Tukar Telkomsel Poin dengan Voucher Gramedia

[Update Desember 2018]

Maaf beribu maaf kepada para pembaca postingan remeh ini. Karena nampaknya tahun ini saya tidak sendirian yang gagal menukarkan poin telkomsel menjadi voucher Gramedia.

Tahun ini memang gila! Dalam artian penukaran voucher Gramedia laris manis. Awal Desember lalu saya berniat menukarkan poin tapi ternyata di aps My-Telkomsel sudah raib. Tak perlu dipertanyakan apa penyebabnya karena jelas sudah banyak yang ‘melek’ poin. Kalo saya boleh ge-er mungkin juga karena tulisan remeh saya ini. Hehehee..

Tapi tenang wahai para pemburu voucher, nampaknya Telkomsel ingin memuaskan pelanggannya dengan menyediakan kembali voucher Gramedia. Namun tentu dengan format yang sedikit berbeda.

Khusus penukaran voucher Gramedia menggunakan Telkomsel Poin, sejak beberapa minggu ini dibuka setiap hari tepat pukul 10.00 WIB pagi, dengan jumlah kuota yang dibatasi oleh pihak Telkomsel. Hal ini tentu bertujuan untuk memeratakan jumlah voucher yang disediakan oleh Telkomsel. Entah berapa jumlah kuota per harinya, tapi jelas ini membuktikan bahwa semakin banyak orang yang suka baca buku.

Terimakasih buat Mas Andika yang sudah berbagi info tersebut di kolom komentar tulisan saya ini.

Dan buat Kamu yang sedang berburu voucher Gramedia: Semoga beruntung! Dan jika ada pegalaman lain, yuk berbagi di kolom komentar!

______________________________________________________________________

[Tulisan asli: 17 Desember 2017]

Telkomsel Poin Anda menumpuk di akhir tahun?

Sama…

Hahahahaa…

Dari tahun ke tahun selalu terjadi penumpukan akut t-poin. Dan dari tahun ke tahun pula saya selalu salah memanfaatkannya: ikut undian t-sel poin. Yang tentu saja, berakhir dengan ga dapat apa-apa. Wakakaka… Apa Anda juga mengalami hal yang sama?

Beruntung tahun ini tidak ada gembar-gembor lagi yang namanya undian t-poin. Jadinya saya kudu cari alternatif lain make poin-poin ini. Lha gimana lagi, poin t-sel saya bisa dibilang, banyak. Ada dua kartu halo yang saya piara. Dua-duanya kedaftar pakai paket halo kick yang 150rb. Otomatis tagihan per bulan pasti di atas 165rb (setelah ditambah pajak). Bahkan kadang tagihan salah satunya bisa ampe 200rb pas bulan-bulan sibuk. Ostosmastis, per bulan minimal dapat 100 t-sel poin. Jadi total, setelah ditambah dengan poin pembayaran bulan ini, hingga Desember 2017 ini, si halo 1 dapat poin 1503, dan si halo 2 poinnya 1839. Jadi total 3342 poin. Istimewahh



Berburu voucher pun seketika terhenti di pilihan voucher gramedia. Naaaah,, ini nih sasaran saya! Tukar 350 poin, dapat voucher senilai 50.000 rupiah. Lumayan ini kalo bisa belanja pake voucher doang. Total kan jadi punya voucher 450rb rupiah.

Tapi sempet ragu sih, apa bisa vouchernya digabung-gabung gitu. Sempet browsing sana-sini dan nemu blog lain juga yang cerita kalo semua itu bisa! Banyak voucher bisa dipake di satu kali pembelian. Bahkan ada yang bilang voucher yang ditukarkan dari beda pemilik t-sel poin bisa dipake jadi satu juga. Wah,, wenak tenan ini.

Daripada berlama-lama, langsung nekat saya ngajak istri berangkat ke Surabaya. Langsung meluncur ke Tunjungan Plaza. Putar-putar bentar, tengok sana-sini. Sempet anter istri belanja dikit di Matahari. Dan akhirnya sampai juga di Gramedia TP 1 lantai 4.

Sesampai di sana langsung tanya si mas-mas gimana ini vouchernya. Dan ternyata bener! Beberapa voucher senilai masing-masing 50.000 rupiah hasil penukaran t-sel poin, bisa digabungkan jadi sekali pembelian. Mantab to! Langsung deh saya berburu buku. Tengok sana-sini awalnya saya pengen beli ‘Disruption’-nya Om Rhenald Khasali. Trus ada lagi satu buku baru karya beliau lanjutan Disruption, judulnya ‘Tomorrow is Today’. Tapi kok ya mood saya lagi pengen baca novel. Lagi ga pengen baca yang terlalu berat.

Sebetulnya inti dari apa yang sering disampaikan Om Rhenald di buku beliau ini sudah mulai dibahas di buku sebelumnya yang saya baca: ‘Cracking Zone’. Bahwa dunia ini semakin super dinamis. AMAT SANGAT DINAMIS! Bahkan jika kita yang awam saja, yang mungkin tidak terlalu jatuh terjun ke dunia bisnis, jika hanya diam dan tidak mengambil antisipasi, bisa dipastikan tenggelam. Kenapa bisa demikian? Lha wong, mereka-mereka yang kita kenal dengan generasi milenial, yang lahir di era 2000-an ke atas, sudah punya dunia yang berbeda. Pemikiran yang berbeda. Prinsip hidup beda. Bahkan mereka lebih memprioritaskan piknik daripada beli rumah. Ini fakta lho! Coba aja googling masalah ini. Pemerintah sudah menyadari kok masalah ini.

Nah, itulah kenapa kita ga bisa diem aja. Kudu siap sama dunia yang switching-nya super dinamis cepat ini. Itu yang saya pahami. Dan pemahaman inilah yang membuat saya belok dari buku-buku Om Rhenald, ke novel-novel saja lah. Yang enteng-enteng dulu saja. Hahahahaa,,,

Akhirnya saya pilih novelnya Pakde Dan Brown. ‘Deception Point’. Sama satu novel dia yang sebenarnya sudah saya baca, dari minjem, yang akhirnya kebeli juga, ‘The Da Vinci Code’. Novel ini cocok buat mereka yang belum pernah baca karya Dan Brown, tapi pengen memulainya. Saya sarankan baca dulu Da Vinci Code. Jangan langsung ke ‘The Lost Symbols‘. Bisa-bisa ga nututi ntar ama cerdasnya seni bercerita ala Dan Brown yang penuh fakta teori konspirasi. Ato jangan juga memulai dengan ‘Inferno’, karena Anda akan dibuat jengkel oleh akhir kasus Robert Langdon di episode ini: sangat tragis…

Satu novel lain yang saya pilih adalah ‘Anak Rantau’ karya Mas Ahmad Fuadi. Penasaran dengan gimana cerita lain dari dia. Satu lagi buku yang ternyata, agak serius, ‘Atlas Wali Songo’. Baca judul buku ini aja saya jadi pengen mendalami gimana sih sebenernya para pejuang Islam pertama di Indonesia ini. Terakhir baca-baca sih, mereka adalah utusan dari kekhalifahan Turki Utsmani pada jaman itu. Yaaa,, mari kita buktikan. Nanti saya sempatkan buat resensinya tipis-tipis.

Oke dah,, dapat total empat buku. Setelah saya hitung kasar kira-kira dah lebih lah kalo 450.000. Lumayan juga. Hampir setengah juta. Hahahaa,, luebay

Tukar Telkomsel Poin dengan Voucher Gramedia

Lanjut saya ke costumer service Gramedia dulu. Bilang kalo mo tuker telkomsel poin dengan voucher. Tapi sebelumnya sih saya sudah reedem semua vouchernya. Jadi nanti di CS ini, si mas-nya, akan mengaktifkan voucher kita, dan mengisi semacam kertas voucher dadakan yang di dalamnya ada kode voucher, nomor hp, nama kita, dan nominal nilai vouchernya. Tapi sorry juga ya, ga sempat saya foto kertas vouchernya.



Setelah semua voucher kita pegang, saya sudah pegang 9 voucher, lanjut saja ke kasir buat bayar apa yang kita beli. Di kasir langsung saja voucher kita kasih ke mbak kasirnya. Nanti di akhir proses pembayaran, semua voucher akan diinputkan ke komputer kasir. Dan inilah proses yang agak lama, dan bikin antrian di belakang saya jadi agak panjang. Karena mbak kasirnya ternyata harus input manual dengan mengetik satu-satu kode voucher yang ada ke komputer kasir, sehingga total pembayaran terkurangi 50.000 setiap kode voucher masuk, sampai semua kode voucher terinput. Saya ampe minta maaf ke si mbak kasir karena harus input manual sembilan kode voucher. Ya, namanya pelayanan ya, si mbak sih sambil senyum-senyum manis bilang gapapa. Hehehehee..

Tapi semua proses antri dan tetek bengek itu sepadan kok, sangat sepadan, bahkan lebih dari sepadan. Lha gimana nggak? Wong belanja total 492.000 rupiah, cuman harus bayar 42.000 doang. Hahahahaa,, penak tenan!

Tukar Telkomsel Poin dengan Voucher Gramedia

snapseed-4

Sejak adanya Google Street View (GSV), sudah menjadi kebiasaan saya jika akan mengunjungi suatu tempat wisata baru, saya pasti survey lokasinya terlebih dahulu menggunakan GSV. Dengan cara ini saya selalu bisa tahu terlebih dahulu bagaimana medan di sana, bagaimana tempat parkirnya, atau minimal di mana gerbang masuknya.

Nah, kesulitan pun timbul ketika saya ingin menuju ke Benteng Fort Willem I di Ambarawa, salah satu lokasi wisata yang lagi hits di Kabupaten Semarang ini. Melalui GSV ataupun mbah Google, saya tidak berhasil menemukan di mana pintu masuk yang tepat untuk kendaraan roda empat. Kalau roda dua sudah ada beberapa blog yang berbagi lokasi gerbang masuk dari Jl. Kartini Tambakboyo, Ambarawa.

Gapura Benteng: jalur masuk roda dua ke Benteng Fort Willem I (Sumber: Google Street View)

“Malu bertanya, sesat di jalan.” Ungkapan ini tak akan lekang oleh waktu. Setiba saya di Ambarawa dan setelah selesai main ke Museum Kereta Api Indonesia, saya pun mencari informasi bagaimana kendaraan roda empat bisa menuju ke Benteng Fort Willem I. Cukup sekali bertanya, jawaban pun saya dapatkan. Jadi ternyata total ada tiga jalur untuk bisa masuk ke Benteng Pendem.

Jalur Gapura Benteng

Sesuai foto di atas, jalur ini hanya bisa dilewati oleh roda dua. Gerbang masuk jalur ini ditandai dengan sebuah gapura khas berbentuk benteng. Gapura ini bersebelahan dengan RSUD Ambarawa, tepatnya di sisi timur rumah sakit tersebut.

Tepat di tengah-tengah jalan gapura dipasang portal yang membuat jalan ini hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua saja. Jika Anda mencoba survey jalan ini via Google Street View, jalur menuju gapura ini akan nampak ditandai dengan garis biru khas jalur kamera GSV. Namun kamera GSV akan berhenti hanya sampai di depan gapura, tidak masuk terus ke jalan tersebut.

Dari gapura ini, Anda hanya perlu lurus terus masuk mengikuti jalan yang ada. Nanti jalan tersebut akan sedikit menikung ke selatan. Di ujung jalan, Anda akan langsung menemukan gerbang bagian belakang Benteng Pendem.

Gerbang belakang Benteng Fort Willem I

Bangunan tempat parkir yang dikelola warga setempat

Di sisi kanan jalan masuk benteng, ada sebuah bangunan yang dikelola oleh penduduk lokal. Bangunan ini difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan roda dua. Jadi jika di dalam masih ada tempat kosong, sepeda motor Anda bisa diparkir di dalam bangunan tersebut. Biaya parkirnya pun cukup murah, hanya lima ribu rupiah saja.

Jalur Kampung Bugisan

Jalur kedua adalah melewati Kampung Bugisan, Kelurahan Lodoyong. Jalur ini tak jauh dari Gapura Benteng, Anda hanya perlu mengikuti dua tikungan zig-zag di depan gapura ini terus ke arah timur, hingga di kanan jalan Anda menemukan sepasang gapura kembar kecil bertuliskan Bugisan.

Jalan masuk Kampung Bugisan, Ambarawa (Sumber: Google Street View)

Dari sini masuk saja lurus ke selatan sampai mentok, lalu belok kiri hingga menemukan persimpangan gang lagi di kanan jalan. Di persimpangan ini belok saja ke kanan, lurus terus hingga mentok. Dari sini Anda tinggal belok kiri lagi mengikuti jalan hingga menemukan gerbang belakang Benteng Pendem seperti di jalur Gapura Benteng.

Jalur ini cukup lebar, sehingga kendaraan roda empat bisa melewatinya. Nanti di gerbang belakang benteng, Anda tinggal parkir saja di halaman depan bangunan parkir roda dua yang sudah saya sebut di jalur sebelumnya.

Jujur saja, saya tidak mencoba jalur ini. Saya hanya mengetahui jalur ini dari penduduk setempat yang mengelola tempat parkir gerbang belakang benteng.

Jalur Markas TNI-AD Batalyon Kavalery 2 Turangga Ceta

Nah, jalur inilah yang menurut saya paling recomended. Jalur ini jelas bisa dilewati oleh kendaraan roda empat, apalagi roda dua. Namun tentu saja ada beberapa hal yang wajib Anda perhatikan karena via jalur ini Anda akan memasuki kawasan militer TNI Angkatan Darat.

Gapura Masuk Markas TNI-AD Batalyon Turangga Ceta (Sumber: Google Street View)

Gerbang masuk markas Batalyon Turangga Ceta tak jauh dari Museum Kereta Api Indonesia. Hanya 100 meter ke arah selatan, Anda akan menemukan persimpangan jalan raya. Beloklah ke kanan dan lurus saja sedikit hingga di kiri jalan Anda menemukan gapura besar penanda markas TNI-AD ini.

Di gerbang ini Anda diwajibkan untuk melapor ke Provost atau petugas yang sedang berjaga. Turunlah dari kendaraan Anda, dan saran saya, jagalah kesopanan Anda.

Di pos ini Anda akan diminta untuk mengisi buku tamu. Tak hanya itu, kartu identitas Anda juga akan ditahan sementara Anda masuk ke kawasan ini. Oleh petugas yang berjaga, Anda akan diingatkan untuk terus selalu membuka kaca mobil Anda. Selain itu, Anda juga diminta untuk menjaga kesopanan selama berada di kawasan Benteng Pendem. Hal ini dikarenakan masih ada beberapa ruang di benteng ini yang digunakan sebagai tempat tinggal petugas lembaga pemasyarakatan.

Dari pos pemeriksaan depan, Anda hanya perlu mengikuti jalan yang ada, lurus terus sampai Anda menemukan gerbang depan benteng. Gerbang depan benteng ini ditandai dengan adanya papan bertuliskan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Ambarawa. Dari sini Anda diminta untuk memarkir kendaraan Anda di bawah pohon beringin yang ada di sisi kanan gerbang benteng.

Gerbang depan masuk kawasan Lapas Ambarawa dan Benteng Fort Willem I

Sedikit perlu saya tambahkan di sini adalah bahwa Benteng Fort Willem I merupakan bangunan yang masuk kawasan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Ambarawa. Namun menurut informasi yang beredar, semua bangunan tersebut masih aset milik Kodam IV/Diponegoro.