img_3834

“Fuadi menulis tentang perantauan terus,” begitu komentar teman saya di Facebook ketika saya mengunggah foto cover buku ini. Menurut saya, ya memang itu pengalaman dia. Sama seperti saya menulis tentang boiler, turbin, termodinamika, seputaran teknologi pembangkit listrik, ya memang itu pengalaman saya.

A. Fuadi sudah merantau sejak usia belasan, ketika menjelang masuk usia SMA lebih tepatnya. Oleh karena itulah ia sangat ahli menuliskan bagaimana perasaan seorang anak kecil yang ditinggalkan ayahnya di kampung halaman sang ayah.

Singkat cerita, Hepi anak Jakarta sang tokoh utama novel ini dengan terpaksa harus “diungsikan” oleh ayahnya sendiri, Martiaz sang orang tua tunggal, ke kampung halaman Martiaz. Hepi yang tidak naik kelas karena sering membolos menjadi alasan utama keputusan berat ini. Martiaz dengan terpaksa berencana menitipkan Hepi ke rumah kakek neneknya di Tanjung Durian.

Awalnya Hepi tidak mengetahui rencana ayahnya ini. Di musim liburan kenaikan sekolah ia diajak ayahnya pulang ke kampung halaman Martiaz. Tak disangka di saat-saat terakhir mudik mereka, Martiaz justru dengan tega meninggalkan Hepi di Tanjung Durian. Martiaz tidak mengajak Hepi pulang ke Jakarta.

Adegan inilah yang membuat Hepi dendam kepada ayahnya sendiri. Ia merasa tertipu, marah, dan berjanji mengumpulkan uang sendiri untuk membeli tiket pulang ke Jakarta. Ditemani dua teman baru Hepi, Attar dan Zen, mereka membantu Hepi mengumpulkan uang itu.

Berbagai petualangan pun mereka arungi. Termasuk ketika mereka bertiga berhasil meringkus komplotan pencuri yang meresahkan kampung halaman kakek neneknya. Trio inipun menjadi terkenal dan dianggap sebagai pahlawan di kampung Tanjung Durian.

Petualangan tak berhenti di situ saja karena ternyata masih ada masalah lain yang lebih meresahkan ketimbang komplotan pencuri tersebut. Bahkan Hepi bisa saja tewas terbunuh jika Pandeka Luko terlambat menyelamatkannya.

Cerita perkenalan Hepi dengan Pandeka Luko inilah yang menurut saya menjadi inti pesan moral yang ingin disampaikan A. Fuadi. Pergulatan perasaan Hepi yang merasa terbuang karena ia harus dibesarkan tanpa seorang sosok ibu, dan kini harus “dibuang” pula oleh ayahnya, seakan memuncak ketika ia mengobrol dengan Pandeka Luko. Hepi sadar bahwa ternyata ia bukan satu-satunya di dunia ini yang merasa terbuang. Cerita pengalaman hidup Pandeka Luko yang seorang pejuang kemerdekaan dan juga mantan anggota pemberontakan PRRI pada masa itu, menjadi semacam obat luka bagi Hepi.

Pergulatan emosi Hepi dan Pandeka Luko dengan apik diceritakan oleh A. Fuadi. Banyak pesan moral yang dapat diambil dari novel ini, justru ketika keduanya sedang mengobrol di rumah hitam.

Untuk masalah plot cerita, novel ini cenderung datar, satu arah, dan terlalu sederhana. Konflik cerita yang diangkat juga sangat sederhana. Namun demikian, cerita di novel ini masih cocok jika diangkat ke layar lebar. Saya bisa membayangkan film Anak Rantau sangat menarik jika mengisi liburan anak-anak sekolah.

fullsizerender

Atlas Wali Songo (AWS). Banyak yang ingin saya ungkapkan mengenai buku ini. Buku ini termasuk text book. Bukan novel. Bukan pula bacaan ringan. Buku ini padat. Berat. Penuh dengan ilmu sejarah. Jika Anda penasaran bagaimana bisa agama Islam menjadi dominan di negeri ini, buku ini jawabannya.

AWS berusaha menjawab keraguan banyak orang mengenai kebenaran adanya Wali Songo. Karena sesuai dengan apa yang ditulis KH Agus Sunyoto dalam buku ini, sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia berusaha dipelintir oleh oknum tertentu untuk seakan menghilangkan jejak para Wali Songo. Salah satu bukti adalah tidak dicantumkannya sedikit saja perihal Wali Songo di dalam buku Ensiklopedia Islam terbitan Ikhtiar Baru Van Hoeve. Kalau Wali Songo tidak pernah ada, bagaimana mungkin berbagai tempat yang diyakini sebagai makam mereka masih ramai diziarahi oleh umat muslim Indonesia hingga saat ini?

Dalam buku ini penulis menjelaskan dengan sangat detail bagaimana agama Islam disebarkan dengan cara yang amat sangat rapi, terstruktur, sistematis, merasuk ke dalam budaya masyarakat nusantara saat itu yang dikenal memiliki karakter yang cenderung kaku. Dibahas di beberapa bab awal buku ini bagaimana kondisi masyarakat nusantara sebelum masuknya Islam. Ada satu fakta yang akan membuat Anda terkejut.

Saya masih sangat ingat isi pelajaran sejarah ketika kecil dulu yang menyebutkan bahwa agama penduduk pribumi nusantara sebelum masuknya agama Hindu maupun Budha adalah dinamisme dan animisme. Sebuah aliran kepercayaan yang seperti menuhankan benda-benda (dinamisme), atau kepercayaan terhadap para leluhur (animisme). Namun ternyata kepercayaan animisme dinamisme tersebut pada dasarnya adalah sebuah kepercayaan kuno asli nusantara yang belum pernah saya dengar hingga saya membaca buku AWS. Kepercayaan tersebut bernama kapitayan. Dan tahukah Anda bagaimana para pengikut kapitayan ini bersembahyang. Bersiaplah untuk terkejut.

Tata cara sembahyang agama kuno kapitayan mengikuti aturan-aturan khusus. Pertama-tama, ruhaniwan yang sembahyang melakukan Tu-lajeg, berdiri tegak, menghadap Tutu-k (lubang ceruk) dengan kedua tangan diangkat ke atas menghadirkan Sanghyang Taya (simbol tuhan dalam kapitayan) di dalam Tutu-d (hati). Setelah merasa Sanghyang Taya bersemayam di hati, kedua tangan diturunkan dan didekapkan di dada tepat pada hati. Posisi ini disebut dengan Swa-dikep, yang bermakna memegang ke-aku-an diri pribadi. Proses Tu-lajeg ini dilakukan dalam tempo relatif lama. Setelah Tu-lajeg selesai, sembahyang dilanjutkan dengan posisi Tu-ngkul (membungkuk memandang ke bawah) yang juga dilakukan dalam tempo relatif lama. Lalu dilanjutkan lagi dengan posisi Tu-lumpak (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki). Yang terakhir melakukan gerakan To-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut ibunya). Dalam melakukan semua gerakan sembahyang yang dilakukan selama sekitar satu jam itu, para ruhaniwan kapitayan berusaha selalu menjaga keberadaan Sanghyang Taya (Yang Hampa) yang sudah disemayamkan di dalam Tutu-d (hati).

Apakah mulut Anda sedikit terbuka karena terkejut mengingat sesuatu?

Oke… Buku ini memang tidak serta merta langsung membahas mengenai Wali Songo. Penulis berusaha dengan detail membahas bagaimana kondisi geografis nusantara saat itu. Bagaimana kondisi penduduk kuno kepulauan nusantara, hingga darimana nenek moyang kita berasal. Hal ini penting diketahui, untuk menjawab pertanyaan mengapa para penyebar agama Islam saat itu harus menyusun strategi khusus. Bagaimana kondisi penduduk nusantara sebelum memeluk agama Hindu, Budha, hingga Islam, menurut saya dibahas dengan sangat lengkap oleh penulis. Bahkan, menurut hemat saya, nampak lebih lengkap daripada deskripsi bab lain.

Setelah membahas asal muasal penduduk nusantara, bagaimana kondisi budaya dan agama kepercayaan saat itu, barulah KH Agus Sunyoto membahas dengan detail bagaimana Islam masuk ke nusantara. Berawal dengan dijabarkannya para penyebar-penyebar agama Islam sebelum masa Wali Songo termasuk seperti Fatimah binti Maimun, Syaikh Syamsuddin al-Wasil, Sultan Malik ash-Shalih, Syaikh Maulana Malik Ibrahim, Syaikh Jumadil Kubro, Syaikh Ibrahim Samarkandi, Syaikh Hasanuddin “Quro” Karawang, Syaikh Datuk Kahfi, dan Ario Abdillah Palembang. Semua tokoh tersebut dibahas dengan amat detail, lengkap dengan penjelasan dari berbagai versi sumber.

Bab ketiga buku ini membahas kondisi kerajaan nusantara terbesar di masa itu, Majapahit, sebelum masa-masa intens penyebaran agama Islam oleh Wali Songo. Penyebaran agama Islam di nusantara bertepatan dengan semakin kendornya kekuasaan Majapahit. Di awal agama Islam mulai tersebar, banyak pejabat kerajaan Majapahit yang sudah memeluk agama Islam. Mereka tidak dilarang oleh kerajaan, dan justru diberi daerah kekuasaan tersendiri. Kebijakan inilah yang akhirnya menjadi bumerang bagi Majapahit, disamping juga perang perebutan kekuasaan yang tak kunjung usai.

Melalui buku ini pula, KH Agus Sunyoto berusaha meluruskan fakta sejarah penting. Benarkah kerajaan Islam pertama di pulau Jawa adalah Demak? Ternyata salah!

Kerajaan Islam pertama di pulau Jawa adalah kerajaan Lumajang. Jika Demak berdiri di abad 15, kerajaan Lumajang berdiri di kisaran abad 12. Justru berdasarkan sisa-sisa artefak dan ideofak yang ada, Demak adalah kerajaan Islam kelima di Jawa setelah Lumajang, Surabaya, Tuban, dan Giri. Dijelaskan pada bab ketiga buku ini, saat itu kerajaan Lumajang berada di bawah kerajaan Tumapel (Singhasari).

Bab keempat hingga ketujuh Atlas Wali Songo ini membahas dengan cukup lengkap bagaimana para Wali Songo menyebarkan ajaran agama Islam, dan berhasil mengislamisasi penduduk nusantara. Berbagai metode dakwah para wali dibahas dengan lengkap, termasuk melalui jalur politik, pendidikan, budaya, hingga pernikahan. Karakter masing-masing wali dan cara mereka menyebarkan ajaran Islam dibahas mendetail di masing-masing sub-bab. Tak hanya itu, buku ini juga mengungkap bagaimana asal-usul, nazab, serta gerakan dakwah masing-masing wali.

Disebutkan pula pada bab akhir buku ini bahwa pola pendidikan ala pesantren merupakan hasil asimilasi budaya pendidikan Hindu-Budha dengan Islam. Ini adalah salah satu fakta yang membuka mata saya juga. Sebab, budaya pesantren tidak dikenal di negara-negara lain selain Indonesia. Diyakini juga, pola pendidikan pesantren memiliki efek besar terhadap proses Islamisasi penduduk nusantara di samping dakwah melalui jalur kesenian.

Buku ini juga mengungkap bagaimana penyebaran Islam melalui jalur budaya tidak bisa kita lupakan begitu saja. Berbagai adat istiadat yang dikembangkan di jaman kerajaan Demak, banyak yang syarat makna religius, dan oleh karena itulah masih dilestarikan hingga saat ini.

Secara umum menurut saya buku ini sangat bagus. Detail sejarah yang disajikan sangat lengkap. Namun bagi saya, atau Anda, yang menikmati cerita sejarah hanya sebagai sesuatu yang “nice to know” saja, mungkin akan sedikit bosan membaca buku ini. Hal ini tidak lepas dari tujuan utama ditulisnya buku ini yang ingin dibuat sebagai “text book“, untuk meluruskan beberapa sejarah yang sedikit melenceng. Banyak dari buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah, harus direvisi karena beberapa fakta baru yang diungkap oleh KH Agus Sanyoto melalui Atlas Wali Songo.

Buku ini lebih cocok sebagai rujukan bagi para guru sejarah, mahasiswa sejarah, praktisi, serta para sejarawan lain. Namun demikian, siapapun Anda yang menikmati sejarah, memiliki rasa penasaran dengan bagaimana Islam menjadi dominan di Indonesia, bagaimana beberapa adat budaya bisa bernafaskan Islam, ataupun ingin tahu bagaimana sepak terjang para Wali Songo, saya yakin Anda akan menikmati keterkejutan fakta-fakta baru yang menarik di dalam buku ini.