UnMarketing

Sebelum saya mengajak Anda membahas buku ini, saya ingin menyampaikan satu hal. Sebuah nasehat kecil sebenarnya. Nasehat ini saya tujukan yang utama untuk diri saya pribadi, tapi jika konsep ini cocok untuk Anda, silahkan pakai.

Saya ingin mengajak Anda untuk lebih objektif dalam menilai sesuatu. Sesuatu hal yang nampaknya itu jelek, bahkan jelek itu adalah penilaian pribadi Anda, belum tentu yang Anda anggap jelek itu dianggap jelek oleh orang lain. Demikian pula sebaliknya, ketika Anda menilai sesuatu itu baik, indah, cantik, belum tentu orang lain sependapat dengan Anda. Maka, bijaksanalah dalam menilai sesuatu.

Mengapa saya menyampaikan hal ini, karena buku yang akan kita bahas sekarang tidak semua orang cocok. Saya pun tidak cocok dengan buku ini. Bukan isinya, isinya sangat bagus, tapi cara penyampaiannya yang nggak pas bagi saya. Tapi saya bisa bilang dengan sangat yakin, di luar sana pasti ada yang cocok dengan konsep buku ini. Siapa mereka?

Para Ekstrovert. Mereka adalah orang-orang sosial. Awas! Bukan sosialis lho ya, tapi sosial. Orang-orang yang super mudah berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa sederhananya supel. Tapi lebih dari supel kalo menurut saya. Mereka ini nggak bisa banget kerja sendirian. Mereka ini mending keluar ruang ngobrol dengan seseorang, daripada harus sibuk mengolah data di depan komputer.

Nah. Buku Unmarketing ini ditulis oleh seorang yang sangat ekstrovert. Scott Straten adalah seorang yang sangat ekstovert. Dari gaya penulisannya, konsep dia berpikir mengenai marketing, cara dia bercerita, sangat kelihatan kalau Scott adalah seorang ekstrovert. Dan karena karakter dasar saya adalah introvert, maka, ya begitulah, saya kurang cocok dengan buku ini.

Namun saya juga berani bilang bahwa bagaimanapun, pasti ada ilmu berharga dari pengalaman orang lain. Apalagi jika pengalaman itu sudah tertulis jadi sebuah buku. Tak terkecuali buku Unmarketing ini.

Berikut adalah beberapa poin berharga yang bisa saya ambil dari buku ini:

  1. Jangan jualan, tapi jalin ikatan. Kalo kata kang Dewa konsumen itu nggak suka dijualin tapi sukanya diceritain, maka lain dengan Scott. Scott beranggapan bahwa konsumen itu nggak suka dijualin, tapi sukanya dijalin. Menurut Scott, satu cara paling tepat untuk mengubah calon pembeli menjadi pembeli adalah dengan menjalin ikatan komunikasi aktif.
  2. Scott sangat membenci pemasaran dengan metode Cold Calling. Saya yakin Anda pernah mengalami hal ini. Nomor tidak Anda kenal masuk ke layar ponsel Anda, dan ketika Anda angkat ternyata menawarkan kartu kredit, atau produk apapun yang Anda tidak pernah tahu kapan mereka menemukan nomor ponsel Anda. Dan menurut saya, maaf jika mungkin ada dari Anda yang tersinggung, salesman door-to-door juga masih satu jenis dengan cold calling. Secara pribadi saya sangat setuju dengan hal ini, karena jualan butuh kepercayaan. Kalo baru sekali langsung dijualin, biasanya pembeli mau beli itu karena (maaf) kasihan. Butuh satu komponen penting dalam perdagangan, kepercayaan. Dan kalau menurut Scott, membangun kepercayaan itu harus melalui obrolan yang intens. Masuk akal kan?
  3. Twitter. Scott sangat menyarankan media sosial Twitter sebagai media pemasaran dibandingkan medsos lain seperti Facebook, LinkedIn, dan Google+. Ups, tapi maaf Google+ sudah berakhir masa bhaktinya. Sedangkan Instagram belum lahir ketika buku ini ditulis. Hehehe,, Maka dari itu mungkin ada saja pembaca yang agak kecewa dengan isi buku ini. Tapi satu yang perlu diingat bahwa Scott adalah seorang Super Ekstrovert. Ia sangat suka mengobrol, dan jika Anda paham dengan Twitter, medsos ini sangat cocok dengan para ekstrovert untuk berselancar mengumpulkan teman. Bahkan jika Anda belum menyadarinya, lebih banyak berita viral dari Twitter yang kemudian di-capture dan dibagikan di Facebook, daripada sebaliknya. Ini juga yang membuat Scott sangat menyarankan agar kita menggunakan Twitter untuk menjalin hubungan.
  4. Masih seputar Twitter, dan buku ini memang menggunakan Twitter sebagai contoh, dan Scott menunjukkan banyak tips tentang bagaimana menjalin komunikasi yang baik dengan calon pelanggan. Dan sekalipun mungkin bagi sebagian orang Scott terlalu berlebihan mengidolakan Twitter, tips yang ia bagi masih sangat relevan dengan medsos lainnya. Seperti misal larangan darinya untuk menggunakan bot di twitter, sehingga cuitan yang ada harus jujur manusia yang membuat.
  5. Ada satu bab yang membuat saya terkesan adalah ketika Scott memberi contoh apa yang dilakukan oleh toko peralatan mandi kenamaan Lush dalam menjalin ikatan dengan pelanggan. Ia menceritakan pengalaman pribadinya ketika pertama kali masuk ke toko ini. Ketika itu ia didatangi oleh salah satu pramuniaga Lush yang menyapanya dengan amat ramah, sangat pintar dan cair dalam membangun koneksi dengan orang lain. Lalu dengan santai dan bebas intimidasi, sang pramuniaga tersebut mengajak Scott tour berkeliling toko sambil memperkenalkan produk-produk andalan Lush. Dengan cara ini lembut ini, Scott yang awalnya tidak berniat untuk membeli sesuatu, pada akhirnya membawa pulang beberapa sabun cair dan lilin aroma terapi.

Masih banyak tips yang dibagikan oleh Scott Stratten melalui buku ini. Mungkin bagi sebagian orang buku ini tidak rapi tata urutannya. Tapi memang basic Scott adalah blogger, sehingga bab demi bab dari buku ini kebanyakan ia tulis spontan saja.

Namun demikian buku ini menurut saya masih dalam kategori masuk akal, dan jika Anda memiliki banyak waktu luang, buku ini masih layak untuk mengisi waktu kosong Anda. Atau mungkin justru Anda adalah seorang ekstrovert yang sedang belajar marketing, buku ini sangat pas untuk Anda baca.

Singkat kata, menurut saya, tidak ada di dunia ini buku yang jelek. Yang ada hanyalah cocok, atau tidak dengan cara berpikir pembacanya.

Akhir kata, mari kita jalin hubungan. Silahkan follow akun instagram saya 👉 @onny, dan mari kita berteman.

Sampai jumpa di instagram. 👋🏻