F858677E-6FBE-43F7-BD19-92CA9F02B7A2

Tidak perlu diragukan lagi bahwa Dan Brown memang salah satu penulis terbaik novel bergenre action atau thriller, terserah bagaimana Anda menyebutkannya. Brown selalu berhasil menulis sebuah novel penuh ketegangan dan teka-teki di setiap halamannya. Ia selalu berhasil meramu beberapa tema spesifik – yang tentu tidak pernah melewatkan tema sains – menjadi sebuah kesatuan cerita yang utuh.

Tak terkecuali karya Brown yang baru sempat saya baca yakni berjudul Deception Point. Jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia artinya adalah Titik Kebohongan/Penipuan. Novel ini berhasil meramu dunia politik yang penuh intrik, dengan ilmu sains yang begitu luas mencakup sains antariksa, kelautan, geologi, penerbangan, dan masih banyak lagi.

Brown memang seorang penulis sains fiksi yang genius. Namun jangan salah sangka dengan sains fiksi karyanya. Brown tidak pernah menulis teknologi maupun sains yang tidak pernah atau belum pernah ada di kehidupan saat ini. Kesemua sains dan teknologi apapun di semua novel yang ia tulus selalu adalah fakta. Bahkan tempat hingga detail lokasi apapun yang ia gambarkan di dalam karyanya adalah nyata.

Menurut saya hanya ada dua hal yang fiktif di dalam karyanya: plot cerita dan nama tokoh.

Pada Deception Point, Brown berani mengambil setting di area yang cukup sensitif yakni Gedung Putih, NASA, dan salah satu lembaga intelegen Amerika Serikat, NRO (The National Reconnaissance Office), serta satuan khusus angkatan bersenjata milik AS yakni Delta Force.

Adalah seorang Rachel Sexton, perempuan berparas cantik pegawai NRO, yang sekaligus adalah anak semata wayang Senator Sedgewick Sexton, calon kuat Presiden Amerika Serikat selanjutnya yang sangat licik. Suatu ketika Rachel dipanggil langsung oleh Presiden Amerika Serikat saat itu, Zachary Herney, untuk terlibat dalam pengumuman sebuah temuan penting NASA.

Awalnya Rachel merasa ia dimanfaatkan secara politis oleh presiden karena statusnya sebagai anak pesaing utama pemilu presiden selanjutnya, sekalipun Rachel juga tidak mendukung ayahnya dalam pemilu tersebut. Namun ternyata apa yang Rachel alami justru lebih dari sebuah jebakan dunia politik yang licik. Ia justru terlibat dalam sebuah konspirasi besar yang mengancam nyawanya.

Rachel beserta beberapa rekan ilmuwan yang baru ia kenal diburu habis-habisan oleh pasukan khusus rahasia Delta Force. Hal tersebut terjadi karena mereka secara tidak sengaja menguak fakta konspirasi yang melibatkan otoritas tertinggi Amerika Serikat. Dua ilmuwan tewas, pasukan rahasia berhasil mengubur rahasia konspirasi tersebut sekalipun hanya sementara saja.

Tiga anggota Delta Force terus memburu Rachel dan dua rekan ilmuwan yang tersisa. Ketiganya harus beberapa kali berjibaku mempertahankan nyawa mereka, sembari terus mengembangkan bukti konspirasi yang mereka temukan.

Di pihak lain, Senator Sexton yang selama ini selalu berhasil menyerang kebobrokan NASA pada setiap kesempatan kampanyenya, awalnya merasa hancur ketika Presiden Herney mengumumkan temuan NASA yang menggemparkan ini. Namun ketika ia menemukan kejanggalan pada temuan tersebut, iapun menyiapkan serangan balik kepada NASA dan Gedung Putih.

Berhasilkah Senator Sexton menyerang balik Gedung Putih? Dan bagaimana dengan Rachel? Apakah ia berhasil bertahan hidup?

Novel ini benar-benar hidup! Semua plot cerita hanya mengisahkan sebuah perjalanan waktu singkat yang tak lebih dari 36 jam. Padat! Alur yang variatif dari berbagai sudut. Sangat khas Dan Brown.

Novel ini sangat saya rekomendasikan bagi Anda yang tidak gemar membaca. Maaf, saya tidak sedang bergurau! Karena sekali Anda membaca halaman pertama novel ini, Anda tidak akan pernah bisa menghentikan mata Anda untuk membaca halaman-halaman berikutnya!

0ED780D9-243D-48FC-945B-CD8D02D64B2F

Bukan Dan Brown namanya jika ia menulis novel tanpa dibumbui kontroversi. Tak terkecuali novel terbaru karyanya berjudul Origin. Kali ini Dan Brown berusaha mengusik kepercayaan kita tentang bagaimana asal-usul kita, dan bagaimana takdir kita di masa depan.

Dari awal membaca bab prolog novel ini saja saya sudah merasa getir. Bahkan saya khawatir, klimaks dari Origin akan segetir Inferno. Apa yang berusaha diangkat oleh Dan Brown seakan benar-benar akan mengguncang iman setiap manusia beragama di dunia. Apalagi di bab-bab awal novel ini, Brown berani mengangkat tokoh-tokoh dengan latar agama Islam, Kristen, dan Yahudi sekaligus.

Gaya penulisan Brown memang, saya akui, HEBAT! Dia selalu berhasil menggabungkan berbagai disiplin ilmu yang mungkin jika kita harus membacanya dari buku lain, kita akan bosan. Tapi Brown selalu berhasil mengangkat berbagai karya seni, tempat-tempat bersejarah, bangunan-bangunan artistik, hingga sains-sains modern, meramu menjadi sebuah sajian dengan runtutan yang luar biasa.

0ED780D9-243D-48FC-945B-CD8D02D64B2F

Saya terkadang justru tertegun … Jangan-jangan Dan Brown ini bisa menggandakan diri untuk selalu bisa menulis novel hebat. Hehehee..

Brown dengan cerdas akan membuat Anda selalu penasaran dengan hal “kontroversi” apa yang berusaha ia ungkapkan melalui novel ini. Dengan plot cerita yang beragam, dari banyak arah, membuat novel ini sangat kaya. Tidak akan membuat Anda terbersit sedikitpun ingin berhenti untuk membacanya.

Satu hal yang menjadi ciri khas novel Dan Brown adalah, Anda akan kesulitan memisahkan antara hal-hal yang nyata di dalam Novel dengan hal-hal yang fiksi. Itu karena kemampuan hipnotic writing Brown yang harus diakui, sangat hebat! Satu kunci penting dari kemampuannya tersebut adalah sebuah ungkapan sederhana yang selalu ia tuliskan di halaman awal novel:

Fakta:
Semua karya seni, arsitektur, lokasi, sains, dan organisasi keagamaan dalam novel ini nyata.

Sebuah pernyataan sederhana, jelas, namun akan membius setiap pembaca sehingga lupa bahwa alur cerita dari novel tersebut adalah fiksi.

Sekilas mengenai novel ini, kali ini Robert Langdon berpetualang di Spanyol untuk memenuhi undangan mantan mahasiswa sekaligus sahabatnya Edmond Kirsch. Kirsch yang seorang ilmuwan atheis yang nyentrik, menyatakan bahwa ia berhasil mengungkap bagaimana awal mula kehidupan di Bumi serta apa yang akan terjadi di masa depan. Kirsch mengadakan presentasi megah di Spanyol yang juga dihadiri oleh Langdon. Namun yang terjadi justru menggemparkan, Kirsch terbunuh sesaat ketika akan memaparkan temuannya. Pembunuhan Kirsch yang ditonton secara tragis oleh jutaan pemirsa di dunia, meninggalkan teka-teki tetang apa yang ditemukannya.

Langdon yang sempat menemui Kirsch sesaat sebelum perhelatan, merasa punya tanggung jawab moral untuk melanjutkan apa yang ingin Kirsch sampaikan kepada dunia. Dibantu oleh calon Ratu Spanyol dan sebuah kecerdasan buatan karya Kirsch, Langdon berusaha mengungkap hal tersebut. Tak ayal, Langdon yang dianggap berbahaya menjadi sasaran pembunuh bayaran selanjutnya.

Tentu saja Langdon berhasil melanjutkan misi Kirsch, namun saya yakin, ending novel ini tidak akan sesuai dengan apa yang Anda harapkan. Masih getir sig, tapi bukan getir yang itu…

Penasaran?
Selamat membaca! 😊