Categories
I.M.H.O

Dari 3 Setan, hingga Para Investor Perang: Apakah kita sudah melihat dengan lebih jelas sekarang? (Bagian 2)

Saya punya rekan kuliah, prestasinya biasa saja, tapi punya karir sangat baik, dan satu yang membuat dia menarik, dia punya insight yang anti mainstream.

Suatu ketika di sebuah acara reuni, kami berkumpul dan mengobrol ngalor-ngidul tidak jelas, dan berujung cerita tentang 3 setan dari rekan saya ini. 3 setan adalah sebutan yang dia sematkan kepada Rothschild, Rockefeller, dan J.P. Morgan. Tentu mereka bukan setan beneran. Ini hanya ungkapan saja. Namun ketiga orang ini menjadi tokoh kunci kapitalisme modern. Rothschild membangun sistem perbankan di Eropa, Rockefeller memonopoli oil & gas di Amerika, sedangkan Morgan menguasai perbankan, industri baja, dan energi di Amerika juga. Konon katanya, merekalah penguasa dunia, bahkan hingga saat ini terus dilanjutkan oleh keturunan-keturunannya.

Tentu saja ini hanya bualan semata. Memang ini tema menarik, semua yang berbau teori konspirasi memang selalu menarik, tapi Anda boleh menganggap ini sebagai obrolan omong kosong.

Maka dari itu, bagian kedua tulisan saya ini juga tidak akan mengajak Anda untuk percaya teori konspirasi, juga tidak akan mengajak Anda untuk percaya teori-teori eskatologi, juga tidak akan memaksa Anda percaya akan ajaran-ajaran Islam yang saya yakini, tapi saya ingin mengajak Anda untuk lebih sadar, lebih aware, lebih kritis, serta lebih dalam untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Sama seperti tulisan saya sebelumnya, inilah disclaimer tulisan saya kali ini.

Selanjutnya saya ingin membahas tentang “setan” yang lain. Namun sepertinya jangan lagi memakai sebutan setan untuk mereka. Bukan karena tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan, tapi karena untuk menjaga adab dan kualitas lisan kita.

Kabut Pertama: Bank of England dan Lahirnya Pax Britannica

Singkat cerita, di akhir abad kedelapan belas, Kerajaan Inggris mengalami krisis keuangan cukup parah, hampir bangkrut, setelah rentetan panjang perang saudara, penggulingan raja, revolusi yang dikenal sebagai Glorious Revolution, hingga momen lahirnya Bill of Rights di tahun 1689 yang terkenal itu. Intinya rentetan sejarah ini menggeser secara fundamental konsep kekuasaan monarki absolut ke sebuah negara monarki konstitusional parlementer.

Tak hanya itu, di tahun-tahun yang sama, Inggris juga tengah berperang dengan penguasa kerajaan Perancis, Raja Louis IV. Kondisi kompleks ini meninggalkan hutang publik yang tinggi, bunga hutang menumpuk, pihak kerajaan tidak bisa mencari pinjaman lagi karena semua pihak khawatir mereka tidak bisa membayar. Hingga kemudian raja inggris ketika itu mengharapkan ide baru untuk mengatasi hal ini. Lalu lahirlah untuk pertama kali di dunia konsep bank sentral negara.

Bank of England lahir di momen ini. Tepatnya di tahun 1694. Dengan memberikan pinjaman sejumlah 1,2 Juta Poundsterling (atau setara dengan 65 Triliun Rupiah di tahun 2026), jumlah yang amat sangat besar, Bank of England memiliki hak eksklusif sebagai bank untuk mengelola hutang dan pembayaran negara, dan yang paling penting adalah memiliki hak eksklusif untuk menghimpun dana investor untuk kemudian bisa dipinjamkan ke negara dengan imbalan berupa bunga dan saham bank, serta hak untuk mencetak banknotes, sebagai cikal bakal uang kertas. Konsep ini cukup revolusioner, karena menjadi modern public debt system pertama di dunia, atau konsep modern dalam hal bank memberi hutang kepada negara, yang sangat berpengaruh bahkan hingga tiga abad setelahnya.

Sejak adanya Bank of England, mata uang pound semakin kuat. Ini dikarenakan beberapa hal:

  1. Kredibilitas negara Inggris meningkat. Ini didukung dengan sistem pencatatan hutang negara yang transparan, dan dijamin oleh pajak yang disetujui parlemen negara. Maka investor lebih percaya berinvestasi ke Inggris dibandingkan ke Spanyol atau Perancis yang sering gagal bayar ketika itu.
  2. Likuiditas pound meningkat. Ketika ekonomi dunia masih bergantung kepada emas dan perak sebagai alat tukar-menukar, munculnya banknotes sebagai cikal bakal uang kertas membuat mata uang pound semakin likuid.
  3. Berkembangnya pasar obligasi, dimana hutang negara Inggris bisa diperdagangkan.
  4. Biaya pinjaman lebih murah. Akibat dari kepercayaan yang tinggi, Inggris bisa meminjam dengan bunga rendah. Berbeda dengan negara lain seperti Perancis yang ketika itu masih sebagai musuh Inggris, yang harus menjanjikan bunga tinggi jika ingin berhutang.

Setelah kekalahan Napoleon Bonaparte, Kongres Wina seolah “mengukuhkan” mata uang poundsterling sebagai mata uang dunia. Jika tidak digunakan oleh seluruh dunia, setidaknya pound digunakan oleh regional Eropa saja ketika itu.

Perang: Investasi Paling Menjanjikan

Dari kisah di atas, sadarkah Anda jika sejak adanya Bank of England, pembiayaan perang Inggris menjadi lebih lancar? Karena apa? Hal ini tak lepas dari masa-masa itu ketika Inggris terus-menerus perang dengan Perancis. Dengan pembiayaan yang murah, Inggris berhasil menghimpun pinjaman lebih banyak daripada negara lawannya. Dengan modal besar, Inggris semakin kuat membangun armada-armada laut mereka, karena jelas perang ini adalah antara kepulauan Inggris melawan Eropa daratan.

Sejarah mencatat ada beberapa bankir besar yang berinvestasi ke Bank of England untuk mencari keuntungan dari peperangan. Saya yakin salah satunya Anda sudah sangat mengenalnya:

  1. Barings Bank

Didirikan di London oleh keluarga Baring asal Jerman di tahun 1762, di masa itu Barings Bank aktif membiayai perdagangan internasional, menjadi dealer obligasi pemerintah Inggris, dan membantu membiayai perang Inggris. Nasib Barings Bank kolaps akibat skandal trading terkenal yang dilakukan Nick Leeson.

2. Hope & Co.

Pada abad 18, pusat finansial dunia dipegang oleh Belanda. Salah satu bankir dari Amsterdam adalah Hope & Co. Bank ini berperan penting secara perlahan memindahkan kekuatan finansial dari Amsterdam ke London ketika kekuatan Inggris mulai naik. Ketika itu, banyak modal ikut berpindah ke Inggris dan masuk melalui obligasinya. Modal yang ada digunakan untuk membiayai ekspansi Inggris.

3. Rothschild Family

Meskipun keluarga Rothschild muncul lebih akhir daripada Hope & Co., namun mereka menjadi dealer besar obligasi pemerintah Inggris. Mereka juga ikut membiayai perang melawan Napoleon, sekaligus memiliki jaringan bisnis di wilayah bekas pengaruh Perancis.

Peran Rothschild cabang Inggris yang dipimpin oleh Nathan Mayer Rothschild, paling banyak terdokumentasi sebagai fakta sejarah sebagai:

  • Melakukan transter dana dari Inggris untuk membayar sekutu-sekutu Inggris.
  • Memindahkan emas, menukar mata uang, dan mengatur kredit lintas negara.
  • Membeli dan memperdagangkan British Government Bonds.

Satu keuntungan penting yang dimiliki oleh Rothschild adalah jaringan mereka yang kuat di banyak negara, terutama lima negara dengan cabang yang dipimpin oleh kelima putra Mayer Amschel Rothschild yang ada di London, Paris, Frankfurt, Vienna, dan Naples. Bahkan ketika itu mereka sudah paham jika aliran informasi jauh lebih penting daripada apapun. Jaringan kurir Rothschild terkadang lebih cepat daripada pemerintah, dan ini memberikan keuntungan besar di pasar obligasi dan perdagangan emas.

Selain mereka bertiga ada bank-bank lain baik dari Amsterdam yang memiliki kekuatan finansial sebelum Inggris mendominasi seperti Clifford & Sons, De Neufville, Van Staphorst, serta bankir-bankir dari Swiss. Mereka semua secara aktif membiayai perdagangan Atlantik, ikut memperdagangkan obligasi pemerintah, serta ikut dalam pembiayaan Amerika Serikat.

Semua bank-bank tersebut bisa dibilang milik keluarga. Yang tentu saja tidak ada kewajiban bagi mereka untuk melaporkan catatan keuangan mereka kepada orang lain. Sehingga tidak ada bukti otentik berapa keuntungan mereka ketika masa perang Inggris-Perancis terjadi di abad ke-18 hingga awal 19.

Namun para sejarawan cukup berhasil merangkum data sejarah yang tersedia dari besar modal, nilai kekayaan keluarga pemilik bank, volume obligasi yang ditangani, serta besar pertumbuhan aset pada beberapa titik waktu.

Keluarga Rothschlid misalnya, setelah perang Napoleon dan Kongres Wina, mereka menjadi salah satu dealer obligasi terbesar di Eropa, lalu menangani pinjaman pemerintah lintas negara, serta mengelola transfer emas internasional. Beberapa sejarawan memperkirakan kekayaan keluarga meningkat beberapa kali lipat dalam 10–20 tahun pertama setelah 1815. Jika menggunakan metrik CAGR (compound annual growth rate) perkiraan angkanya adalah sekitar 8–15% per tahun selama beberapa dekade. Untuk ukuran abad ke-19, itu luar biasa tinggi.

Barings Bank lebih sulit memperkirakan kenaikan kekayaan mereka karena arsipnya tidak selengkap Rothschild. Namun diketahui bahwa pada akhir abad ke-18 mereka masih menjadi salah satu merchant bank besar. Bahkan pada masa setelah perang Napoleon mereka masuk sebagai kelompok elit keuangan dunia.

Beberapa estimasi sejarah menunjukkan modal Barings meningkat beberapa kali lipat antara akhir 1700-an dan pertengahan 1800-an. Perkiraan kasar pertumbuhan aset tahunan mereka ada di angka 5–10% selama periode panjang.

Berapa Tumbal yang Harus Dibayar?

Singkat saja, korban perang Inggris-Perancis di era itu, yakni sejak tahun 1700 hingga 1815, total mencapai kisaran 10 juta jiwa, baik dari sipil maupun militer. Banyak korban perang justru diakibatkan oleh penyakit (tifus, disentri, kolera), kelaparan, cuaca ekstrem, dan kondisi kamp militer.

Itulah sebabnya banyak sejarawan melihat periode 1694–1815 sebagai masa lahirnya kapitalisme finansial dan perang skala besar yang berkembang bersama-sama, saling memperkuat satu sama lain.

Dari sebagian kecil sejarah ini saja, saya hanya ingin mengajak Anda untuk melihat dengan lebih jelas. Sekali lagi, tumbal demi kekayaan adalah hal yang nyata. Ini sejalan dengan tulisan saya di bagian pertama. Dan hal ini, sangat disayangkan, masih digunakan hingga sekarang. Maksud saya bukan pesugihan klenik dengan tumbal, namun peperangan dengan motif memperkaya beberapa pihak.

Tinggalkan Jejak Anda di Sini