyata sistem yang digunakan adalah perahu-perahu pengunjung dengan jumlah yang cukup banyak berusaha mengejar kawanan ikan mamalia ini bersama-sama. Jadi seakan-akan lumba-lumba tersebut akan sedikit terkepung. Maka agar lumba-lumba tidak stress karena pengejaran ini, para pemilik perahu menyarankan para pengunjung untuk datang di pagi hari pukul 6.00 WITA, tidak di jam-jam yang lain. Dengan durasi sekitar 1,5 jam, dijamin Anda pasti puas dengan pengalaman baru mengejar lumba-lumba.

____________________________________________________________

This it it! The Dolphin’s Home!

Lovina Beach, Singaraja, Bali, Indonesia.

First time came here made us little bit worry because it’s rainy season. But the boat owner said that this is the dolphin’s home. They will always there, no matter what season is. So, only one way to proof it! Let’s go get them!

With about IDR 500.000 for each boat, we’ve taken to the sea by the boat owner. And it’s right! There was a lot of dolphin there! With other boats, we together tried to cornering them. So, to prevent the dolphin from stress, tourist is suggested to come here only in the morning at 6 am (WITA), not in other time. With 1.5 hours, you gonna be satisfied with this new experience to chase the dolphin!

Bagi saya pribadi, menulis sesuatu dengan tujuan untuk dibaca oleh orang lain haruslah: BERKUALITAS! Well, perlu ditekankan bahwa ini menurut pendapat saya ya. Karena masa-masa sekarang aliran informasi sudah amat sangat cepat. Sebuah artikel dengan riset berhari-hari dapat dengan mudah lewat begitu saja karena derasnya arus informasi yang mengalir. Bayangkan saja, dalam setiap satu menitnya: mesin pencari Google memproses 4 juta kata kunci, ada 2,5 juta update-an status di Facebook, 300.000 kicauan di Twitter, 220.000 foto baru di Instagram, dan ada tujuh puluh dua jam durasi video baru terunggah ke server Youtube. Jika seorang penulis seperti saya hanya menulis sekedar untuk, well, numpang lewat doang, habislah sudah!

Makanya saya menulis bukan sekedar menulis. Dalam setiap satu single artikel yang saya buat, paling tidak saya sudah membaca dua atau tiga sumber informasi. Ini jumlah minimal. Kadang juga puluhan, sampai-sampai saya lupa mencatat dan mencantumkannya di akhir artikel. Biasanya ada satu artikel yang saya jadikan acuan, lalu pengembangan tema seakan sudah “terpetakan” di otak kecil ini. Dengan “peta” yang ada itu seakan jari saya sudah tahu akan menulis ke arah mana. Dengan bantuan mbah Google saya akan mencari sebanyak mungkin informasi yang bisa saya gunakan sebagai materi pendukung. Lalu lanjut deh menulis!

 photo FB161C0D-1780-477F-BC82-42F0471F3606.png.jpeg

Memberikan informasi dengan seakurat dan berkualitas menjadikan artikel-artikel saya, yaaaah, bisa dibilang awet muda lah. Terbukti dari statistik Artikel-Teknologi.com sepanjang 2015 yang menunjukkan justru artikel-artikel lawas bikinan tahun 2011 yang laris manis dibaca. Dengan fakta ini membuat saya konsisten dengan prinsip: Kualitas nomor satu, setelah itu kuantitas yang kedua!

 

Credit: ACI.info