Resensi Buku #9-19: ……….. (banyak) ……….. (Bagian 2)

F56C1533-8D62-4312-86CB-2326D2689E81

Penat, lelah, kurang tidur, itulah yang kami alami seminggu sebelum toko kami buka.

Segala macam persiapan memuncak di seminggu terakhir itu. Memasang label harga, memasukkan ke dalam sistem kasir, semua kami lakukan berdua saja.

Hari buka toko pun tiba. Senang, stress, campur deg-degan pastinya, jadi perasaan yang terus menghimpit kami.

Tapi yang patut kami syukuri saat itu adalah: Yes, akhirnya sepasang kekasih ini punya anak juga. Dan namanya adalah Keeza. Hehee,, dari awal Keeza memang sudah kami rasa seperti anak kandung kami. Sekalipun wujudnya saja yang unik.

Lalu muncul satu pertanyaan besar: bagaimana kami bisa bertahan?

Memang harus diakui, momen buka toko kami cukup dibantu oleh teman-teman kantor istri saya yang sudah jadi langganan dia sebelumnya. Ditambah dengan sedikit polesan di sosial media, teman-temannya yang lain pun jadi ikut meramaikan.

Tapi kondisi hype ini kira-kira hanya bisa bertahan 2 bulan saja. Setelah itu? Sepi!

Dan stress kembali menyerang. Kami harus memutar otak bagaimana supaya bisa menjangkau pasar yang lebih luas.

Fase Setelah Toko Buka

Kondisi ini sebenarnya sudah bisa saya perkirakan sebelumnya. Tidak mungkin kalau kita hanya mengandalkan satu komunitas saja agar bisa sustain untuk jangka panjang.

Maka ancang-ancang yang saya ambil sedari awal adalah: buku marketing.

Beruntung Indonesia memiliki satu tokoh di bidang marketing yang sudah mendunia. Ia adalah Hermawan Kartajaya. Buku karyanya yang sebelumnya sudah saya baca, Citizen 4.0, menuntun saya untuk melahap buku-buku bapak pendiri Markplus Inc. ini.

Selain Citizen 4.0, higga saat ini saya sudah membaca 3 buku lain karya kakek Hermawan ini: Marketing 4.0, Planet Omni — The New Yin Yang of Business, serta WOW Marketing. Dan berikut sedikit resensi dari saya.

Marketing 4.0 by Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, Iwan Setiawan

Kalo kakek Hermawan dijuluki Bapak Marketing Indonesia, maka Philip Kotler adalah Bapak Marketing Dunia. Sudah lama ia menjadi rujukan banyak pihak mengenai bagaimana trend dunia marketing dunia. Bersama Iwan Setiawan, seseorang yang sering disebut Hermawan akan jadi suksesornya di Markplus Inc., mereka meramu konsep marketing modern yang — menurut saya — sangat textbook. 🤭😁

Isi dari buku ini semuanya konten, sangat padat ilmu marketing. Sulit bagi saya yang super awam masalah marketing ini untuk bisa meng-highlight mana yang harus saya praktekan. Sesekali saya butuh diskusi tipis dengan teman 4.0 saya (baca tulisan saya sebelumnya di sini).

Maka selanjutnya yang perlu saya perhatikan sebagai pemula di dunia bisnis adalah sesuatu yang dikenal dengan istilah customer path.

Customer path adalah tahapan-tahapan konsumen sejak sebelum membeli sesuatu, hingga apa yang terjadi setelah memiliki sesuatu tersebut.

Konsep Customer Path sebenarnya sudah lama ada, namun buku Marketing 4.0 menawarkan sebuah konsep tahapan baru dari yang sebelumnya 4A (Aware, Attitude, Act, Act again), menjadi 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, Advocate).

  • Aware : Tahapan konsumen ketika ia hanya sekedar tahu akan keberadaan sebuah barang, jasa, atau suatu merek.
  • Appeal : Tahapan ketika konsumen mulai tertarik terhadap produk yang sebelumnya sudah ia ketahui.
  • Ask : Tahapan ketika konsumen mencari informasi lebih lanjut mengenai produk yang sudah menarik hatinya. Proses ini bisa berupa googling, tanya-tanya teman/saudara, menghubungi langsung produsen, atau hingga mengamati reputasi toko di lapak online misalnya.
  • Act : Ketika konsumen memutuskan untuk membeli produk yang dimaksud inilah disebut tahapan Act.
  • Advocate : Tahapan inilah yang menjadi pembeda dari konsep customer path sebelumnya. Sesuai dengan jaman now, dimana banyak konsumen yang langsung update status ketika ia baru saja membeli sesuatu. Bisa juga secara verbal konsumen tersebut menceritakan pengalamannya menggunakan produk yang baru ia beli ke orang lain yang bertanya. Maka dari itu, tahapan ini sangat berkaitan dengan tahapan Ask.

Customer path ini sebenarnya baru konsep dasarnya saja. Di dalam buku Marketing 4.0 konsep ini dikembangkan terus menjadi banyak hal, seperti konsep untuk mengukur efektivitas pemasaran menggunakan metode PAR dan BAR, hingga beberapa metode marketing yang cocok digunakan di jaman now yang serba digital ini.

Oke, lanjut!

Planet OMNI by Hermawan Kartajaya, Jacky Mussry, Edwin Hardi

Planet OMNI diluncurkan bertepatan dengan ultah Opa Hermawan yang ke-71 tahun lalu (2018). Dan sesuai judul buku ini, isinya adalah mengajak kita untuk tidak berfokus pada satu sisi koin mata uang saja. Tapi bagaimana kita bisa menggabungkan banyak faktor yang saling bertolak belakang untuk bisa survive di era VUCA ini.

Apa itu era VUCA. VUCA adalah kepanjangan dari Volatility in Change (perubahan yang sedang hype), Uncertainty in Competitor (kompetisi yang dinamis), Complexity in Customer (konsumen yang rewel), dan Ambiguity in Company (kebingungan di dalam perusahaan).

Inilah kondisi dunia bisnis saat ini. Perubahan yang sangat super cepat. Kondisi kompetisi yang tanpa tede aling-aling. Konsumen yang kemauannya ga jelas — paling ga ini yang banyak dikeluhkan orang. Hingga kondisi internal perusahaan yang bingung dalam menghadapi segala bentuk perubahan itu.

Maka Planet OMNI memperkenalkan obat penawar VUCA yang mereka sebut dengan DAMO. Apakah itu DAMO?

  • Discover the New Thing. Kalo saya boleh singkat-ceritakan sih ini bahasa kerennya KREATIF.
  • Adventure the New Way. Nah ini menarik. Dengan kondisi yang penuh ketidakpastian ini jelas pelaku bisnis pemula kayak saya harus doyan jalan-jalan. Adventure. Tapi maksudnya harus masih di dalam koridor bisnis lah. Misal rajin baca buku baru, nyobain cara marketing baru, pokoknya ga boleh tutup mata lah sama cara-cara baru yang bisa jadi, sudah dipraktekan oleh pakar lain dan berhasil.
  • Set the New Momentum. Naaaah. Ini juga cincai! Konsep ini sevisi sama bukuna Om Rhenald yang #MO. Nanti saya bahas agak panjang di sana aja.
  • Imagine the New Look. Kalo ini lebih ke membangun mindset bisnis yang terbuka. Mau mengakui kalo perubahan itu sifatnya kekal. Jadi ya kudu adaptif.

Konsep VUCA vs DAMO inilah yang jadi latar belakang kenapa pebisnis harus punya DNA OMNI. OMNI tidak hanya dalam artian omni channel ya — punya toko online dan offline biasa dikenal dengan omni channel. Tapi omni dalam banyak hal.

Saya ambil contoh satu saja.

Produktifitas dengan Kreatifitas ini adalah dua hal yang saling bertolak belakang. Orang yang produktif belum tentu kreatif, dan begitulah sebaliknya.

Namun apa yang dituntut oleh jaman now? Ya produktif. Ya kreatif.

Kalo kreatif ya jangan angin-anginan, nunggu mood misal, atau nunggu kepepet dulu baru ide bisa keluar.

Kedua-dua sifat ini — sebisa mungkin — bersinergi agar perusahaan bisa terus lariiiissss maniiiiissss. Hehehehee…

Pengen tau faktor OMNI lainnya? Saya sarankan sih dibaca aja buku ini.

WOW Marketing by Hermawan Kartajaya & Iwan Setiawan

Nah! Konsep WOW Marketing ini yang saya suka. Intinya adalah gimana caranya si pembeli bisa mendapatkan perasaan WOW, ketika memakai produk kita.

WOW adalah tingkatan kepuasan pelanggan yang paling tinggi bisa dirasakan oleh konsumen. Ketika konsumen sudah bilang “WOW!” maka dijamin, dia akan kembali ke kita.

Suatu malam Keeza menerima order dari salah satu pengguna Shopee. Setelah paket siap, langsung kita antar ke JNT keesokan paginya.

Lha kok ternyata paketan sampe esok harinya lagi belum berubah juga statusnya dari dikemas menjadi dikirim. Gimana ga puyeng nuebie kayak Keeza yang lagi butuh reputasi bintang lima sebanyak-banyaknya ini.

Tapi apa yang kami lakukan?

Sejak itu kami paham kalo truk ekspedisi JNT terakhir berangkat sekitar jam 09.30 malam. Jadi ketika esok harinya lagi kami ada orderan Shopee dari kota kampung halaman Sidoarjo, kami langsung antarkan malam itu juga sebelum jam 09.00 malam, sambil sedikit menodong ke mas-mas JNT-nya “Mas, bisa ikut jalan malam ini kan?”

”Oh, bisa mbak.” waktu itu istri saya yang antar paketan ke JNT.

Dan hanya dalam hitungan beberapa jam saja, paketan sudah sampai di tangan pembeli. Tahukah gimana review nya? Baca sendiri ya.

IMG_0625

Belum selesai ceritanya ini. Hari itu juga, dia order lagi produk yang sama. Alhamdulillaaah…

Inilah WOW!

Perencanaan Bisnis by Hery, S.E., M.Si., CRP., RSA., CFRM.

Panjang amat Om titelnya? 🤭✌️😁 Just kidding Om…

Tapi anyway buku ini oke lah. Lumayan doang tapi. Sorry to say. Mungkin ada yang ga setuju dengan saya gapapa. Open saja. Saya lebih prefer buku Value Proposition Design buat jadi pegangan buka bisnis.

Tapi ada satu bahasan yang menurut saya masyuk dari buku ini. Yaitu pas dia membahas gimana strategi mengalahkan pemain yang lebih besar. Ini beberapa tipsnya:

  1. Aturan 1: Jangan ikuti permainan mereka. Konsep dasarnya adalah jangan sampai mempertemukan kelemahan kita dengan kelebihan mereka. Misal kalau pemain besar sangat dimungkinkan bermain di harga murah, maka kita ya jangan ikut bersaing di ranah harga murah itu. Sudah pasti kita akan kalah.
  2. Aturan 2: Kalahkan para pesaing bsar di area yang tidak mereka masuki. Ini sejalan dengan konsep diferensiasi yang ditekankan oleh Opa Hermawan Kartajaya di buku Planet OMNI (konsep lengkapnya adalah Positioning, Differentiation, dan Brand). Dimana kita harus bisa fokus ke faktor lain yang tidak menjadi kekuatan pemain besar. Misal kualitas, pelayanan, variasi barang, dan yang lainnya.
  3. Aturan 3: Pekerjakan orang terbaik dan latihlah mereka. Ini yang saya lakukan. Bersyukur saya dapat anak-anak yang super pinter, milenial, dan cepat belajar. Saya juga ga ragu merogoh kocek pribadi buat ngasih pelatihan komunikasi ke mereka. Hasilnya? Amat sangat ngefek! Pelayanan mereka top. Bisa saya klaim kualitas pelayanan mereka ini justru bisa jauh melampaui toko-toko dengan merek terkemuka yang ada di kota ini. Ya sekalipun kota kecil tapi ada kok toko besar di sini.
  4. Aturan 4: Lakukanlah hal-hal yang telah ditinggalkan perusahaan besar. Ini misalnya ketika pemain besar berhenti menjual barang A — misal karena keterikatan kontrak atau apapun — maka Anda bisa mulai menjual barang A tersebut karena bisa jadi ada beberapa segmen yang sudah kadung menggunakan barang tersebut.
  5. Aturan 5: Kalahkan perusahaan besar dalam hal layanan. Yes, indeed! Ini sudah tidak perlu diragukan lagi!

Financial Management Canvas by Kho Sin Hien & Fransiska Ida Mariani

Buku ini dibuat ala-ala Business Model Generation. Tapi bukan termasuk rangkaian karya Prof Alex Osterwalder.

Kalo kamu pengen belajar gimana caranya membuat atau hanya sekedar membaca laporan neraca keuangan, laba-rugi, cash flow, buku ini jawabannya. Coba kalo buku ini sudah ada pas jaman SMA dulu ada pelajaran akuntansi, paling nggak saya dapat B lah. Hahahahaa…

Buku ini menjelaskan gimana itu akuntansi beserta tetek bengek-nya dengan amat sangat mudah. Saya yang orang teknik aja langsung klik. Apalagi kamyu… eaaaa…

Buku ini selingan saja sih waktu itu. Jadi saya bisa ancang-ancang kalo nanti akhir tahun caranya gimana bikin laporan keuangan jadi paham lah. Meskipun pasti lebih banyak istri saya yang andil kalo ini. Hahahahaa…

Oke,, dua buku lagi…

Scale Up Jilid 1 by Alfan Robbani dan Afrig Wasiso

Saya beli buku ini karena kemakan oleh iklan video yang berisikan suara Mardigu Wowik. Salah seorang pengusaha sukses di Indonesia. Dan berikut beberapa kesimpulan saya terhadap buku ini.

Buku ini powerful di satu sisi, tapi ruwet di sisi lain. Gapapa tapi, kita fokus di sisi powerful-nya. Kenapa? Karena melalui buku ini penulis berbagi cara ampuh yang sudah terbukti beberapa kali ia pakai untuk mementaskan beberapa model bisnis dari sala UMKM ke skala 2.0, bebas hutang. ini yang menarik.

Penulis menawarkan sebuah Winning Formula yang berisikan 4 hal:

  1. Winning Market
  2. Winning Product
  3. Winning Campaign
  4. Winning Conversion

Konsep yang ditawarkan buku ini sederhana sebetulnya. Tapi jujur, saya menemukan benang merah dari apa-apa semua yang saya pelajari mengenai bisnis, setelah membaca buku ini.

Saya tidak berani berkomentar banyak mengenai buku ini, karena buku ini sifatnya praktis. Sehingga baru bisa dikatakan MAKNYUS, kalo saya sudah berhasil scaled up.

InsyaAllah…

#MO by Rhenald Kasali

Membaca buku ini seperti kepala Anda ditabok buku setebal 1000 halaman.

MANTABBBBB!!!

Buku ini melawan konsep marketing kuno. Bahkan sekilas, Rhenald Kasali seperti beradu tinju dengan Hermawan Kertajaya.

Padahal jika diperhatikan dengan seksama, keduanya saling melengkapi.

Oke jadi bagaimana isi #MO? Silahkan simak postingan saya di akun instagram saya berikut.


View this post on Instagram

AWAS BUKU BERBAHAYA! Bahaya, karena buku ini konkret ngasih tool ke pembaca gimana caranya bikin konten supaya viral! Kenapa saya kasih label bahaya? 1. Karena kalo disalahgunakan bisa bahaya! 2. Karena dua contoh besar yg dibahas di bab 1-3B adalah tentang ini: • Gimana bisa isu #orangutan ampe bisa menghadang ekspor produk2 sawit Indonesia ke Uni Eropa. • Gimana dulu kecanggihan ISIS dalam memanfaatkan media2 sosial dan memviralkan banyak hal sehingga bisa merekrut simpatisan dari banyak negara. Adalah teori SHARE yang digagas dalam buku ini yang membuat saya gatal pengen cepet2 posting tulisan ini. Padahal SHARE baru dibahas di bab 3B, belum ampe separuh dari semua halaman buku ini sodara-sodara! Teori SHARE dan teori 5 Penggerak Jari yg dipaparkan inilah yg menurut saya hebat! Super hebat! Saya super salut dengan analisa Prof Rhenald dan tim beliau. Teori SHARE ini aplikatif! Namun WAJIB hanya dipakai oleh mereka yg berhati nurani penuh CINTA. Ciee,, cieeee. Tak lanjut baca dulu ya pemirsa. #MO #RumahPerubahan @rumah_perubahan #RhenaldKasali

A post shared by Onny Apriyahanda (@onny) on

Sengaja saya embed-kan postingan saya di instagram itu karena memang buku ini sangat powerful. Mobilisasi dan Orkestrasi sudah menjadi metode pemasaran modern saat ini.

Saya sengaja tidak akan menjabarkan apa isi dari SHARE, karena jujur, saya takut ilmu ini disalahgunakan.

Jadi kalo Anda sudah yakin hati Anda bersih, silahkan beli dan praktikan ilmu dari buku ini.

Sekian.

Tinggalkan Jejak Anda di Sini