Mungkin buku ini jadi salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Buku ini komplit, bahkan terlalu komplit. Tidak hanya membahas tentang pandangan hidup alias “Prinsip”, tapi lengkap beserta caranya. Cara yang dijelaskan oleh Ray Dalio tidak hanya untuk diri seseorang yang membaca, tapi juga lengkap dengan bagaimana jika “Prinsip” ini akan diaplikasikan ke sebuah organisasi atau perusahaan.
Jika harus diringkas, buku ini membahas tiga hal besar. Yang pertama, buku ini membahas perjalanan hidup penulis, Ray Dalio. Salah seorang miliarder sukses pendiri lembaga hedgefund terbaik masa kini, Bridgewater. Bagaimana kisah lengkap jalan hidupnya, dari seorang anak kecil yang beruntung di pasar saham, hingga bagaimana arogansi dan kepercayaan dirinya yang berlebihan sempat hampir menghancurkan kariernya, dibahas dengan sangat epik di bagian awal buku ini. Berlatar belakang bagaimana Ray Dalio membangun kerajaan bisnisnya, di bagian bibliografinya ini ia mulai memperkenalkan apa “Prinsip” hidupnya. Bagian mengenai biografi Ray Dalio tidak akan saya bahas mendalam di resensi ini, karena tentu saja membacanya secara langsung lebih mandes daripada membaca ringkasannya.
Bagian kedua buku ini adalah petunjuk teknis, langkah, bagaimana “Prinsip” bisa diterapkan ke diri Anda pribadi. Dan di bagian ketiga, bagaimana “Prinsip” ini diterapkan di sebuah organisasi atau perusahaan.
Lalu apa sebenarnya “Prinsip” yang dimaksud oleh Ray Dalio ini?
Jujur saja, saya tidak bisa dengan mudah menyimpulkan apa “Prinsip” tersebut kedalam sebuah kalimat singkat. Karena menurut saya, Ray Dalio membangun konsep Principle ini melalui proses yang sangat panjang, serta memiliki kebergantungan erat antara poin prinsip yang satu dengan yang lainnya. Ya, benar! “Prinsip” yang dikembangkan oleh Ray Dalio ini berisi beberapa core, atau inti, yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.
1. Radical Open-Minded.
2. Setiap orang punya cara berpikir berbeda-beda.
3. 5 tahapan proses kehidupan.
4. Radical Truth and Radical Transparency.
5. Meritokrasi.
6. Believability-weight, dan; Siapa, lebih penting dari Apa.
7. Kecerdasan Buatan.
Sekilas, poin pertama, kedua, dan ketiga di atas seperti lebih fokus ke diri pribadi seseorang. Dan memang begitu adanya. Di bagian kedua buku ini, Ray memang fokus menjelaskan prinsip-prinsip hidup terbaik bagi setiap orang yang menginginkan kesuksesan. Dan semua itu dimulai dari karakter pribadi masing-masing. Meskipun masih banyak prinsip yang lain, saya akan fokus meringkas tiga prinsip utama ini. Dan untuk poin keempat hingga ketujuh, masuk ke bagian ketiga buku ini, menjelaskan tentang prinsip-prinsip di tempat kerja.
Radical Open-Minded.
Prinsip pertama ini menjadi dasar dari semuanya. Berpikiran terbuka menjadi pondasi dari prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Ray Dalio di bukunya ini. Kita diajarkan untuk mau membuka pikiran kita. Pakai kedua telinga kita untuk benar-benar mendengarkan. Dengarkan pendapat orang lain. Dengarkan bagaimana pandangan orang lain. Berusaha mencerna sudut pandang orang lain. Tak peduli kita akan setuju atau tidak, dengarkan saja dulu. Urusan pendapat mana yang salah mana yang benar, nanti ada masanya untuk “diadu”. Yang terpenting pertama, setiap orang berhak berpendapat, sekaligus punya kewajiban untuk mendengarkan pendapat orang lain. Kenapa ini penting? Jawabannya ada di poin yang kedua.
Setiap Orang Punya Cara Berpikir Berbeda-beda.
Saya teringat dengan teori neuroplastisitas, dimana sebenarnya sistem neuron di otak kita memiliki sifat plastis yang bisa saling terkait antara neuron yang satu dengan yang lainnya, bergantung dari “kebiasaan-kebiasaan” atau latihan-latihan yang biasa kita lakukan. Dan karena setiap orang punya kebiasaan berbeda-beda, pola melatih pikiran dengan cara berbeda-beda, ini membuat dari sekian miliar penduduk Bumi memiliki cara pandang dan cara berpikir yang berbeda-beda.
Di sinilah Ray menekankan, bahwa jika memahami konsep ini, ditambah dengan kita mau mendengarkan pendapat orang lain, dengan perspektif yang lebih luas, keputusan dapat diambil dengan lebih tepat. Bisa jadi jika Anda ngeyel dengan keputusan yang berasal dari cara pandang Anda sendiri, mungkin besok atau lusa Anda akan bangkrut. Sementara di samping Anda, ada rekan Anda yang sebelumnya sudah melihat jika sebenarnya Anda sedang terjerumus di sebuah penipuan ponzi berkedok koin crypto. Namun sejak awal Anda tidak mau mendengarkan pendapatnya.
5 Tahapan Proses Kehidupan.
Seterjerumus-terjerumusnya Anda, ada dua pilihan menanti di depan Anda, diam pasrah hingga semakin terjerumus masalah, atau justru “merencanakan” keterjerumusan Anda agar bisa bounce-back lebih tinggi mencapai tujuan Anda. Inilah yang diharapkan oleh Ray Dalio agar setiap pembaca bukunya selalu bersiap menghadapi setiap kesulitan, setiap masalah, setiap tantangan, seolah itu semua adalah bahan bakar roket pengejar cita-cita Anda. Silahkan perhatikan diagram ilustrasi di bawah ini yang saya kutip langsung dari situs resmi milik Ray Dalio.

Berikut kelima tahapan proses sesuai ilustrasi di atas:
- Punya target yang jelas.
- Identifikasi masalah, dan jangan biarkan masalah itu menghalangimu mencapai tujuan.
- Diagnosa masalah secara akurat hingga ke akar permasalahan.
- Susun rencana untuk mengatasi masalah.
- Lakukan apa yang harus dilakukan agar rencana yang sudah disusun mendapatkan hasil yang sesuai harapan.
Lima tahapan di atas sekilas memang mirip prinsip Kaizen yang populer berasal dari Jepang. Namun keduanya berbeda fokus. Jika Kaizen lebih fokus ke perbaikan terus-menerus meskipun hal kecil terhadap sebuah sistem, sedangkan lima tahapan proses lebih berfokus terhadap strategi menghadapi masalah yang menghalangi Anda mencapai tujuan.
Radical Truth and Radical Transparency.
Prinsip keempat ini merupakan pondasi dari prinsip-prinsip di tempat kerja yang dijelaskan di bagian ketiga. Namun konsep radical truth dan radical transparency ini sangat tidak mungkin dilakukan jika prinsip radical open-minded tidak dijalankan. Maka dari itu sedari awal saya menyebutkan jika kesemua prinsip ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Secara sederhana, bagian ketiga buku tentang prinsip-prinsip di tempat kerja. Sebuah organisasi atau perusahaan, yang disebut oleh Ray Dalio sebuah mesin kerja, tersusun atas dua komponen penting: budaya dan orang.
Di poin keempat ini, radical truth dan radical transparency, atau yang bermakna kejujuran radikal dan keterbukaan radikal, menjadi dasar dari konsep organisasi meritokratis yang dikembangkan oleh Ray Dalio. Prinsip ini bisa dijabarkan menjadi nilai-nilai berikut ini:
- Setiap orang berhak mengemukakan pendapat, atau ketidaksependapatan baik langsung kepada orang lain atau di dalam forum. Namun Ray menekankan jika semua pendapat itu harus berdasarkan data-data valid. Menyampaikan pendapat ini harus benar-benar terbuka, tanpa ada yang ditutupi, dan tidak boleh ada rasa sungkan sedikitpun. Budaya ini sangat bertolak-belakang dengan kebiasaan kita di instansi-instansi terkait yang cenderung ewuh pakewuh, alias sungkan dan mempertimbangkan perasaan orang lain. Justru budaya ini sangat ditentang oleh Ray Dalio di buku ini.
- Setiap orang di perusahaan harus transparan, terbuka, atas semua pekerjaan atau pemikiran yang ia punya. Tidak boleh ada yang disembunyikan. Konsep ini bertujuan agar orang lain dapat mengoreksi kesalahan yang sangat mungkin dilakukan olehnya. Namun Ray juga mengingatkan, meskipun demikian, radical transparency juga ada batasan khusus di ranah privasi yang tentu saja tidak perlu diketahui oleh orang lain.
- Konsep keterbukaan ini tentu akan menimbulkan perdebatan, dan memang itulah caranya. Ingat ya, perdebatan bukanlah tujuan, tapi cara untuk mencari mana pendapat terbaik. Setiap pendapat harus didasari oleh data valid, dan argumen logis. Tentu saja tidak boleh ada pendapat yang didasarkan pada konsep “biasanya seperti ini” atau bentuk seperti “aku pikir seperti ini.” Semua harus berdasarkan data, dan tentu saja beserta konsekuensi logis dari pendapat itu. Sehingga akan ada pendapat yang menang, dimana semua pihak bisa menerima tanpa ada baper.
Meritokrasi
Masih masuk ke dalam bagian ketiga di buku ini, model organisasi meritokrasi menjadi dasar prinsip yang sangat ditekankan oleh Ray Dalio di sepanjang pembahasannya. Meritokrasi mendukung semua aspek prinsip dari dasar pribadi hingga berkembang ke sebuah organisasi. Saya bisa katakan jika prinsip meritokrasi ini berusaha dijadikan sebagai budaya oleh Ray di dalam sebuah organisasi. Mengapa budaya ini penting? Begini penjelasannya.
Menurut Ray Dalio, sebuah organisasi atau perusahaan, adalah sebuah mesin yang tersusun atas dua hal: Budaya dan Manusia. Dan menurut Ray, budaya yang berlandaskan keterbukaan, kejujuran, kebenaran, data valid, kontribusi aktif dari para pekerja, yang kesemua itu ada di konsep meritokrasi, merupakan budaya terbaik yang akan membuat sebuah organisasi dapat sustain dan sehat. Namun budaya ini saja tidak akan bisa berjalan jika orang-orang yang menggerakkannya tidak memahami prinsip-prinsip radical truth dan radical transparency.
Satu hal yang perlu saya sampaikan di sini, Ray juga membagikan berbagai macam alat unik untuk mendukung budaya meritokrasi yang sudah sangat sukses ia kembangkan di perusahaannya, Bridgewater. Salah satu contohnya adalah kartu baseball yang pasti dimiliki oleh setiap karyawan perusahaannya. Kartu ini terinspirasi dari kartu-kartu baseball yang memajang wajah atlit olahraga yang populer di Amerika Serikat, yang mencantumkan statistik kelebihan dan kelemahan dari atlit tersebut. Memakai konsep yang sama, Ray dan timnya memakai konsep kartu baseball ini yang disematkan ke semua karyawannya, agar masing-masing orang terbuka secara jelas apa kelebihan dia dan apa kekurangan dia. Bukan untuk apa, hal ini justru berhasil untuk membuat setiap orang yang bekerja di Bridgewater mengerjakan tugas yang sesuai dengan kelebihan dia.
Believability-weight
Believability-weight atau yang bisa kita artikan dengan bobot-keterpercayaan adalah konsep selain kartu baseball yang diperkenalkan oleh Ray Dalio di buku ini. Untuk mendukung budaya meritokrasi, setiap orang punya catatan bobot-keterpercayaan yang melekat padanya. Sehingga dengan cara ini, pendapat dia, ataupun data yang ia bawa ke sebuah rapat misalnya, memiliki ukuran keterpercayaan tertentu. Jika bobot-keterpercayaan orang tersebut memiliki skor tinggi, maka data atau pendapat yang ia bawa sangat patut untuk dipertimbangkan. Demikian juga sebaliknya, orang dengan skor bobot-keterpercayaan rendah, tentu akan sulit untuk dipercaya. Konsep ini mendukung prinsip selanjutnya yaitu Siapa lebih penting dari Apa yang ia bawa.
Penggunaan Algoritma
Satu hal yang ingin saya singgung juga, dan hal ini rupanya semacam “rahasia” yang tidak pernah diungkap Ray Dalio secara terang-terangan di tempat lain selain di buku ini. Adalah algoritma dan penggunaan teknologi komputer yang ternyata sudah diadopsi oleh Ray Dalio sejak lama. Bahkan bisa dibilang sejak komputer awal mulai dipasarkan, Ray menggunakannya dengan sangat baik. Apa saja fungsi teknologi yang ia adopsi melalui komputer, atau bahkan AI? Kira-kira bisa saya rangkum seperti ini:
- Big Data. Big data sudah sejak awal pendirian Bridgewater diadopsi oleh Ray dan rekan-rekannya. Bahkan sebelum menggunakan teknologi komputer, Ray sudah mengambil berbagai macam keputusan dan strategi investasi berdasarkan big data. Adanya komputer memudahkan dia dan perusahaannya dalam mengolah big data.
- Keputusan investasi. Suatu ketika, pegawai Ray pernah melakukan sebuah keteledoran parah ketika tidak melakukan transaksi investasi sesuai dengan kontrak yang seharusnya dari pihak investor, sehingga perusahaan harus menanggung kerugian yang cukup besar. Karena masalah ini ada dua hal menarik yang Ray lakukan. Pertama, Ray tidak menghukum kesalahan pegawainya tersebut. Karena apa? Karena jika ia menghukumnya, maka ke depan jika ada kesalahan yang sama dilakukan oleh pegawai lain, besar kemungkinan pegawai itu akan menyembunyikan kesalahannya. Ini tentu bertentangan dengan prinsip radical truth dan radical transparency. Dan yang kedua adalah, untuk meminimalisir kesalahan yang sama, Ray dan timnya menggunakan teknologi komputer untuk membuat semacam algoritma pengingat sehingga di kesempatan momen selanjutnya tidak akan terjadi kesalahan investasi. Bahkan disebutkan jika untuk saat ini, semua keputusan investasi sudah tidak berdasarkan analisa langsung manajer investasi yang berupa “manusia”, namun sudah berupa algoritma otomatis yang sangat bisa dipertanggungjawabkan dan sangat minim risiko human error.
- Algoritma Investasi. Penggunaan algoritma sudah dikembangkan oleh Ray dan timnya sejak awal Bridgewater dibangun. Meskipun hal ini tidak dijelaskan secara gamblang, namun ia cukup jelas menyebutkan di sebuah halaman jika ia punya divisi IT dengan porsi cukup besar, berisi para ahli IT. Tugas mereka adalah mengembangkan algoritma-algoritma investasi berdasarkan big data yang setiap waktu terus bertambah. Saya menduga, Bridgewater menghimpun big data dari sebanyak-banyaknya sektor baik berdasarkan analisa fundamental maupun analisa teknikal pasar.
- Algoritma Manajemen. Tak hanya untuk sistem investasi, secara tersirat, Ray juga mengembangkan algoritma untuk sistem manajerial perusahaan. Kisah ini ia ungkap ketika ia dengan sadar harus menyerahkan tongkat estafet pimpinan perusahaan ke penerusnya. Ketika proses awal serah terima itu, seperti ada perbedaan cara mengambil keputusan antara Ray dengan penerusnya. Atas dasar inilah, Ray mengembangkan algoritma khusus pengambil keputusan yang tidak dilakukan otomatis oleh algoritma itu.
- Kecerdasan Buatan. Meskipun tidak dijelaskan secara gamblang dan terbuka, namun saya yakin perusahaan yang didirikan oleh Ray Dalio, Bridgewater, sudah menggunakan AI yang sangat mungkin keputusan-keputusan investasinya sudah amat sangat jauh lebih canggih daripada AI-AI yang populer saat ini
Saya kira itu yang bisa saya tuliskan di resensi buku kali ini. Saya amat sangat berterimakasih bagi siapapun Anda yang sudah berkenan membaca, bahkan hingga paragraf terakhir ini.
Salam Manfaat,
Onny
