Blue Ocean Shift

Saya masih menulis. Tenang, saya tidak kemana-mana. Saya hanya sedang belajar. Banyak sekali belajar. Di rumah saya sedang numpuk berbagai macam literatur. Buku bertema bisnis kebanyakan. Tapi hasrat saya untuk menulis tidak pernah pudar. Menulis membantu otak saya menyusun kesimpulan dan alur berpikir.

Dan entah mengapa, yang jelas bukan karena kebetulan, karena sejatinya tidak ada kebetulan di dunia ini, buku-buku yang saya baca saling terkait. Menyusun sebuah simpul benang ilmu yang saling melengkapi. Bahkan beberapa buku seperti berbisik kepada saya, “Hoi On, awakmu lek kate nggedekno bisnismu, ngenekno wae!” (Hei, On. Kamu kalo mau membesarkan bisnismu, diginikan saja.”)

Buku yang selesai saya lahap beberapa minggu yang lalu ini misalnya, seakan ngajari saya untuk jangan terlalu ikut alur bisnis orang lain. Jangan ikut cara orang lain dalam berbisnis sekalipun itu keliatan keren. Sederhananya, model bisnis milik orang lain sangat belum tentu cocok untuk diikuti oleh pebisnis lainnya. Bukankah, kalo kita meniru plek model bisnis orang lain malah membuat persaingan usaha menjadi semakin berdarah-darah?

Istilah Red Ocean dan Blue Ocean tentu sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang, terutama Anda yang terjun di dunia bisnis atau wirausaha. Samudra Merah dan Samudra Biru merupakan sebuah kiasan untuk kondisi pasar dunia usaha, dimana pasar bisnis yang penuh persaingan harga yang berdarah-darah tadi, termasuk karena nyontek model bisnis orang lain, diibaratkan dengan Samudra Merah. Sedangkan dunia usaha yang memiliki sedikit persaingan dengan kuantitas pasar yang luas dan masih segar, dikiaskan dengan istilah Samudra Biru.

Dan, buku Blue Ocean Shift ini menjadi semacam guidence, petunjuk arah, bagaimana langkah-langkah konkrit untuk memindahkan sebuah bisnis dari samudra persaingan usaha yang berdarah-darah ke samudra biru yang lebih lapang dan menjanjikan.

Buku ini sangat detail memberi arahan kepada Anda, mulai dari bagaimana cara menemukan peluang atau ide baru, hingga bagaimana mengatasi karyawan yang mungkin malah bersikap apatis ketika perusahaan Anda mencanangkan untuk maju membentangkan layar menuju Samudra Biru.

Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian, sesuai dengan tahapan langkah shifting. Namun jangan dibayangkan buku ini membosankan dan terkesan “Ah, teori tok!

Justru di setiap tahapan langkah, penulis memberikan gambaran contoh riil perusahaan yang sukses menerapkan tahapan langkah tersebut. Wajar saja, karena sebelum buku ini terbit, dua penulisnya yakni Prof. W. Chan Kim dan Prof. Renée Mauborgne, sudah sejak lama mendirikan konsultan bisnis dengan spesialisasi khusus. Perusahaan-perusahaan yang menggunakan jasa mereka telah berhasil mentas dari Samudra Merah, menuju Samudra Biru berkat arahan dari kedua profesor ini. Jadi ketika Anda membaca buku ini, saya berani jamin, buku ini bukan hoax! Hahahahaha..

Dan berikut adalah lima langkah berpindah ke Samudra Biru, sesuai dengan isi buku ini, yang saya ringkas sesuai dengan jalan pikiran saya:

1. Membangun Tim

Tahapan ini menjadi dasar pondasi berpindah dari Samudra Merah ke Samudra Biru. Menurut buku ini, tim shifting ini harus berasal dari perwakilan semua departemen dari perusahaan Anda. Lebih baik lagi yang mewakili adalah setiap manajer dari semua departemen tersebut.

Tujuan utama dari pembentukan tim ini antara lain adalah:

  • Menyinkronkan kebutuhan tim yang bisa jadi saling bertolak belakang. Contoh saja, seringkali terjadi miss antara tim marketing dengan tim keuangan. Bisa jadi satu ide baik untuk tim penjualan tapi buruk bagi tim keuangan. Maka untuk lebih menyatukan visi, maka semua perwakilan departemen harus ada di dalam tim shifting ini. Setiap departemen harus paham maksud dari ide shifting yang nantinya disepakati.
  • Mengikis adanya keraguan dari para karyawan yang apatis. Mengatasi masalah ini harus dimulai sejak pembentukan tim shifting.

2. Memahami Kondisi Saat Ini Menggunakan Kanvas Strategi

Tahapan ini cukup menarik bagi saya. Karena di sini kita diminta untuk membuat semacam tabel scoring dengan sumbu X adalah daftar value dan produk yang ditawarkan oleh industri kita, sedangkan sumbu Y adalah nilainya.

Sebenarnya di buku ini, sumbu X tidak mereka sebutkan sebagai daftar value dan produk, namun karena saya lebih terbiasa dengan konsep di Business Model Generation, maka saya sebutkan saja demikian. Toh juga tidak salah.

Nah, yang menarik adalah, sistem skor yang digunakan. Karena setiap nilai dan produk harus memiliki skoring yang sesuai dengan kenyataan saat ini. Konsep ini akan menjelaskan bagaimana setiap perusahaan memiliki fokus terhadap value added yang berbeda-beda dan unik. Simak saja contoh Kanvas Strategi berikut tentang dua organisasi donasi di Inggris:

Strategy Canvas Example

Strategy Canvas (Sumber: Blue Ocean Strategy)

Pada tahapan ini, kita akan dibuat untuk mengenal kondisi di dalam internal bisnis kita seperti apa. Serta jika lebih luas lagi akan memperjelas bagaimana kondisi pesaing-pesaing kita. Dengan demikian, jika semua mata di dalam tim sudah melihat dengan jelas bagaimana kondisi pasar, maka harapannya adalah semua pikiran akan lebih terbuka, dan lebih mengikis pikiran-pikiran apatis.

3. Menemukan Samudra Non-Konsumen

Nah, ini juga menurut saya tahapan super penting, dan menjadi kunci dari suksesnya membuka ruang pasar baru.

Konsep sederhananya begini. Blue Ocean Shift mengajak kita untuk tidak fokus ke konsumen kita sekarang. Sekali lagi ya, tidak fokus ke konsumen bisnis kita saat ini. Justru buku ini menuntun dengan tepat bagaimana agar kita membuka peluang baru, dengan berfokus ke mereka yang bukan pelanggan bisnis kita, yang jumlahnya bisa jadi jauh lebih banyak dari pelanggan kita saat ini, itulah Samudra Non-Konsumen.

Buku ini membagi Samudra Non-Konsumen menjadi 3 macam:

  1. Mereka yang segera menjadi non-konsumen. Yakni mereka yang sedang berada di ujung industri Anda dan sudah bersiap untuk pergi. Mereka ini adalah pelanggan Anda, tapi sudah bersiap untuk pergi meninggalkan Anda.
  2. Non-konsumen yang menolak. Adalah mereka yang pernah mempertimbangkan industri Anda, namun dengan sengaja tidak memilih Anda. Ironis kedengarannya.
  3. Non-konsumen yang belum pernah dijajaki. Bisa jadi memang belum pernah tahu keberadaan bisnis Anda, atau mungkin sudah tahu tapi memang belum pernah mempertimbangkan Anda sama sekali.

Mengidentifikasi keberadaan ketiga non-konsumen ini memang dibutuhkan sebuah riset. Riset yang membutuhkan waktu. Ya, waktu! Jadi, bersabarlah!

Namun jika Anda berhasil memetakan bagaimana mereka, bagaimana karakter mereka, bagaimana keinginan dan “sakit” yang mereka rasakan ketika mengonsumsi produk dari industri Anda, tentu akan menjadi modal penting bagi Anda untuk melangkah.

Bagi saya, ide di langkah ini amat sangat tepat jika diterapkan untuk menyusun Value Proposition Canvas yang ada di dalam Business Model Generation.

4. Kerangka Empat Aksi: Kurangi, Hapuskan, Naikkan, Ciptakan

Tahapan ini juga sangat menarik. Berbagai inovasi radikal muncul di tahap ini ketika sebuah bisnis menerapkan strategi Blue Ocean Shift.

Kunci utama dari tahap ini ada di 4 hal: Kurangi “apa” yang mungkin, Hapus “apa” yang tidak penting, Naikkan (tingkatkan) “apa” yang bisa menarik non-konsumen, dan Ciptakan “apa” baru. Dan “apa” tersebut adalah value atau produk dari bisnis kita.

Coba simak Kanvas Strategi berikut dari sebuah organisasi sosial Red Nose yang berhasil mempopulerkan Red Nose Day di Inggris. Sangat menarik bagaimana mereka melakukan inovasi yang cukup radikal di dalam dunia per-donasi-an.

435B0304-5D63-451B-92F3-D6575C1EABDE

Red Nose Day Strategy Canvas (Sumber: Blue Ocean Strategy)

Nampak di kanvas di atas bahwa organisasi Red Nose justru menghapus beberapa value umum yang justru tidak menarik bagi non-konsumen, yaitu fasilitas konseling, aktifitas berkumpul, dan, ini yang menarik, suasana malam donasi yang kasihan dan menyedihkan. Red Nose justru berhasil membuat gebrakan dengan menciptakan suasana berbagi yang menyenangkan. Konsep mengharapkan donasi dengan seakan-akan menjual belas-kasih, diubah menjadi menyenangkan dengan mengajak orang-orang untuk membeli hidung badut merah (Red Nose) serta memakainya di satu hari spesial Red Nose Day.

Menarik?! Bagi saya ini sangat HEBAT!

Oke! Saya ajak Anda untuk menyimak satu contoh penerapan strategi blue ocean lain yang digunakan oleh sebuah jaringan perhotelan. Monggo…

 

5. Eksekusi

Tidak perlu berpanjang lebar untuk tahapan ini. Intinya adalah langkah ini mengajak Anda agar sebelum secara penuh menawarkan produk blue ocean Anda ke pasar luas, Anda harus membiarkan pasar kecil Anda untuk terlebih dahulu mengetahui produk Anda. Istilah lain yang cukup populer yakni prototyping. Dimulai dari para karyawan Anda, hingga mungkin perwakilan dari konsumen Anda.

Jika tanggapan mereka positif, tentu saja satu hal yang wajib Anda lakukan…

GAAAAAAAAAAASSSSSS!!!!!!!

45952FEA-D540-4C55-B240-F47E7EEAE1D0

Saya tidak bisa tidur. Pikiran saya terus berputar. Buku ini wajib saya praktekan!

Membaca buku ini seperti menemukan banyak jawaban dari berbagai pertanyaan yang ada di kepala saya. Semenjak berniat lompat kuadran, berbagai informasi yang saya serap dari berbagai buku dan para mentor benar-benar membuat kepala pening. Psikologi konsumen, WOW Marketing, #MO, ketiga pokok permasalahan marketing itu seperti saling membelit dan mengunci. Jika berhasil diuraikan, pasti strategi marketing yang paling pas bisa saya dapatkan. Dan ternyata, buku berjudul Contagious ini menjadi salah satu jawabannya.

Contagious jika diartikan ke Bahasa Indonesia adalah menular atau getok tular. Apa bedanya dengan viral? Viral lebih terjadi di dunia maya. Sedangkan getok tular terjadi di dunia nyata, dimana suatu gagasan atau produk menjadi buah bibir banyak orang.

Ada satu fakta unik yang diungkap oleh Jonah Berger, sang penulis buku ini. Ia mengungkap sebuah kenyataan bahwa komunikasi yang kita lakukan melalui jalur online (baik telepon, internet, sms, dll) hanya sebanyak 7% dari keseluruhan aktifitas komunikasi kita.

What?! Seriously?! Seharian megang hape cuman dihargai 7% doang?

Ya! Begitulah faktanya. Sesuai dengan yang diungkap Berger dari sebuah hasil riset yang bisa dipertanggungjawabkan.

Maka dari itu Berger menganggap — dan saya setuju — bahwa pembicaraan secara offline, mengobrol dengan orang lain, membicarakan sesuatu, masih menjadi sesuatu yang berpengaruh di kehidupan kita. Membicarakan kecelakaan antara bus dan truk yang terjadi di jalan raya depan rumah Anda masih menjadi buah bibir yang menarik untuk Anda ceritakan kepada rekan kerja Anda.

Maka dari itu, memiliki gagasan, produk, atau bahkan toko yang bisa menjadi buah bibir di masyarakat sekitar area toko tentu akan menjadi model marketing yang sangat hebat. Itulah yang dibahas di buku ini.

Contagious: Rahasia di Balik Produk dan Gagasan yang Populer, membahas dengan amat sangat bagus, apa-apa yang Anda butuhkan untuk membuat produk, gagasan, atau apapun yang Anda inginkan menjadi buah bibir manis di masyarakat.

Berger menjelaskan ada enam hal kunci yang menjadi syarat agar sebuah gagasan atau apapun menarik untuk dijadikan buah bibir:

  1. Social Currency (Mata Uang Sosial)
  2. Triggers (Pemicu)
  3. Emotion (Emosi)
  4. Public (Umum)
  5. Practical Value (Nilai Praktis)
  6. Stories (Cerita/Narasi)

Berger menyingkatnya menjadi STEPPS agar kita lebih mudah mengingatnya.

Keenam hal tersebut tidak harus dipenuhi semua agar sebuah gagasan bisa menjadi buah bibir yang viral. Cukup satu, dua, atau tiga, atau kalau bisa keenam-enamnya. Karena disebutkan jika sebuah ide memenuhi keenam sifat tersebut, maka kemungkinan untuk digetoktularkan secara alami akan semakin besar.

Lalu apa sajakah maksud dari keenam syarat di atas? Sayang sekali saya tidak ingin menjelaskan lebih detail, karena tentu saja akan lebih mandes kalau Anda membaca langsung buku ini. Tapi setidaknya secara singkat Anda bisa membaca dari sebuah ilustrasi di bawah ini yang saya ambil langsung dari blog Jonah Berger.
E778AB76-4EEB-4192-9693-46678F9DAA6F
Yang selalu ada dibenak saya ketika membaca buku ini adalah bahwa isi dari buku ini seakan berhasil menjadi titik temu antara WOW! Marketing yang dipopulerkan oleh Hermawan Kartajaya, dengan #MO dari Prof. Rhenald Kasali.

Bagaimana bisa membuat WOW konsumen, dijawab di buku ini. Bahkan saya merasa buku ini lebih mengena, karena Berger selalu menyoroti sisi psikologis konsumen.

Semua teori yang diungkap di buku ini berdasarkan hasil riset yang kredibel. Bukan hanya berdasarkan gagasan atau ide saja yang ambyar, namun selalu didukung oleh berbagai riset yang sangat bermutu.

Maka dari itu, saya benar-benar ingin mempraktekkan STEPPS. Dan semoga selalu berhasil! Aamiin..

Salam Dahsyat! 👊