5C5670A1-845F-4A62-8F07-78F0677C2CB0

Jujur. Dengan segala hormat, dan permohonan maaf untuk Stephanie Meyer beserta seluruh penggemarnya, saya tidak suka novel ini. Bukan karena tulisan yang buruk, atau mungkin sesuatu yang rumit lainnya, saya tidak suka novel ini murni karena selera.

Ya! Saya salah pilih novel! Saya penikmat sains dan saya sangat tergiur dengan sinopsis yang tercetak di cover belakang novel ini. Coba simak baik-baik:

Namun apa yang saya dapat? Bukan novel berbalut sains, namun drama yang hanya sedikit sekali dibumbui sains. Jika saya ilustrasikan, mungkin sains kimia yang dibahas di dalam novel ini hanya sekitar 10% saja, dan sisanya? Drama. Murni drama.

Seberapa dramatisnya?

Novel ini sedramatis sinetron serial striping drama atau film dramatis semacam trilogi Twilight. Oleh karena ini saya berani bilang, saya tidak suka novel ini murni karena selera. Jika Anda penikmat drama, baca novel ini! Tapi jika Anda penikmat novel laga, JANGAN!

Dan ini serius! Kalau saya bilang jangan ya jangan! Dua bulan saya berkutat dengan novel ini, dan apa yang terjadi? Saya belum selesai membacanya! Sesuatu yang sangat tidak benar!

Bahkan hingga beberapa paragraf resensi ini ditulis, saya belum sepenuhnya selesai membaca novel tersebut. Tangan saya sudah gatal ingin komentar.

5C5670A1-845F-4A62-8F07-78F0677C2CB0

(…. Setelah beberapa hari kemudian….)

Dan akhirnya saya berhasil selesai membaca novel ini. Thanks God!

Satu hal yang perlu saya beri komentar adalah, tulisan Meyer terlalu bertele-tele. Sungguh, ini sisi negatif novel ini. Meyer terlalu lama dan terlalu rumit membahasakan benak tokoh utama novel ini. Bagaimana tidak, hanya untuk sebuah kebingungan sang tokoh, Meyer menggambarkannya tidak cukup hanya dengan satu, dua, atau tiga paragraf saja. Bahkan hingga satu halaman penuh. Sangat tidak menarik! Dengan sedikit rasa jengkel (maaf jika subjektif), mungkin cerita di dalam novel ini jika ditulis oleh Dan Brown hanya akan sesingkat 100 halaman. Tidak lebih.

Dan Stephanie Meyer menuliskan novel ini hingga lebih dari 500 halaman.

Sepanjang membaca novel ini saya terus-menerus bertanya kapan semua ini akan berakhir. Setelah berakhir, sungguh, saya benar-benar bersyukur.

Sekali lagi, maaf beribu maaf saya tujukan untuk Stephanie Meyer beserta seluruh penggemarnya jika ulasan saya ini terlalu offensive. Saya hanya ingin mencurahkan kekecewaan saya. Karena bagaimana tidak, selera menulis saya ikut drop juga salah satunya disebabkan oleh salah pilih novel.

*Sekian*

0ED780D9-243D-48FC-945B-CD8D02D64B2F

Bukan Dan Brown namanya jika ia menulis novel tanpa dibumbui kontroversi. Tak terkecuali novel terbaru karyanya berjudul Origin. Kali ini Dan Brown berusaha mengusik kepercayaan kita tentang bagaimana asal-usul kita, dan bagaimana takdir kita di masa depan.

Dari awal membaca bab prolog novel ini saja saya sudah merasa getir. Bahkan saya khawatir, klimaks dari Origin akan segetir Inferno. Apa yang berusaha diangkat oleh Dan Brown seakan benar-benar akan mengguncang iman setiap manusia beragama di dunia. Apalagi di bab-bab awal novel ini, Brown berani mengangkat tokoh-tokoh dengan latar agama Islam, Kristen, dan Yahudi sekaligus.

Gaya penulisan Brown memang, saya akui, HEBAT! Dia selalu berhasil menggabungkan berbagai disiplin ilmu yang mungkin jika kita harus membacanya dari buku lain, kita akan bosan. Tapi Brown selalu berhasil mengangkat berbagai karya seni, tempat-tempat bersejarah, bangunan-bangunan artistik, hingga sains-sains modern, meramu menjadi sebuah sajian dengan runtutan yang luar biasa.

0ED780D9-243D-48FC-945B-CD8D02D64B2F

Saya terkadang justru tertegun … Jangan-jangan Dan Brown ini bisa menggandakan diri untuk selalu bisa menulis novel hebat. Hehehee..

Brown dengan cerdas akan membuat Anda selalu penasaran dengan hal “kontroversi” apa yang berusaha ia ungkapkan melalui novel ini. Dengan plot cerita yang beragam, dari banyak arah, membuat novel ini sangat kaya. Tidak akan membuat Anda terbersit sedikitpun ingin berhenti untuk membacanya.

Satu hal yang menjadi ciri khas novel Dan Brown adalah, Anda akan kesulitan memisahkan antara hal-hal yang nyata di dalam Novel dengan hal-hal yang fiksi. Itu karena kemampuan hipnotic writing Brown yang harus diakui, sangat hebat! Satu kunci penting dari kemampuannya tersebut adalah sebuah ungkapan sederhana yang selalu ia tuliskan di halaman awal novel:

Fakta:
Semua karya seni, arsitektur, lokasi, sains, dan organisasi keagamaan dalam novel ini nyata.

Sebuah pernyataan sederhana, jelas, namun akan membius setiap pembaca sehingga lupa bahwa alur cerita dari novel tersebut adalah fiksi.

Sekilas mengenai novel ini, kali ini Robert Langdon berpetualang di Spanyol untuk memenuhi undangan mantan mahasiswa sekaligus sahabatnya Edmond Kirsch. Kirsch yang seorang ilmuwan atheis yang nyentrik, menyatakan bahwa ia berhasil mengungkap bagaimana awal mula kehidupan di Bumi serta apa yang akan terjadi di masa depan. Kirsch mengadakan presentasi megah di Spanyol yang juga dihadiri oleh Langdon. Namun yang terjadi justru menggemparkan, Kirsch terbunuh sesaat ketika akan memaparkan temuannya. Pembunuhan Kirsch yang ditonton secara tragis oleh jutaan pemirsa di dunia, meninggalkan teka-teki tetang apa yang ditemukannya.

Langdon yang sempat menemui Kirsch sesaat sebelum perhelatan, merasa punya tanggung jawab moral untuk melanjutkan apa yang ingin Kirsch sampaikan kepada dunia. Dibantu oleh calon Ratu Spanyol dan sebuah kecerdasan buatan karya Kirsch, Langdon berusaha mengungkap hal tersebut. Tak ayal, Langdon yang dianggap berbahaya menjadi sasaran pembunuh bayaran selanjutnya.

Tentu saja Langdon berhasil melanjutkan misi Kirsch, namun saya yakin, ending novel ini tidak akan sesuai dengan apa yang Anda harapkan. Masih getir sig, tapi bukan getir yang itu…

Penasaran?
Selamat membaca! 😊