45952FEA-D540-4C55-B240-F47E7EEAE1D0

Saya tidak bisa tidur. Pikiran saya terus berputar. Buku ini wajib saya praktekan!

Membaca buku ini seperti menemukan banyak jawaban dari berbagai pertanyaan yang ada di kepala saya. Semenjak berniat lompat kuadran, berbagai informasi yang saya serap dari berbagai buku dan para mentor benar-benar membuat kepala pening. Psikologi konsumen, WOW Marketing, #MO, ketiga pokok permasalahan marketing itu seperti saling membelit dan mengunci. Jika berhasil diuraikan, pasti strategi marketing yang paling pas bisa saya dapatkan. Dan ternyata, buku berjudul Contagious ini menjadi salah satu jawabannya.

Contagious jika diartikan ke Bahasa Indonesia adalah menular atau getok tular. Apa bedanya dengan viral? Viral lebih terjadi di dunia maya. Sedangkan getok tular terjadi di dunia nyata, dimana suatu gagasan atau produk menjadi buah bibir banyak orang.

Ada satu fakta unik yang diungkap oleh Jonah Berger, sang penulis buku ini. Ia mengungkap sebuah kenyataan bahwa komunikasi yang kita lakukan melalui jalur online (baik telepon, internet, sms, dll) hanya sebanyak 7% dari keseluruhan aktifitas komunikasi kita.

What?! Seriously?! Seharian megang hape cuman dihargai 7% doang?

Ya! Begitulah faktanya. Sesuai dengan yang diungkap Berger dari sebuah hasil riset yang bisa dipertanggungjawabkan.

Maka dari itu Berger menganggap — dan saya setuju — bahwa pembicaraan secara offline, mengobrol dengan orang lain, membicarakan sesuatu, masih menjadi sesuatu yang berpengaruh di kehidupan kita. Membicarakan kecelakaan antara bus dan truk yang terjadi di jalan raya depan rumah Anda masih menjadi buah bibir yang menarik untuk Anda ceritakan kepada rekan kerja Anda.

Maka dari itu, memiliki gagasan, produk, atau bahkan toko yang bisa menjadi buah bibir di masyarakat sekitar area toko tentu akan menjadi model marketing yang sangat hebat. Itulah yang dibahas di buku ini.

Contagious: Rahasia di Balik Produk dan Gagasan yang Populer, membahas dengan amat sangat bagus, apa-apa yang Anda butuhkan untuk membuat produk, gagasan, atau apapun yang Anda inginkan menjadi buah bibir manis di masyarakat.

Berger menjelaskan ada enam hal kunci yang menjadi syarat agar sebuah gagasan atau apapun menarik untuk dijadikan buah bibir:

  1. Social Currency (Mata Uang Sosial)
  2. Triggers (Pemicu)
  3. Emotion (Emosi)
  4. Public (Umum)
  5. Practical Value (Nilai Praktis)
  6. Stories (Cerita/Narasi)

Berger menyingkatnya menjadi STEPPS agar kita lebih mudah mengingatnya.

Keenam hal tersebut tidak harus dipenuhi semua agar sebuah gagasan bisa menjadi buah bibir yang viral. Cukup satu, dua, atau tiga, atau kalau bisa keenam-enamnya. Karena disebutkan jika sebuah ide memenuhi keenam sifat tersebut, maka kemungkinan untuk digetoktularkan secara alami akan semakin besar.

Lalu apa sajakah maksud dari keenam syarat di atas? Sayang sekali saya tidak ingin menjelaskan lebih detail, karena tentu saja akan lebih mandes kalau Anda membaca langsung buku ini. Tapi setidaknya secara singkat Anda bisa membaca dari sebuah ilustrasi di bawah ini yang saya ambil langsung dari blog Jonah Berger.
E778AB76-4EEB-4192-9693-46678F9DAA6F
Yang selalu ada dibenak saya ketika membaca buku ini adalah bahwa isi dari buku ini seakan berhasil menjadi titik temu antara WOW! Marketing yang dipopulerkan oleh Hermawan Kartajaya, dengan #MO dari Prof. Rhenald Kasali.

Bagaimana bisa membuat WOW konsumen, dijawab di buku ini. Bahkan saya merasa buku ini lebih mengena, karena Berger selalu menyoroti sisi psikologis konsumen.

Semua teori yang diungkap di buku ini berdasarkan hasil riset yang kredibel. Bukan hanya berdasarkan gagasan atau ide saja yang ambyar, namun selalu didukung oleh berbagai riset yang sangat bermutu.

Maka dari itu, saya benar-benar ingin mempraktekkan STEPPS. Dan semoga selalu berhasil! Aamiin..

Salam Dahsyat! 👊

1A30151C-4FC6-4F98-AAC9-A4A084AEB3D1

Saya mulai menulis blog sejak 2010. Berawal dengan menggunakan jasa wordpress.com.

Tahun 2011 muncul niatan untuk meng-uang-kan tulisan-tulisan saya. Maka munculah keinginan untuk memiliki domain dan hosting sendiri.

Maka saya berkenalan dengan Rumahweb. Kenal, tertarik, saling mengikat, dan saling mendukung hingga lebih dari delapan tahun.

Namun apakah harus sampai di sini?

Suatu ketika, traffict Artikel-Teknologi.com meningkat pada bulan September 2019. Dalam satu bulan itu saja ada 101.946 halaman dibuka oleh 52.578 pengunjung. Sebenarnya, jumlah tersebut masih kalah dengan bulan Maret di tahun yang sama, dengan total jumlah pengunjung mencapai 62.053 orang untuk membaca sebanyak 106.822 halaman artikel.

Nah, masuk ke bulan Oktober, lalu lintas berlanjut naik. Puncak terbanyak terjadi di tanggal 9 Oktober 2019 dengan jumlah pengunjung pada hari itu sebanyak 3.617 orang, untuk membaca sebanyak 5.829 halaman artikel.

Beban puncaknya — sedikit meminjam istilah PLN — terjadi pada tanggal tersebut di sekitar pukul 8.00 hingga 9.00 malam dengan jumlah akses pengunjung sebanyak 301 orang untuk membuka 520 halaman artikel. 5 pengguna per menit, dengan hampir 9 halaman dibuka, per menitnya, secara bergantian.

Kondisi inilah yang mengganggu salah satu pihak: Rumahweb.

15 Oktober 2019 saya mendapat email yang, sedikit menyesakkan bagi saya, yang menyebutkan bahwa dengan terpaksa Rumahweb harus men-suspend website Artikel-Teknologi.com karena menggunakan resource terlalu besar, sehingga mengganggu pengguna lain.

Menurut mereka, menggunakan resource berlebih menyalahi TOS Rumahweb. Saya paham masalah ini. Niat bermanfaat untuk orang lain kan juga harus tau kewajiban untuk menghargai orang lain.

Rumahweb sempat menangkap adanya indikasi hacking terhadap situs Artikel-Teknologi.com. Suspend kembali diaktifkan —setelah sebelumnya suspend dicabut karena penggunaan resource sudah kembali normal—, lalu merekapun menawarkan bantuan untuk mengupgrade versi wordpress terbaru agar tidak ada lagi kode-kode asing menempel. Saya pun setuju.

Selepas upgrade wordpress, suspend dibuka, tapi penggunaan resource kembali tinggi. Sehingga Rumahweb memberi saran agar saya upgrade menggunakan VPS minimal paket yang Silver. Jualan? Saya anggap angin lalu sih ketika itu, karena saya langsung tolak tawaran itu. Mahal Pak! Rp 920.000 per bulan, belum termasuk CPanel lagi! 😰

Kemudian dibantu sohib IT saya, kami mengecek semua celah. Bersih-bersih CPanel sana-sini. Deactivated semua plugin. Tapi hasilnya masih sama. Ketika blokir Rumahweb dilepas, resource selalu tinggi.

Saya pun stuck. Saya endapkan masalah ini sementara, karena bebarengan juga sohib saya tadi sedang berbahagia, putri pertamanya lahir. Alhamdulillaah,, rejeki Allah SWT ga kemana. Sekali lagi selamat ya bro! 😘👍

Dua minggu berselang, waktu yang lebih dari cukup untuk menggusur Google PageRank Artikel-Teknologi.com. Tapi sungguh tidak ada sedikitpun rasa menyesal yang ada di hati saya tentang hal ini. Saya juga heran kenapa. Mungkin juga karena udah kadung ikhlas. Kalo sudah ikhlas ingin berbagi manfaat melalui ilmu yang ditulis, ya sudah, pasti Semesta Mendukung. InsyaAllah.

Selanjutnya kami kembali cek Artikel-Teknologi.com. Setelah kembali bersih-bersih, blokir Rumahweb kami minta untuk dibuka. Hasil mengejutkan kami dapatkan, penggunaan resource masih tinggi. Selidik-menyelidiki, alasan traffict masih menjadi yang utama. Aneh juga, padahal pagerank dah terjun bebas.

Kami pun memutuskan untuk mencoba menggunakan paket hosting yang lebih tinggi. Jika selama ini saya menggunakan paket hosting Profesional 1GB, maka pada tanggal 5 November 2019 kami naikkan ke paket hosting Enterprise 3GB.

Hasilnya? Penggunaan resource masih saja overlimit.

Saya pun ingin membuktikan, apakah ini benar karena traffict?

Saya buka Google Analytics, dan ternyata, tidak ada tracking dari GA. Lalu kami cek script code di bagian header theme wordpress yang aktif. Nihil. Tracking code GA maupun Google Adsense tidak ada. Hilang. Entah bagaimana bisa hilang, karena jelas upgrade wordpress yang dilakukan sebelumnya tidak akan mengubah isi code di dalam tema wordpress yang kita gunakan.

Tapi, bukan itu yang membuat saya agak jengkel.

Saya tidak bisa mengedit file script header, atau file .php apapun di balik layar Artikel-Teknologi.com. Baik via cpanel maupun halaman wp-admin, file-file apapun tidak bisa kami edit.

Terblokir. Oleh? Entahlah siapa. Saya tidak tahu, tidak pernah ada klarifikasi dari siapapun.

Tapi ketika kami meminta Rumahweb untuk mengecek, gembok misterius itu lalu hilang.

Jadi?! Ah, sudahlah! Tidak usah diperpanjang.

Selanjutnya saya pasang snippet code Google Analytics sekaligus Adsense. Dan ternyata benar, setiap penggunaan resource tinggi, maka pengunjung real-time yang dibaca oleh GA, juga tinggi.

Oke fix! Traffict!

Strategi selanjutnya saya berniat untuk naik kelas lagi pakai VPS. Awalnya saya berencana pilih VPS di Rumahweb yang paling murah: VPS Value, plus CPanel-nya sekalian.

Saya ajukan niatan itu ke bagian billing Rumahweb. Ternyata kata mereka, VPS yang bisa diinstall CPanel minimum yang VPS Deluxe. Okelah, saya setuju. Toh juga selisihnya tidak terlampau banyak.

Invoice-pun mereka terbitkan. Total invoice untuk paket VPS Value plus CPanel, setelah dikurangi sisa biaya langganan hosting bulanan yang masih belum jatuh tempo, adalah sebesar Rp 498.890. Sekedar info saja, kalo berlangganan per bulan VPS Value+CPanel ini berlanjut, maka tagihan per bulan adalah sebesar Rp 582.890, sudah termasuk ppn.

Invoice langsung saya bayar. Konfirmasi pembayaran saya lakukan. Email balasan dari Rumahweb pun masuk. Dan begini isinya:

Salam,
Kami cek pembayaran telah kami terima, mohon maaf atas kesalahan info sebelumnya untuk paket deluxe menurut rekan teknis kami untuk paket deluxe belum bisa mengunakan cPanel namun bisa mengunakan plesk panel, agar mengunakan cPanel minimal bisa dengan paket Premium ke atas.

Mohon konfirmasinya apakah akan mengunakan paket apa agar dapat kami tindak lanjuti.

Jabat Erat,

Rumahweb Indonesia

Terimakasih Rumahweb! Kepala saya pecah! Dada pun nyesek! 🤯