Resensi Buku Hypnotic Writing by Joe Vitale

Jika Anda membaca tulisan ini, maka Anda ingin meningkatkan kualitas tulisan Anda. Anda ingin tahu bagaimana cara menulis yang menghipnotis. Bersyukurlah, karena Anda berada di jalur yang benar.

Siapapun penulis favorit Anda, pasti berhasil membuat karya-karya yang menghipnotis. Novel-novel mereka berhasil menyita waktu Anda berjam-jam hingga Anda merasa seperti setengah sadar masuk ke dalam cerita novel tersebut. Dan bisa jadi Anda ingin meniru keahlian penulis favorit Anda itu. Jika Anda ingin menirukannya, maka tulis ulang saja tulisannya. Ya, tulis ulang! Inilah salah satu metode ampuh latihan menulis menghipnotis yang diajarkan oleh Joe Vitale dalam bukunya Hypnotic Writing.

Saat membaca buku ini, Anda akan tersadar bahwa menulis yang menghipnotis bisa dipelajari. Bagaimana cara merangkai kata sehingga pembaca terus terpaku akan tulisan Anda, sangat bisa kita pelajari. Bahkan melalui buku ini Anda akan dituntun untuk membuat pembaca membeli barang yang Anda jual di tulisan tersebut. Buku ini menguak teknik-teknik menulis yang tidak terbayangkan sebelumnya.



Saya mengetahui sosok Joe Vitale dari buku fenomenal karya Rhonda Byrne berjudul The Secret. Buku ini amat sangat fenomenal. Berhasil membuka mata banyak orang. Berhasil merubah nasib banyak orang menjadi jauh lebih baik, termasuk saya, dan bisa jadi Anda juga. Buku ini menguak rahasia besar salah satu hukum pasti kehidupan: The Law of Attraction, dengan Joe Vitale menjadi salah satu guru dari Rhonda Byrne.

Yang baru beberapa bulan ini saya sadari adalah, Joe Vitale ternyata seorang pakar menulis, pakar pemasaran, pakar penjualan, dan telah berhasil menjual banyak hal menggunakan teknik Hypnotic Writing.

Semua keahlian penjualan Joe Vitale yang lebih banyak ia lakukan dari pemasaran via surel (e-mail), berusaha ia tularkan ke Anda melalui buku Hypnotic Writing. Dalam buku ini ia berhasil membuat sebuah buku yang benar-benar ‘how-to‘, tidak hanya sekedar teori saja, karena memang Joe benar-benar ahli dalam hal ini.

Di awal pengantar buku ini Joe mengatakan bahwa buku ini tidak hanya cocok bagi mereka yang ingin fokus bekerja di bidang marketing, namun buku ini juga cocok bagi Anda yang seorang penulis fiksi, blogger, hingga reporter. Ia juga mengatakan bahwa membaca buku ini saja, Anda akan membaca satu contoh buku yang ditulis dengan teknik Hypnotic Writing. Dan saya telah membuktikan perkataan Joe tersebut.

Di awal-awal bab, Joe akan menjelaskan kepada Anda apakah itu hipnosis, dan apakah itu menulis yang menghipnosis. Menurutnya: “Hypnotic Writing adalah dengan sengaja menggunakan kata-kata untuk memandu orang ke keadaan mental yang terfokus di mana mereka cenderung membeli produk atau jasa Anda.

Kedengaran mengerikan memang pengertian dari Hypnotic Writing ini. Tapi tidak mungkin Anda pungkiri, jika Anda berencana membeli buku ini, dan sebelum membeli Anda mencari resensinya terlebih dahulu, lalu menemukannya di sini, maka Anda ingin menjual lebih banyak lagi tulisan Anda. Benar bukan?!

Lalu dengan terstruktur Joe akan menuntun Anda untuk melihat beberapa contoh tulisan yang tidak menghipnotis –bahkan Joe menyebutnya dengan sampah– lalu mengubah tulisan tersebut menjadi lebih hidup dan menghipnotis. Dengan perlahan dan pasti Anda akan diajak untuk melihat apa yang membedakan antara tulisan jelek dengan tulisan yang mengikat.

Joe juga akan menuntun Anda untuk menggunakan beberapa teknik hipnosis bangun seperti teknik repetisi atau pengulangan, teknik menghentak di awal tulisan untuk mengikat pembaca, dan lain sebagainya. Teknik-teknik sejenis akan terus diajarkan oleh Joe di sepanjang bukunya, hingga Anda akan diminta untuk mencoba membuatnya sendiri.

Yang menarik dari buku ini adalah Joe akan menuntun Anda untuk menjadi Hypnotic Writer, dengan cara yang bisa jadi Anda belum pernah tahu sebelumnya. Dalam buku ini Joe akan menuntun Anda untuk menulis bebas, tanpa berpikir, tanpa perlu melihat layar laptop Anda, tidak boleh diedit sekarang, hingga tulisan itu menurut Anda selesai. Saat ini saya sedang mencobanya sembari menulis paragraf ini. Lalu di tahap selanjutnya, Joe akan meminta Anda untuk menulis ulang tulisan Anda tersebut, mengedit apapun yang bisa diedit, memasukkan semua teknik hipnosis yang diajarkan dalam buku ini, hingga menjadi tulisan yang kuat dan menghipnosis. Joe punya sebuah ungkapan dari Ernest Hemingway yang mengatakan bahwa, “Kebanyakan penulis mengabaikan bagian terpenting ketrampilan mereka–mengedit tulisan mereka, mengasahnya terus sampai setajam pedang matador.”



Bagaimana cara mengedit tulisan Anda, Joe akan mengajari Anda begitu banyak teknik editing, hingga Anda akan membuat para pembaca terpaku tulisan Anda.

Akhir kata, bagi saya buku ini lagi-lagi membuka pikiran saya untuk lebih meningkatkan kualitas tulisan saya. Joe berhasil memasukkan banyak teknik langsung ke dalam otak Anda, bahkan sejak pertama kali membacanya, sehingga Anda ingin segera memraktekkan teknik-teknik tersebut. Dan tentu saja, saya mengawalinya dengan tulisan resensi ini.

Satu kekurangan dari buku ini adalah, banyak contoh-contoh kasus yang sudah tidak relevan dengan jaman now. Beberapa contoh artikel yang diangkat oleh Joe bahkan sangat membosankan hingga saya melewatinya saja. Namun Anda tak perlu khawatir, semua teknik yang diajarkan oleh Joe dalam buku ini menurut saya everlasting, bisa Anda gunakan hingga kapanpun juga.

NB: Buku ini hanya diperuntukkan bagi Anda yang ingin menggunakan teknik menulis hipnosis dengan cara yang baik, bermoral, dan bermartabat!

Resensi Buku Hypnotic Writing by Joe Vitale

Resensi Buku Hypnotic Writing by Joe Vitale

Bagian belakang buku: hanya kembaran saya yang lain 🙂

Tukar Telkomsel Poin dengan Voucher Gramedia

Telkomsel Poin Anda menumpuk di akhir tahun?

Sama…

Hahahahaa…

Dari tahun ke tahun selalu terjadi penumpukan akut t-poin. Dan dari tahun ke tahun pula saya selalu salah memanfaatkannya: ikut undian t-sel poin. Yang tentu saja, berakhir dengan ga dapat apa-apa. Wakakaka… Apa Anda juga mengalami hal yang sama?

Beruntung tahun ini tidak ada gembar-gembor lagi yang namanya undian t-poin. Jadinya saya kudu cari alternatif lain make poin-poin ini. Lha gimana lagi, poin t-sel saya bisa dibilang, banyak. Ada dua kartu halo yang saya piara. Dua-duanya kedaftar pakai paket halo kick yang 150rb. Otomatis tagihan per bulan pasti di atas 165rb (setelah ditambah pajak). Bahkan kadang tagihan salah satunya bisa ampe 200rb pas bulan-bulan sibuk. Ostosmastis, per bulan minimal dapat 100 t-sel poin. Jadi total, setelah ditambah dengan poin pembayaran bulan ini, hingga Desember 2017 ini, si halo 1 dapat poin 1503, dan si halo 2 poinnya 1839. Jadi total 3342 poin. Istimewahh



Berburu voucher pun seketika terhenti di pilihan voucher gramedia. Naaaah,, ini nih sasaran saya! Tukar 350 poin, dapat voucher senilai 50.000 rupiah. Lumayan ini kalo bisa belanja pake voucher doang. Total kan jadi punya voucher 450rb rupiah.

Tapi sempet ragu sih, apa bisa vouchernya digabung-gabung gitu. Sempet browsing sana-sini dan nemu blog lain juga yang cerita kalo semua itu bisa! Banyak voucher bisa dipake di satu kali pembelian. Bahkan ada yang bilang voucher yang ditukarkan dari beda pemilik t-sel poin bisa dipake jadi satu juga. Wah,, wenak tenan ini.

Daripada berlama-lama, langsung nekat saya ngajak istri berangkat ke Surabaya. Langsung meluncur ke Tunjungan Plaza. Putar-putar bentar, tengok sana-sini. Sempet anter istri belanja dikit di Matahari. Dan akhirnya sampai juga di Gramedia TP 1 lantai 4.

Sesampai di sana langsung tanya si mas-mas gimana ini vouchernya. Dan ternyata bener! Beberapa voucher senilai masing-masing 50.000 rupiah hasil penukaran t-sel poin, bisa digabungkan jadi sekali pembelian. Mantab to! Langsung deh saya berburu buku. Tengok sana-sini awalnya saya pengen beli ‘Disruption’-nya Om Rhenald Khasali. Trus ada lagi satu buku baru karya beliau lanjutan Disruption, judulnya ‘Tomorrow is Today’. Tapi kok ya mood saya lagi pengen baca novel. Lagi ga pengen baca yang terlalu berat.

Sebetulnya inti dari apa yang sering disampaikan Om Rhenald di buku beliau ini sudah mulai dibahas di buku sebelumnya yang saya baca: ‘Cracking Zone’. Bahwa dunia ini semakin super dinamis. AMAT SANGAT DINAMIS! Bahkan jika kita yang awam saja, yang mungkin tidak terlalu jatuh terjun ke dunia bisnis, jika hanya diam dan tidak mengambil antisipasi, bisa dipastikan tenggelam. Kenapa bisa demikian? Lha wong, mereka-mereka yang kita kenal dengan generasi milenial, yang lahir di era 2000-an ke atas, sudah punya dunia yang berbeda. Pemikiran yang berbeda. Prinsip hidup beda. Bahkan mereka lebih memprioritaskan piknik daripada beli rumah. Ini fakta lho! Coba aja googling masalah ini. Pemerintah sudah menyadari kok masalah ini.

Nah, itulah kenapa kita ga bisa diem aja. Kudu siap sama dunia yang switching-nya super dinamis cepat ini. Itu yang saya pahami. Dan pemahaman inilah yang membuat saya belok dari buku-buku Om Rhenald, ke novel-novel saja lah. Yang enteng-enteng dulu saja. Hahahahaa,,,

Akhirnya saya pilih novelnya Pakde Dan Brown. ‘Deception Point’. Sama satu novel dia yang sebenarnya sudah saya baca, dari minjem, yang akhirnya kebeli juga, ‘The Da Vinci Code’. Novel ini cocok buat mereka yang belum pernah baca karya Dan Brown, tapi pengen memulainya. Saya sarankan baca dulu Da Vinci Code. Jangan langsung ke ‘The Lost Symbols‘. Bisa-bisa ga nututi ntar ama cerdasnya seni bercerita ala Dan Brown yang penuh fakta teori konspirasi. Ato jangan juga memulai dengan ‘Inferno’, karena Anda akan dibuat jengkel oleh akhir kasus Robert Langdon di episode ini: sangat tragis…

Satu novel lain yang saya pilih adalah ‘Anak Rantau’ karya Mas Ahmad Fuadi. Penasaran dengan gimana cerita lain dari dia. Satu lagi buku yang ternyata, agak serius, ‘Atlas Wali Songo’. Baca judul buku ini aja saya jadi pengen mendalami gimana sih sebenernya para pejuang Islam pertama di Indonesia ini. Terakhir baca-baca sih, mereka adalah utusan dari kekhalifahan Turki Utsmani pada jaman itu. Yaaa,, mari kita buktikan. Nanti saya sempatkan buat resensinya tipis-tipis.

Oke dah,, dapat total empat buku. Setelah saya hitung kasar kira-kira dah lebih lah kalo 450.000. Lumayan juga. Hampir setengah juta. Hahahaa,, luebay

Tukar Telkomsel Poin dengan Voucher Gramedia

Lanjut saya ke costumer service Gramedia dulu. Bilang kalo mo tuker telkomsel poin dengan voucher. Tapi sebelumnya sih saya sudah reedem semua vouchernya. Jadi nanti di CS ini, si mas-nya, akan mengaktifkan voucher kita, dan mengisi semacam kertas voucher dadakan yang di dalamnya ada kode voucher, nomor hp, nama kita, dan nominal nilai vouchernya. Tapi sorry juga ya, ga sempat saya foto kertas vouchernya.



Setelah semua voucher kita pegang, saya sudah pegang 9 voucher, lanjut saja ke kasir buat bayar apa yang kita beli. Di kasir langsung saja voucher kita kasih ke mbak kasirnya. Nanti di akhir proses pembayaran, semua voucher akan diinputkan ke komputer kasir. Dan inilah proses yang agak lama, dan bikin antrian di belakang saya jadi agak panjang. Karena mbak kasirnya ternyata harus input manual dengan mengetik satu-satu kode voucher yang ada ke komputer kasir, sehingga total pembayaran terkurangi 50.000 setiap kode voucher masuk, sampai semua kode voucher terinput. Saya ampe minta maaf ke si mbak kasir karena harus input manual sembilan kode voucher. Ya, namanya pelayanan ya, si mbak sih sambil senyum-senyum manis bilang gapapa. Hehehehee..

Tapi semua proses antri dan tetek bengek itu sepadan kok, sangat sepadan, bahkan lebih dari sepadan. Lha gimana nggak? Wong belanja total 492.000 rupiah, cuman harus bayar 42.000 doang. Hahahahaa,, penak tenan!

Tukar Telkomsel Poin dengan Voucher Gramedia