img_6480

Saya yakin awalnya kafe ini dibangun hanya bertujuan supaya para pemilik mobil yang sedang mencucikan kendaraan mereka ada alternatif untuk tempat menunggu. Dulu, sebelum renovasi terakhir cafe ini, tidak banyak pilihan menu atau spot bersantai di cafe ini.

Namun itu semua dulu! Sekarang? Cafe ini saya nobatkan sebagai cafe paling cozy, dengan capucino terenak di kota ini, Probolinggo!

Apa kapasitas saya dengan penobatan ini ya?! Hahaha! Ga tau lah! Yang penting gitu pokoknya! Hahahahaa…

Bukan tanpa alasan saya memberi label cafe ini paling nyaman. Simak saja beberapa jepretan kecil saya berikut. Biarlah kali ini kamera ponsel saya yang berbicara.

img_6480

img_6475

Sudah macam Museum Angkut Malang

img_6478

img_6476

img_6477

Meja K451R

Wastafel: kreatif!

Wastafel: kreatif!

Untuk urusan kopi, memang di tempat ini belum menawarkan varian kopi yang banyak khas cafe-cafe lain. Pun manual brewing favorit saya siphon atau cara penyajian kopi manual yang lain juga belum ada.

Saya harus jujur, keenakan kopi cafe ini terselamatkan oleh sebuah mesin pembuat kopi yang harganya -glek- delapan puluhan juta rupiah. Hahahaa…

Kali ini slogan yang menang adalah: harga membawa rupa!

Nah, ada satu cerita menarik sebenarnya. Istri saya kalau minum kopi sukanya caramel machiato. Dan sesuai dugaan, sajian kopi ini tidak ada di daftar menu.

Akhirnya saya coba nanya ke mas baristanya, “bisa ndak bikin machiato?”

Jawabannya sih “bisa saya coba Pak”. Lalu saya pastikan sekalian bilang ke dia, kalo machiato itu bedanya cuman di takaran espresonya yang cuman separuh, takaran susunya sama. Si mas-nya kelihatan paham.

Trus sekalian saya tanya, “kalo karamelnya bisa bikin Mas?” Ternyata mas-nya ga bisa. Ya udah lah ga masalah.

Wal hasil, machiato datang dan fiolla! Istimewa! Barista kelas probolinggo ini mantab bikinnya! Sekalipun tampilannya masih belum oke, karena trial pastinya, tapi istriku suka! Persis ama favorit dia biasanya. Hehehee…

Mantab dah! Kalo kangen kopi beginian ga perlu jauh2 ke Coffee Bean! Hahahahaa…

Satu hal yang mungkin jadi sorotan, harga menu di sini memang relatif mahal. Relatif dalam arti untuk ukuran kota ini ya. Sebenarnya kalo untuk ukuran kota besar seperti Malang atau Surabaya sih masih masuk. Cuman ya mungkin ini jadi salah satu alasan kenapa cafe ini masih sepi pengunjung.

Overall, saya suka! Bahkan bersyukur, akhirnya saya punya alternatif tempat kerja lagi di sini. Hehehee…

Semalam saya nongki di salah satu cafe santai di Probolinggo. Nemu tempatnya ga sengaja sih. Dan jujur saja belum pernah lihat cafe ini karena jarang banget lewat jalur cafe ini.

Basecamp Cafe letaknya ada di Jl. Basuki Rahmat, sedikit ke timur dari pertigaan jl Basuki Rahmat dengan jl Gatot Subroto. Cafe ini asyiknya ditongkrongin malam hari, dan emang bukanya baru jam empat sore ampe tengah malam.

22317DCA-71DC-4861-876E-369993204C5C

Suasana di dalam cozy, nyaman, cukup banyak pilihan model kursi. Asyik buat kumpul-kumpul sama teman. Cuman kalo saya yang penting enak buat buka Mac dan merangkai kata.

Sayang saya kurang banyak ambil foto semalam. Soalnya terlalu fokus nulis artikel. Sory jujur. Hehehee..

Minusnya tempat ini adalah (IMHO) musik backsound terlalu tinggi volumenya. Jadi para pengunjung yang lagi ngobrol sering saya denger harus teriak-teriak buat ngobrol sama teman yang lain. Sebetulnya bisa seh pas di lokasi saya minta volumenya dikecilin, tapi takut kalo malah pengunjung lain nyaman dengan volume segitu. Hehehehee..



Untuk masalah menu lumayan lah. Menunya sederhana dan murah. Kopi tubruk cuman 8rb, ada mie goreng keju dan mie goreng sosis yang masing-masing cuman 10rb ajah. Dan yang penting, pilihan kopi aslinya cukup banyak. Ada Aceh Gayo, Sidomukti Robusta, dan beberapa yang lain. Pesen kopi beneran ya keluarnya kopi beneran, ga kaya tetangga sebelah. Hehehehee.. Cuman sayang teknik penyajiannya cuman tubruk, ga ada yang lain.

Done!