4D2D0AF3-D76D-4A45-B52D-0D96A11CD041

Jika Anda adalah seorang karyawan sebuah perusahaan, atau Anda malah yang memimpin mereka, menurut Anda faktor apa yang paling utama membuat karyawan betah bekerja di sebuah perusahaan?

Besaran gaji? Fasilitas? Atau sikap Anda yang baik terhadap karyawan Anda mungkin?

Kenyataannya adalah, bukan ketiga faktor tersebut yang membuat seorang karyawan betah bekerja di sebuah perusahaan.

Ha?! Masa’ gaji besar ga ngaruh sih?

Itulah yang membuat buku ini sangat menarik. Buku First, Break All the Rules mengungkap beberapa fakta menarik, tentang faktor-faktor apa yang membuat karyawan tidak hanya betah, namun juga lebih produktif di perusahaan tempat ia bekerja. Fakta-fakta tersebut sangat bertentangan dengan apa yang selama ini secara umum justru dianggap penting bagi karyawan dan pimpinan mereka.

Buku First, Break All the Rules merupakan rangkuman dari hasil riset panjang dan proses pengolahan data yang didapat oleh Gallup Organization. Gallup Organization adalah sebuah organisasi konsultan dunia yang fokus pada analitik dan konsultan manajerial global. 

Sebelum saya mengungkapkan isi buku ini tentang faktor-faktor penting apa yang membuat karyawan betah di sebuah perusahaan sekaligus mampu mencapai produktifitas tertingginya, mari kita cerna satu fakta penting lain tentang bagaimana manajer-manajer hebat dunia bisa membangun tim kerja yang produktif.

Untuk mengungkap fakta tersebut, Gallup Organization melakukan riset kepada 80.000 manajer dari berbagai ukuran perusahaan di dunia. Dari sekian banyak manajer tersebut, terdapat manajer-manajer hebat yang berhasil membangun tim dengan produktifitas kerja tinggi. Lalu bagaimana manajer-manajer hebat tersebut melakukannya?

Ada empat poin penting yang menjadi fokus dari manajer-manajer hebat:

  1. Yang pertama adalah, manajer-manajer hebat memilih anak buah berdasarkan bakatnya, dan bukan skill, pengalaman, atau bahkan kecerdasannya. Murni berfokus pada bakat. Terkejut?
  2. Kedua. Manajer-manajer hebat fokus terhadap evaluasi hasil kerja karyawan, dan justru tidak turut campur bagaimana cara karyawan mengejar target kerjanya.
  3. Ketiga. Manajer-manajer hebat sangat tidak percaya bahwa kelemahan-kelemahan karyawan dapat diperbaiki. Mereka sangat berfokus kepada bagaimana memaksimalkan kelebihan karyawan untuk mendukung produktifitas kerjanya. Menariknya, buku ini mengungkapkan beberapa trik jitu untuk mengatasi kelemahan karyawan yang kadang mengganggu produktifitas kerja, sehingga pada akhirnya karyawan kembali bisa fokus menggunakan kekuatannya.
  4. Keempat sekaligus yang terakhir, manajer-manajer hebat mampu mengakomodir bakat karyawannya sesuai tanggung jawab yang dibebankan. Di bagian ini pula, manajer-manajer hebat tidak terburu-buru untuk memberikan promosi bagi karyawannya yang berhasil mencapai prestasi terbaik. Mereka justru percaya bahwa, karena bakat, karyawan yang hebat dalam mencapai target kerjanya, belum tentu berbakat untuk menjadi atasan yang akan memimpin sesamanya. Di sini Anda nanti akan belajar bagaimana menyusun sebuah jenjang karir yang disebut Karir Lebar (Broadband Carier), sehingga tidak melulu sebuah penghargaan bagi karyawan hebat adalah promosi.

Semakin menarik? Apakah Anda terheran dengan fakta-fakta di atas? 

Tunggu sampai Anda tahu bagaimana perusahaan-perusahaan hebat membangun lingkungan kerja yang mampu membuat karyawan-karyawannya mencurahkan segenap kemampuannya.

Alkisah ada sebuah perusahaan kecil di negara bagian Maryland, Amerika Serikat, bernama Sysco Eastern Maryland, sebuah perusahaan makanan kemasan beku. Perusahaan ini tidak nampak terlalu istimewa di sana-sini. Namun jika Anda melihatnya sendiri, akan nampak pekerja-pekerja senior yang sangat bersemangat memindahkan krat-krat kemasan keluar dan masuk ruang pendingin. 

Perusahaan ini dikenal memiliki tingkat turnover — tingkat pergantian karyawan karena pengunduran diri — yang sangat rendah. Kasus pencurian hampir tidak pernah terjadi. Serta tingkat karyawan tidak masuk yang juga sangat rendah. Apa yang bisa membuat perusahaan ini sangat nyaman di hati para karyawannya?

Para pimpinan Sysco Eastern Maryland paham betul apa penyebabnya. Mereka membuat kebijakan yang tidak lazim. Besaran gaji karyawannya dinilai berdasarkan peforma kerja, dan bukan berdasarkan posisi jabatannya. Tak hanya itu, manajer-manajer perusahaan secara rutin mengungkapkan kepada para karyawan betapa pentingnya posisi mereka. Manajer-manajer itu memperlakukan karyawan dengan rasa penuh hormat dan selalu menjadi pendengar yang baik bagi karyawan.

Sebagai imbal baliknya, para karyawan selalu menunjukkan performa kerja terbaik mereka seperti dengan cara memecahan rekor pencapaian kerja. Misalnya, jika karyawan tersebut adalah pengemudi kendaraan pengiriman, mereka menunjukkan prestasi dengan menunjukkan seberapa jauh mereka berkendara tanpa mengalami kecelakaan. Para karyawan Sysco Eastern Maryland, akan menjawab YA, ke keduabelas Pertanyaan Tolok Ukur.

Apakah itu Pertanyaan Tolok Ukur?

Pertanyaan Tolok Ukur berisi 12 kalimat tanya. Kalimat-kalimat tanya tersebut disusun oleh Gallup Organization setelah melalui survey yang sangat ekstensif. Pertanyaan Tolok Ukur ini menjadi standar baku, yang menunjukkan sebuah lingkungan kerja apakah mampu membuat karyawannya bekerja maksimal dan produktif. 

Maka, ini yang menarik, jika karyawan Anda menjawab keduabelas pertanyaan ini dengan jawaban “YA” maka Anda berhasil membuat lingkungan kerja yang kuat, yang membuat karyawan terbaik Anda semangat bekerja dan betah.

Inilah keduabelas Pertanyaan Tolok Ukur Tersebut:

  1. Apakah saya tahu apa yang diharapkan dari saya di tempat kerja?
  2. Apakah saya mendapatkan alat dan bahan yang saya butuhkan untuk mengerjakan pekerjaan saya dengan benar?
  3. Di tempat kerja, apakah saya punya kesempatan untuk mengerjakan yang terbaik dari saya setiap hari?
  4. Di tujuh hari terakhir, apakah saya mendapatkan pengakuan atau pujian atas pekerjaan saya yang baik?
  5. Apakah pimpinan atau rekan kerja saya peduli terhadap saya sebagai manusia?
  6. Adakah seseorang di tempat kerja saya yang mendorong saya untuk selalu berkembang?
  7. Di tempat kerja, apakah opini saya dihargai?
  8. Apakah misi/tujuan perusahaan membuat saya merasa bahwa pekerjaan saya penting?
  9. Apakah rekan kerja saya berkomitmen untuk selalu kerja berkualitas?
  10. Apakah saya punya teman baik di tempat kerja?
  11. Di enam bulan terakhir, apakah saya pernah membicarakan kemajuan saya dengan orang lain?
  12. Dalam setahun terakhir, apakah saya mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang?

Bagaimana? Tidak ada parameter gaji dan fasilitas bukan? Inilah yang menarik dari buku First, Break All the Rules ini. Dan tidak berhenti di sini saja, masih banyak bahasan super menarik yang diangkat di buku ini. Semisal tentang bagaimana kita tahu melalui sesi wawancara dengan calon karyawan, bahwa ia memiliki bakat yang sesuai dengan tanggung jawab pekerjaannya nanti. Dan masih banyak hal lain yang sangat “daging”.

So, sama seperti apa yang pepatah katakan: “Don’t Judge the Book from the Cover”. Jangan sekali-sekali berani menilai kualitas isi buku dari hanya melihat sampulnya. Karena mungkin saja, ketika Anda berada di toko buku dan hanya melihat sampul buku ini, bisa saja Anda tidak tertarik hanya karena melihat desain sampulnya yang biasa saja. Berhati-hatilah memilih “daging” yang sehat.

Last but not least,, saya ingin mempromosikan akun instagram saya 👉 @onny. Mari kita beinteraksi lebih aktif di sana. 

Sampai Jumpa di Instagram. 👋🏻

Blue Ocean Shift

Saya masih menulis. Tenang, saya tidak kemana-mana. Saya hanya sedang belajar. Banyak sekali belajar. Di rumah saya sedang numpuk berbagai macam literatur. Buku bertema bisnis kebanyakan. Tapi hasrat saya untuk menulis tidak pernah pudar. Menulis membantu otak saya menyusun kesimpulan dan alur berpikir.

Dan entah mengapa, yang jelas bukan karena kebetulan, karena sejatinya tidak ada kebetulan di dunia ini, buku-buku yang saya baca saling terkait. Menyusun sebuah simpul benang ilmu yang saling melengkapi. Bahkan beberapa buku seperti berbisik kepada saya, “Hoi On, awakmu lek kate nggedekno bisnismu, ngenekno wae!” (Hei, On. Kamu kalo mau membesarkan bisnismu, diginikan saja.”)

Buku yang selesai saya lahap beberapa minggu yang lalu ini misalnya, seakan ngajari saya untuk jangan terlalu ikut alur bisnis orang lain. Jangan ikut cara orang lain dalam berbisnis sekalipun itu keliatan keren. Sederhananya, model bisnis milik orang lain sangat belum tentu cocok untuk diikuti oleh pebisnis lainnya. Bukankah, kalo kita meniru plek model bisnis orang lain malah membuat persaingan usaha menjadi semakin berdarah-darah?

Istilah Red Ocean dan Blue Ocean tentu sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang, terutama Anda yang terjun di dunia bisnis atau wirausaha. Samudra Merah dan Samudra Biru merupakan sebuah kiasan untuk kondisi pasar dunia usaha, dimana pasar bisnis yang penuh persaingan harga yang berdarah-darah tadi, termasuk karena nyontek model bisnis orang lain, diibaratkan dengan Samudra Merah. Sedangkan dunia usaha yang memiliki sedikit persaingan dengan kuantitas pasar yang luas dan masih segar, dikiaskan dengan istilah Samudra Biru.

Dan, buku Blue Ocean Shift ini menjadi semacam guidence, petunjuk arah, bagaimana langkah-langkah konkrit untuk memindahkan sebuah bisnis dari samudra persaingan usaha yang berdarah-darah ke samudra biru yang lebih lapang dan menjanjikan.

Buku ini sangat detail memberi arahan kepada Anda, mulai dari bagaimana cara menemukan peluang atau ide baru, hingga bagaimana mengatasi karyawan yang mungkin malah bersikap apatis ketika perusahaan Anda mencanangkan untuk maju membentangkan layar menuju Samudra Biru.

Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian, sesuai dengan tahapan langkah shifting. Namun jangan dibayangkan buku ini membosankan dan terkesan “Ah, teori tok!

Justru di setiap tahapan langkah, penulis memberikan gambaran contoh riil perusahaan yang sukses menerapkan tahapan langkah tersebut. Wajar saja, karena sebelum buku ini terbit, dua penulisnya yakni Prof. W. Chan Kim dan Prof. Renée Mauborgne, sudah sejak lama mendirikan konsultan bisnis dengan spesialisasi khusus. Perusahaan-perusahaan yang menggunakan jasa mereka telah berhasil mentas dari Samudra Merah, menuju Samudra Biru berkat arahan dari kedua profesor ini. Jadi ketika Anda membaca buku ini, saya berani jamin, buku ini bukan hoax! Hahahahaha..

Dan berikut adalah lima langkah berpindah ke Samudra Biru, sesuai dengan isi buku ini, yang saya ringkas sesuai dengan jalan pikiran saya:

1. Membangun Tim

Tahapan ini menjadi dasar pondasi berpindah dari Samudra Merah ke Samudra Biru. Menurut buku ini, tim shifting ini harus berasal dari perwakilan semua departemen dari perusahaan Anda. Lebih baik lagi yang mewakili adalah setiap manajer dari semua departemen tersebut.

Tujuan utama dari pembentukan tim ini antara lain adalah:

  • Menyinkronkan kebutuhan tim yang bisa jadi saling bertolak belakang. Contoh saja, seringkali terjadi miss antara tim marketing dengan tim keuangan. Bisa jadi satu ide baik untuk tim penjualan tapi buruk bagi tim keuangan. Maka untuk lebih menyatukan visi, maka semua perwakilan departemen harus ada di dalam tim shifting ini. Setiap departemen harus paham maksud dari ide shifting yang nantinya disepakati.
  • Mengikis adanya keraguan dari para karyawan yang apatis. Mengatasi masalah ini harus dimulai sejak pembentukan tim shifting.

2. Memahami Kondisi Saat Ini Menggunakan Kanvas Strategi

Tahapan ini cukup menarik bagi saya. Karena di sini kita diminta untuk membuat semacam tabel scoring dengan sumbu X adalah daftar value dan produk yang ditawarkan oleh industri kita, sedangkan sumbu Y adalah nilainya.

Sebenarnya di buku ini, sumbu X tidak mereka sebutkan sebagai daftar value dan produk, namun karena saya lebih terbiasa dengan konsep di Business Model Generation, maka saya sebutkan saja demikian. Toh juga tidak salah.

Nah, yang menarik adalah, sistem skor yang digunakan. Karena setiap nilai dan produk harus memiliki skoring yang sesuai dengan kenyataan saat ini. Konsep ini akan menjelaskan bagaimana setiap perusahaan memiliki fokus terhadap value added yang berbeda-beda dan unik. Simak saja contoh Kanvas Strategi berikut tentang dua organisasi donasi di Inggris:

Strategy Canvas Example

Strategy Canvas (Sumber: Blue Ocean Strategy)

Pada tahapan ini, kita akan dibuat untuk mengenal kondisi di dalam internal bisnis kita seperti apa. Serta jika lebih luas lagi akan memperjelas bagaimana kondisi pesaing-pesaing kita. Dengan demikian, jika semua mata di dalam tim sudah melihat dengan jelas bagaimana kondisi pasar, maka harapannya adalah semua pikiran akan lebih terbuka, dan lebih mengikis pikiran-pikiran apatis.

3. Menemukan Samudra Non-Konsumen

Nah, ini juga menurut saya tahapan super penting, dan menjadi kunci dari suksesnya membuka ruang pasar baru.

Konsep sederhananya begini. Blue Ocean Shift mengajak kita untuk tidak fokus ke konsumen kita sekarang. Sekali lagi ya, tidak fokus ke konsumen bisnis kita saat ini. Justru buku ini menuntun dengan tepat bagaimana agar kita membuka peluang baru, dengan berfokus ke mereka yang bukan pelanggan bisnis kita, yang jumlahnya bisa jadi jauh lebih banyak dari pelanggan kita saat ini, itulah Samudra Non-Konsumen.

Buku ini membagi Samudra Non-Konsumen menjadi 3 macam:

  1. Mereka yang segera menjadi non-konsumen. Yakni mereka yang sedang berada di ujung industri Anda dan sudah bersiap untuk pergi. Mereka ini adalah pelanggan Anda, tapi sudah bersiap untuk pergi meninggalkan Anda.
  2. Non-konsumen yang menolak. Adalah mereka yang pernah mempertimbangkan industri Anda, namun dengan sengaja tidak memilih Anda. Ironis kedengarannya.
  3. Non-konsumen yang belum pernah dijajaki. Bisa jadi memang belum pernah tahu keberadaan bisnis Anda, atau mungkin sudah tahu tapi memang belum pernah mempertimbangkan Anda sama sekali.

Mengidentifikasi keberadaan ketiga non-konsumen ini memang dibutuhkan sebuah riset. Riset yang membutuhkan waktu. Ya, waktu! Jadi, bersabarlah!

Namun jika Anda berhasil memetakan bagaimana mereka, bagaimana karakter mereka, bagaimana keinginan dan “sakit” yang mereka rasakan ketika mengonsumsi produk dari industri Anda, tentu akan menjadi modal penting bagi Anda untuk melangkah.

Bagi saya, ide di langkah ini amat sangat tepat jika diterapkan untuk menyusun Value Proposition Canvas yang ada di dalam Business Model Generation.

4. Kerangka Empat Aksi: Kurangi, Hapuskan, Naikkan, Ciptakan

Tahapan ini juga sangat menarik. Berbagai inovasi radikal muncul di tahap ini ketika sebuah bisnis menerapkan strategi Blue Ocean Shift.

Kunci utama dari tahap ini ada di 4 hal: Kurangi “apa” yang mungkin, Hapus “apa” yang tidak penting, Naikkan (tingkatkan) “apa” yang bisa menarik non-konsumen, dan Ciptakan “apa” baru. Dan “apa” tersebut adalah value atau produk dari bisnis kita.

Coba simak Kanvas Strategi berikut dari sebuah organisasi sosial Red Nose yang berhasil mempopulerkan Red Nose Day di Inggris. Sangat menarik bagaimana mereka melakukan inovasi yang cukup radikal di dalam dunia per-donasi-an.

435B0304-5D63-451B-92F3-D6575C1EABDE

Red Nose Day Strategy Canvas (Sumber: Blue Ocean Strategy)

Nampak di kanvas di atas bahwa organisasi Red Nose justru menghapus beberapa value umum yang justru tidak menarik bagi non-konsumen, yaitu fasilitas konseling, aktifitas berkumpul, dan, ini yang menarik, suasana malam donasi yang kasihan dan menyedihkan. Red Nose justru berhasil membuat gebrakan dengan menciptakan suasana berbagi yang menyenangkan. Konsep mengharapkan donasi dengan seakan-akan menjual belas-kasih, diubah menjadi menyenangkan dengan mengajak orang-orang untuk membeli hidung badut merah (Red Nose) serta memakainya di satu hari spesial Red Nose Day.

Menarik?! Bagi saya ini sangat HEBAT!

Oke! Saya ajak Anda untuk menyimak satu contoh penerapan strategi blue ocean lain yang digunakan oleh sebuah jaringan perhotelan. Monggo…

 

5. Eksekusi

Tidak perlu berpanjang lebar untuk tahapan ini. Intinya adalah langkah ini mengajak Anda agar sebelum secara penuh menawarkan produk blue ocean Anda ke pasar luas, Anda harus membiarkan pasar kecil Anda untuk terlebih dahulu mengetahui produk Anda. Istilah lain yang cukup populer yakni prototyping. Dimulai dari para karyawan Anda, hingga mungkin perwakilan dari konsumen Anda.

Jika tanggapan mereka positif, tentu saja satu hal yang wajib Anda lakukan…

GAAAAAAAAAAASSSSSS!!!!!!!