snapseed-4

Sejak adanya Google Street View (GSV), sudah menjadi kebiasaan saya jika akan mengunjungi suatu tempat wisata baru, saya pasti survey lokasinya terlebih dahulu menggunakan GSV. Dengan cara ini saya selalu bisa tahu terlebih dahulu bagaimana medan di sana, bagaimana tempat parkirnya, atau minimal di mana gerbang masuknya.

Nah, kesulitan pun timbul ketika saya ingin menuju ke Benteng Fort Willem I di Ambarawa, salah satu lokasi wisata yang lagi hits di Kabupaten Semarang ini. Melalui GSV ataupun mbah Google, saya tidak berhasil menemukan di mana pintu masuk yang tepat untuk kendaraan roda empat. Kalau roda dua sudah ada beberapa blog yang berbagi lokasi gerbang masuk dari Jl. Kartini Tambakboyo, Ambarawa.

Gapura Benteng: jalur masuk roda dua ke Benteng Fort Willem I (Sumber: Google Street View)

“Malu bertanya, sesat di jalan.” Ungkapan ini tak akan lekang oleh waktu. Setiba saya di Ambarawa dan setelah selesai main ke Museum Kereta Api Indonesia, saya pun mencari informasi bagaimana kendaraan roda empat bisa menuju ke Benteng Fort Willem I. Cukup sekali bertanya, jawaban pun saya dapatkan. Jadi ternyata total ada tiga jalur untuk bisa masuk ke Benteng Pendem.

Jalur Gapura Benteng

Sesuai foto di atas, jalur ini hanya bisa dilewati oleh roda dua. Gerbang masuk jalur ini ditandai dengan sebuah gapura khas berbentuk benteng. Gapura ini bersebelahan dengan RSUD Ambarawa, tepatnya di sisi timur rumah sakit tersebut.

Tepat di tengah-tengah jalan gapura dipasang portal yang membuat jalan ini hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua saja. Jika Anda mencoba survey jalan ini via Google Street View, jalur menuju gapura ini akan nampak ditandai dengan garis biru khas jalur kamera GSV. Namun kamera GSV akan berhenti hanya sampai di depan gapura, tidak masuk terus ke jalan tersebut.

Dari gapura ini, Anda hanya perlu lurus terus masuk mengikuti jalan yang ada. Nanti jalan tersebut akan sedikit menikung ke selatan. Di ujung jalan, Anda akan langsung menemukan gerbang bagian belakang Benteng Pendem.

Gerbang belakang Benteng Fort Willem I

Bangunan tempat parkir yang dikelola warga setempat

Di sisi kanan jalan masuk benteng, ada sebuah bangunan yang dikelola oleh penduduk lokal. Bangunan ini difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan roda dua. Jadi jika di dalam masih ada tempat kosong, sepeda motor Anda bisa diparkir di dalam bangunan tersebut. Biaya parkirnya pun cukup murah, hanya lima ribu rupiah saja.

Jalur Kampung Bugisan

Jalur kedua adalah melewati Kampung Bugisan, Kelurahan Lodoyong. Jalur ini tak jauh dari Gapura Benteng, Anda hanya perlu mengikuti dua tikungan zig-zag di depan gapura ini terus ke arah timur, hingga di kanan jalan Anda menemukan sepasang gapura kembar kecil bertuliskan Bugisan.

Jalan masuk Kampung Bugisan, Ambarawa (Sumber: Google Street View)

Dari sini masuk saja lurus ke selatan sampai mentok, lalu belok kiri hingga menemukan persimpangan gang lagi di kanan jalan. Di persimpangan ini belok saja ke kanan, lurus terus hingga mentok. Dari sini Anda tinggal belok kiri lagi mengikuti jalan hingga menemukan gerbang belakang Benteng Pendem seperti di jalur Gapura Benteng.

Jalur ini cukup lebar, sehingga kendaraan roda empat bisa melewatinya. Nanti di gerbang belakang benteng, Anda tinggal parkir saja di halaman depan bangunan parkir roda dua yang sudah saya sebut di jalur sebelumnya.

Jujur saja, saya tidak mencoba jalur ini. Saya hanya mengetahui jalur ini dari penduduk setempat yang mengelola tempat parkir gerbang belakang benteng.

Jalur Markas TNI-AD Batalyon Kavalery 2 Turangga Ceta

Nah, jalur inilah yang menurut saya paling recomended. Jalur ini jelas bisa dilewati oleh kendaraan roda empat, apalagi roda dua. Namun tentu saja ada beberapa hal yang wajib Anda perhatikan karena via jalur ini Anda akan memasuki kawasan militer TNI Angkatan Darat.

Gapura Masuk Markas TNI-AD Batalyon Turangga Ceta (Sumber: Google Street View)

Gerbang masuk markas Batalyon Turangga Ceta tak jauh dari Museum Kereta Api Indonesia. Hanya 100 meter ke arah selatan, Anda akan menemukan persimpangan jalan raya. Beloklah ke kanan dan lurus saja sedikit hingga di kiri jalan Anda menemukan gapura besar penanda markas TNI-AD ini.

Di gerbang ini Anda diwajibkan untuk melapor ke Provost atau petugas yang sedang berjaga. Turunlah dari kendaraan Anda, dan saran saya, jagalah kesopanan Anda.

Di pos ini Anda akan diminta untuk mengisi buku tamu. Tak hanya itu, kartu identitas Anda juga akan ditahan sementara Anda masuk ke kawasan ini. Oleh petugas yang berjaga, Anda akan diingatkan untuk terus selalu membuka kaca mobil Anda. Selain itu, Anda juga diminta untuk menjaga kesopanan selama berada di kawasan Benteng Pendem. Hal ini dikarenakan masih ada beberapa ruang di benteng ini yang digunakan sebagai tempat tinggal petugas lembaga pemasyarakatan.

Dari pos pemeriksaan depan, Anda hanya perlu mengikuti jalan yang ada, lurus terus sampai Anda menemukan gerbang depan benteng. Gerbang depan benteng ini ditandai dengan adanya papan bertuliskan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Ambarawa. Dari sini Anda diminta untuk memarkir kendaraan Anda di bawah pohon beringin yang ada di sisi kanan gerbang benteng.

Gerbang depan masuk kawasan Lapas Ambarawa dan Benteng Fort Willem I

Sedikit perlu saya tambahkan di sini adalah bahwa Benteng Fort Willem I merupakan bangunan yang masuk kawasan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Ambarawa. Namun menurut informasi yang beredar, semua bangunan tersebut masih aset milik Kodam IV/Diponegoro.

D13DF56B-FE3D-4F86-8157-A698179654D6

Beberapa waktu yang lalu saya dan istri berwisata ke Jawa Tengah, khususnya ke Kota Semarang. Namun kami memang sengaja untuk tidak langsung ke Semarang. Kami sempat mampir ke Kota Kudus dan Demak, dua kota yang masuk jalur pantura jika dari arah Surabaya menuju Semarang.

Satu tujuan wisata ke Kota Kudus yang kami kunjungi adalah Masjid Menara Kudus. Sebuah masjid bersejarah peninggalan dari Sunan Kudus, salah seorang anggota Wali Songo. Alasan utama kami ingin mengunjungi masjid ini tentu saja adalah bangunan bersejarahnya yang sangat artistik.

D13DF56B-FE3D-4F86-8157-A698179654D6

Masjid yang dibangun di tahun 1549 M ini memiliki sebuah menara ikonik yang berbentuk ala candi Hindu-Jawa jaman Kerajaan Majapahit. Namun jika kita amati lebih mendetail, menara ini menggabungkan tiga kultur penting yakni Hindu-Jawa, Cina, dan Islam.

Budaya Hindu-Jawa tentu sangat kentara dengan bentuk menara yang menjulang ke atas, dengan bahan bangunan khas bata merah. Budaya Cina nampak ikut menghiasi menara ini dengan ditandai adanya 32 piring hias yang menempel di dinding menara. Sedangkan budaya Islam, tentu saja nampak dari lafadz Allah yang ada di puncak menara.

Nah, satu kendala untuk berkunjung ke masjid yang beralamatkan di Jl. Menara, Kudus ini adalah ketika saya survey untuk mencari lokasi parkir roda empat. Beberapa kali saya menggunakan fasilitas Google Street View namun belum juga menemukan solusi. Justru yang ada di data Google adalah lokasi parkir untuk bus dan sepeda motor.

Beruntung saya punya seorang teman asli Kota Kudus. Setelah saya hubungi dia, ternyata lokasi parkir roda empat untuk pengunjung Masjid menara tidaklah sulit. Kita bisa parkir di sepanjang Jalan Sunan Kudus, namun yang sisi sebelah barat saja. Tepatnya sejak perempatan Jl. HM Subchan ZE – Jl. Sunan Kudus, hingga ke timur sampai batas gang Jl. Menara. Dari gang Jl. Menara ke timur, tidak diperbolehkan untuk parkir karena ada tanda dilarang parkir.

Untuk lebih jelasnya silahkan lihat di gambar di bawah ini.

2205CA79-10D4-4A89-A966-24324477BB45

Untuk memudahkan, saya sarankan Anda untuk memasukkan kata kunci Omah Batik Sabrina di mesin pencari GPS Anda. Lokasi toko ini tepat di Jl. Sunan Kudus dan dekat dengan gang masuk Jl. Menara.