fullsizerender

Atlas Wali Songo (AWS). Banyak yang ingin saya ungkapkan mengenai buku ini. Buku ini termasuk text book. Bukan novel. Bukan pula bacaan ringan. Buku ini padat. Berat. Penuh dengan ilmu sejarah. Jika Anda penasaran bagaimana bisa agama Islam menjadi dominan di negeri ini, buku ini jawabannya.

AWS berusaha menjawab keraguan banyak orang mengenai kebenaran adanya Wali Songo. Karena sesuai dengan apa yang ditulis KH Agus Sunyoto dalam buku ini, sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia berusaha dipelintir oleh oknum tertentu untuk seakan menghilangkan jejak para Wali Songo. Salah satu bukti adalah tidak dicantumkannya sedikit saja perihal Wali Songo di dalam buku Ensiklopedia Islam terbitan Ikhtiar Baru Van Hoeve. Kalau Wali Songo tidak pernah ada, bagaimana mungkin berbagai tempat yang diyakini sebagai makam mereka masih ramai diziarahi oleh umat muslim Indonesia hingga saat ini?

Dalam buku ini penulis menjelaskan dengan sangat detail bagaimana agama Islam disebarkan dengan cara yang amat sangat rapi, terstruktur, sistematis, merasuk ke dalam budaya masyarakat nusantara saat itu yang dikenal memiliki karakter yang cenderung kaku. Dibahas di beberapa bab awal buku ini bagaimana kondisi masyarakat nusantara sebelum masuknya Islam. Ada satu fakta yang akan membuat Anda terkejut.

Saya masih sangat ingat isi pelajaran sejarah ketika kecil dulu yang menyebutkan bahwa agama penduduk pribumi nusantara sebelum masuknya agama Hindu maupun Budha adalah dinamisme dan animisme. Sebuah aliran kepercayaan yang seperti menuhankan benda-benda (dinamisme), atau kepercayaan terhadap para leluhur (animisme). Namun ternyata kepercayaan animisme dinamisme tersebut pada dasarnya adalah sebuah kepercayaan kuno asli nusantara yang belum pernah saya dengar hingga saya membaca buku AWS. Kepercayaan tersebut bernama kapitayan. Dan tahukah Anda bagaimana para pengikut kapitayan ini bersembahyang. Bersiaplah untuk terkejut.

Tata cara sembahyang agama kuno kapitayan mengikuti aturan-aturan khusus. Pertama-tama, ruhaniwan yang sembahyang melakukan Tu-lajeg, berdiri tegak, menghadap Tutu-k (lubang ceruk) dengan kedua tangan diangkat ke atas menghadirkan Sanghyang Taya (simbol tuhan dalam kapitayan) di dalam Tutu-d (hati). Setelah merasa Sanghyang Taya bersemayam di hati, kedua tangan diturunkan dan didekapkan di dada tepat pada hati. Posisi ini disebut dengan Swa-dikep, yang bermakna memegang ke-aku-an diri pribadi. Proses Tu-lajeg ini dilakukan dalam tempo relatif lama. Setelah Tu-lajeg selesai, sembahyang dilanjutkan dengan posisi Tu-ngkul (membungkuk memandang ke bawah) yang juga dilakukan dalam tempo relatif lama. Lalu dilanjutkan lagi dengan posisi Tu-lumpak (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki). Yang terakhir melakukan gerakan To-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut ibunya). Dalam melakukan semua gerakan sembahyang yang dilakukan selama sekitar satu jam itu, para ruhaniwan kapitayan berusaha selalu menjaga keberadaan Sanghyang Taya (Yang Hampa) yang sudah disemayamkan di dalam Tutu-d (hati).

Apakah mulut Anda sedikit terbuka karena terkejut mengingat sesuatu?

Oke… Buku ini memang tidak serta merta langsung membahas mengenai Wali Songo. Penulis berusaha dengan detail membahas bagaimana kondisi geografis nusantara saat itu. Bagaimana kondisi penduduk kuno kepulauan nusantara, hingga darimana nenek moyang kita berasal. Hal ini penting diketahui, untuk menjawab pertanyaan mengapa para penyebar agama Islam saat itu harus menyusun strategi khusus. Bagaimana kondisi penduduk nusantara sebelum memeluk agama Hindu, Budha, hingga Islam, menurut saya dibahas dengan sangat lengkap oleh penulis. Bahkan, menurut hemat saya, nampak lebih lengkap daripada deskripsi bab lain.

Setelah membahas asal muasal penduduk nusantara, bagaimana kondisi budaya dan agama kepercayaan saat itu, barulah KH Agus Sunyoto membahas dengan detail bagaimana Islam masuk ke nusantara. Berawal dengan dijabarkannya para penyebar-penyebar agama Islam sebelum masa Wali Songo termasuk seperti Fatimah binti Maimun, Syaikh Syamsuddin al-Wasil, Sultan Malik ash-Shalih, Syaikh Maulana Malik Ibrahim, Syaikh Jumadil Kubro, Syaikh Ibrahim Samarkandi, Syaikh Hasanuddin “Quro” Karawang, Syaikh Datuk Kahfi, dan Ario Abdillah Palembang. Semua tokoh tersebut dibahas dengan amat detail, lengkap dengan penjelasan dari berbagai versi sumber.

Bab ketiga buku ini membahas kondisi kerajaan nusantara terbesar di masa itu, Majapahit, sebelum masa-masa intens penyebaran agama Islam oleh Wali Songo. Penyebaran agama Islam di nusantara bertepatan dengan semakin kendornya kekuasaan Majapahit. Di awal agama Islam mulai tersebar, banyak pejabat kerajaan Majapahit yang sudah memeluk agama Islam. Mereka tidak dilarang oleh kerajaan, dan justru diberi daerah kekuasaan tersendiri. Kebijakan inilah yang akhirnya menjadi bumerang bagi Majapahit, disamping juga perang perebutan kekuasaan yang tak kunjung usai.

Melalui buku ini pula, KH Agus Sunyoto berusaha meluruskan fakta sejarah penting. Benarkah kerajaan Islam pertama di pulau Jawa adalah Demak? Ternyata salah!

Kerajaan Islam pertama di pulau Jawa adalah kerajaan Lumajang. Jika Demak berdiri di abad 15, kerajaan Lumajang berdiri di kisaran abad 12. Justru berdasarkan sisa-sisa artefak dan ideofak yang ada, Demak adalah kerajaan Islam kelima di Jawa setelah Lumajang, Surabaya, Tuban, dan Giri. Dijelaskan pada bab ketiga buku ini, saat itu kerajaan Lumajang berada di bawah kerajaan Tumapel (Singhasari).

Bab keempat hingga ketujuh Atlas Wali Songo ini membahas dengan cukup lengkap bagaimana para Wali Songo menyebarkan ajaran agama Islam, dan berhasil mengislamisasi penduduk nusantara. Berbagai metode dakwah para wali dibahas dengan lengkap, termasuk melalui jalur politik, pendidikan, budaya, hingga pernikahan. Karakter masing-masing wali dan cara mereka menyebarkan ajaran Islam dibahas mendetail di masing-masing sub-bab. Tak hanya itu, buku ini juga mengungkap bagaimana asal-usul, nazab, serta gerakan dakwah masing-masing wali.

Disebutkan pula pada bab akhir buku ini bahwa pola pendidikan ala pesantren merupakan hasil asimilasi budaya pendidikan Hindu-Budha dengan Islam. Ini adalah salah satu fakta yang membuka mata saya juga. Sebab, budaya pesantren tidak dikenal di negara-negara lain selain Indonesia. Diyakini juga, pola pendidikan pesantren memiliki efek besar terhadap proses Islamisasi penduduk nusantara di samping dakwah melalui jalur kesenian.

Buku ini juga mengungkap bagaimana penyebaran Islam melalui jalur budaya tidak bisa kita lupakan begitu saja. Berbagai adat istiadat yang dikembangkan di jaman kerajaan Demak, banyak yang syarat makna religius, dan oleh karena itulah masih dilestarikan hingga saat ini.

Secara umum menurut saya buku ini sangat bagus. Detail sejarah yang disajikan sangat lengkap. Namun bagi saya, atau Anda, yang menikmati cerita sejarah hanya sebagai sesuatu yang “nice to know” saja, mungkin akan sedikit bosan membaca buku ini. Hal ini tidak lepas dari tujuan utama ditulisnya buku ini yang ingin dibuat sebagai “text book“, untuk meluruskan beberapa sejarah yang sedikit melenceng. Banyak dari buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah, harus direvisi karena beberapa fakta baru yang diungkap oleh KH Agus Sanyoto melalui Atlas Wali Songo.

Buku ini lebih cocok sebagai rujukan bagi para guru sejarah, mahasiswa sejarah, praktisi, serta para sejarawan lain. Namun demikian, siapapun Anda yang menikmati sejarah, memiliki rasa penasaran dengan bagaimana Islam menjadi dominan di Indonesia, bagaimana beberapa adat budaya bisa bernafaskan Islam, ataupun ingin tahu bagaimana sepak terjang para Wali Songo, saya yakin Anda akan menikmati keterkejutan fakta-fakta baru yang menarik di dalam buku ini.

Resensi Buku Hypnotic Writing by Joe Vitale

Jika Anda membaca tulisan ini, maka Anda ingin meningkatkan kualitas tulisan Anda. Anda ingin tahu bagaimana cara menulis yang menghipnotis. Bersyukurlah, karena Anda berada di jalur yang benar.

Siapapun penulis favorit Anda, pasti berhasil membuat karya-karya yang menghipnotis. Novel-novel mereka berhasil menyita waktu Anda berjam-jam hingga Anda merasa seperti setengah sadar masuk ke dalam cerita novel tersebut. Dan bisa jadi Anda ingin meniru keahlian penulis favorit Anda itu. Jika Anda ingin menirukannya, maka tulis ulang saja tulisannya. Ya, tulis ulang! Inilah salah satu metode ampuh latihan menulis menghipnotis yang diajarkan oleh Joe Vitale dalam bukunya Hypnotic Writing.

Saat membaca buku ini, Anda akan tersadar bahwa menulis yang menghipnotis bisa dipelajari. Bagaimana cara merangkai kata sehingga pembaca terus terpaku akan tulisan Anda, sangat bisa kita pelajari. Bahkan melalui buku ini Anda akan dituntun untuk membuat pembaca membeli barang yang Anda jual di tulisan tersebut. Buku ini menguak teknik-teknik menulis yang tidak terbayangkan sebelumnya.



Saya mengetahui sosok Joe Vitale dari buku fenomenal karya Rhonda Byrne berjudul The Secret. Buku ini amat sangat fenomenal. Berhasil membuka mata banyak orang. Berhasil merubah nasib banyak orang menjadi jauh lebih baik, termasuk saya, dan bisa jadi Anda juga. Buku ini menguak rahasia besar salah satu hukum pasti kehidupan: The Law of Attraction, dengan Joe Vitale menjadi salah satu guru dari Rhonda Byrne.

Yang baru beberapa bulan ini saya sadari adalah, Joe Vitale ternyata seorang pakar menulis, pakar pemasaran, pakar penjualan, dan telah berhasil menjual banyak hal menggunakan teknik Hypnotic Writing.

Semua keahlian penjualan Joe Vitale yang lebih banyak ia lakukan dari pemasaran via surel (e-mail), berusaha ia tularkan ke Anda melalui buku Hypnotic Writing. Dalam buku ini ia berhasil membuat sebuah buku yang benar-benar ‘how-to‘, tidak hanya sekedar teori saja, karena memang Joe benar-benar ahli dalam hal ini.

Di awal pengantar buku ini Joe mengatakan bahwa buku ini tidak hanya cocok bagi mereka yang ingin fokus bekerja di bidang marketing, namun buku ini juga cocok bagi Anda yang seorang penulis fiksi, blogger, hingga reporter. Ia juga mengatakan bahwa membaca buku ini saja, Anda akan membaca satu contoh buku yang ditulis dengan teknik Hypnotic Writing. Dan saya telah membuktikan perkataan Joe tersebut.

Di awal-awal bab, Joe akan menjelaskan kepada Anda apakah itu hipnosis, dan apakah itu menulis yang menghipnosis. Menurutnya: “Hypnotic Writing adalah dengan sengaja menggunakan kata-kata untuk memandu orang ke keadaan mental yang terfokus di mana mereka cenderung membeli produk atau jasa Anda.

Kedengaran mengerikan memang pengertian dari Hypnotic Writing ini. Tapi tidak mungkin Anda pungkiri, jika Anda berencana membeli buku ini, dan sebelum membeli Anda mencari resensinya terlebih dahulu, lalu menemukannya di sini, maka Anda ingin menjual lebih banyak lagi tulisan Anda. Benar bukan?!

Lalu dengan terstruktur Joe akan menuntun Anda untuk melihat beberapa contoh tulisan yang tidak menghipnotis –bahkan Joe menyebutnya dengan sampah– lalu mengubah tulisan tersebut menjadi lebih hidup dan menghipnotis. Dengan perlahan dan pasti Anda akan diajak untuk melihat apa yang membedakan antara tulisan jelek dengan tulisan yang mengikat.

Joe juga akan menuntun Anda untuk menggunakan beberapa teknik hipnosis bangun seperti teknik repetisi atau pengulangan, teknik menghentak di awal tulisan untuk mengikat pembaca, dan lain sebagainya. Teknik-teknik sejenis akan terus diajarkan oleh Joe di sepanjang bukunya, hingga Anda akan diminta untuk mencoba membuatnya sendiri.

Yang menarik dari buku ini adalah Joe akan menuntun Anda untuk menjadi Hypnotic Writer, dengan cara yang bisa jadi Anda belum pernah tahu sebelumnya. Dalam buku ini Joe akan menuntun Anda untuk menulis bebas, tanpa berpikir, tanpa perlu melihat layar laptop Anda, tidak boleh diedit sekarang, hingga tulisan itu menurut Anda selesai. Saat ini saya sedang mencobanya sembari menulis paragraf ini. Lalu di tahap selanjutnya, Joe akan meminta Anda untuk menulis ulang tulisan Anda tersebut, mengedit apapun yang bisa diedit, memasukkan semua teknik hipnosis yang diajarkan dalam buku ini, hingga menjadi tulisan yang kuat dan menghipnosis. Joe punya sebuah ungkapan dari Ernest Hemingway yang mengatakan bahwa, “Kebanyakan penulis mengabaikan bagian terpenting ketrampilan mereka–mengedit tulisan mereka, mengasahnya terus sampai setajam pedang matador.”



Bagaimana cara mengedit tulisan Anda, Joe akan mengajari Anda begitu banyak teknik editing, hingga Anda akan membuat para pembaca terpaku tulisan Anda.

Akhir kata, bagi saya buku ini lagi-lagi membuka pikiran saya untuk lebih meningkatkan kualitas tulisan saya. Joe berhasil memasukkan banyak teknik langsung ke dalam otak Anda, bahkan sejak pertama kali membacanya, sehingga Anda ingin segera memraktekkan teknik-teknik tersebut. Dan tentu saja, saya mengawalinya dengan tulisan resensi ini.

Satu kekurangan dari buku ini adalah, banyak contoh-contoh kasus yang sudah tidak relevan dengan jaman now. Beberapa contoh artikel yang diangkat oleh Joe bahkan sangat membosankan hingga saya melewatinya saja. Namun Anda tak perlu khawatir, semua teknik yang diajarkan oleh Joe dalam buku ini menurut saya everlasting, bisa Anda gunakan hingga kapanpun juga.

NB: Buku ini hanya diperuntukkan bagi Anda yang ingin menggunakan teknik menulis hipnosis dengan cara yang baik, bermoral, dan bermartabat!

Resensi Buku Hypnotic Writing by Joe Vitale

Resensi Buku Hypnotic Writing by Joe Vitale

Bagian belakang buku: hanya kembaran saya yang lain 🙂