Bayangkan Anda tiba-tiba bisa menyelinap jauh ke masa lalu, ke sekitar akhir abad kesembilan, dimana Anda tiba-tiba menyelinap ke sebuah bilik sederhana dengan cahaya bulan tipis menyeruak ke dalam ruangan itu, menerangi remang-remang seorang pria sepuh berjenggot putih lebat nan rapi, sedang khusuk menggoreskan pemikirannya ke atas selembar papirus cokelat dengan pena bulu angsa, di sebuah meja sederhana berpenerang lampu api kecil berbentuk khas mirip rumah jin Aladin. Sepanjang hidupnya pria ini mempelajari Al Quran, menyelidiki tafsir-tafsir, lalu merangkum hasil dan olah pikirnya ke dalam ribuan halaman papirus.
Malam itu ia menuliskan satu pemikirannya tentang tafsir kata ‘khalifah’ yang ada di QS Al Baqarah: 30, dimana ia menuliskan, “Interpretasi yang benar terhadap ucapan-Nya, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi‘ adalah Allah akan menugaskan seseorang sebagai khalifah di bumi, orang yang akan menggantikan orang sebelumnya.” Kemudian dia melanjutkan dengan menulis pendapat lain yang sejalan dengan pemikirannya, “Hal ini lebih mirip dengan penafsiran yang diungkapkan oleh Hasan al-Bashri dan Qatadah.”
Pria ini juga menyebutkan apa yang menjadi dasar pemikirannya itu dengan menulis, “Kata khalifah mengikuti pola fa’ilah, dan diambil dari kalimat khalafa fulanun fulanan fi hadza al-amr yang berarti fulan menggantikan kedudukan fulan sesudahnya, seperti firman-Nya, ‘Kemudian, Kami jadikan kamu sebagai pengganti-pengganti di bumi setelah mereka untuk Kami lihat bagaimana kamu berbuat.‘ (QS Yunus: 14). Maksudnya adalah Allah telah menjadikan kalian sebagai pengganti mereka di bumi, sehingga dia menjadikan kalian sebagai khalifah setelah mereka. Dari situ, penguasa terbesar disebut khalifah karena dia menggantikan yang sebelumnya dan mengambil alih posisinya, sehingga dia adalah penggantinya. Bentuk derivasinya adalah khlafa khalifah yakhlufu khilafah khalifi.”
Pria tersebut adalah Ibnu Jarir ath-Thabari atau yang mahsyur dikenal sebagai Imam ath-Thabari (839–923 M), seorang ulama besar, ahli tafsir, dan sejarawan terkemuka Islam asal Baghdad. Dan jika Anda memperhatikan tafsir yang beliau tulis di atas, tentang makna ‘khalifah’ dari QS Al Baqarah: 30, maka hal ini menjadi cukup menarik ketika faktanya adalah ‘ada makhluk lain di bumi sebelum Nabi Adam.’
Memang banyak tafsir meyakini makhluk lain yang digantikan oleh manusia adalah jin. Namun bagaimana jika yang digantikan itu adalah manusia juga?
Pertanyaan besar inilah yang berusaha digali lebih dalam jawabannya oleh Dr. Amin Riyadh La’ribi, cendikiawan muslim asal Aljazair, melalui studi mendalam terhadap tafsir-tafsir Al Quran, Hadits, hingga ajaran-ajaran agama sawami lainnya. Dr. La’ribi mengemukakan hasil risetnya itu ke dalam sebuah buku, yang benar-benar sangat mengguncang batin dan pikiran saya, dengan judul Manusia Sebelum Adam.
Perlu diingat bahwa, Dr. La’ribi dalam setiap kesempatan selalu menunjukkan jika ia adalah cendikiawan muslim sejati, dengan berkali-kali menuliskan bahwa riset yang ia lakukan ini menggunakan sumber kebenaran utama dari Al Quran dan Hadits, yang tidak ada sedikitpun keraguan akan kebenarannya. Dan saya sepakat tentu saja. Maka ia pun memulai penelaahannya dengan mengajukan sebuah pertanyaan besar: Apakah Al Quran membuktikan keberadaan manusia sebelum Nabi Adam?
Eng ing eeeeeng…. Are you ready gaessssss?
Dr. La’ribi dengan saaaaaaangat mendalam dan saaaaaaangat hati-hati mengemukakan beberapa ayat dari Al Quran, serta mengemukakan berbagai macam tafsir secara sangat lengkap dan komprehensif, bahkan dari beberapa tafsir yang berbeda sudut pandang, dalam rangka menjawab pertanyaan tersebut. Salah satunya adalah tafsir dari Imam ath-Thabari yang sudah saya kutip dari buku ini. Lalu bagaimana dengan tafsir-tafsir lainnya?
Total ada sembilan belas poin yang dibahas oleh Dr. La’ribi, merangkum dari Al Quran dan tafsir-tafsirnya. Di kesempatan ini saya akan membahas beberapa poin penting dan yang mengguncang pemikiran saya:
- Al Quran dan hadits tidak pernah menyangkal keberadaan manusia lain di bumi sebelum Nabi Adam.
- Allah swt dalam seluruh isi Al Quran tidak pernah menyatakan bahwa Adam adalah makhluk berakal pertama, atau manusia pertama yang menghuni bumi.
- Allah menciptakan makhluk-makhluk yang setara atau lebih baik daripada keturunan Nabi Adam, berdasarkan firman Allah dalam QS An Nahl: 8. Menurut Dr. La’ribi, dari ayat ini, tidaklah mustahil ada makhluk ciptaan Allah yang tidak kita ketahui itu memiliki akal dan mirip dengan manusia.
- Makna kata ‘khalifah’ di QS Al Baqarah: 30.
Ini yang menarik. Dr. La’ribi membahas makna kata ‘khalifah’ dari ayat yang sering kita dengar, QS Al Baqarah: 30. Dimana ia menyimpulkan kata ‘khalifah’ ini ada dua makna:
Pertama. Seperti yang sudah kita bahas pendapat dari Imam ath-Thabari di atas, didukung juga dari banyak pendapat ahli tafsir lain, dimana Dr. La’ribi mengutip beberapa pendapat sama lainnya yang menunjukkan betapa dalamnya ia melakukan riset, makna pertama ‘khalifah’ di ayat ini adalah ‘pengganti’. Lalu jika Adam atau Adam dan keturunannya diciptakan sebagai ‘pengganti’, untuk menggantikan siapa?
Dr. La’ribi mengaku sudah melakukan studi lebih mendalam untuk mencari jawaban pertanyaan itu. Dan rupanya, cukup banyak ulama ahli tafsir yang membahas hal ini. Salah satunya yang dikutip oleh Dr. La’ribi adalah Muhammad Rasyid Ridha, seorang ulama modern yang mahsyur, mengatakan bahwa, “Sebagian ulama tafsir berpendapat bahwa kata khalifah mengindikasikan bahwa di bumi ada satu jenis atau lebih hewan yang berbicara, dan jenis ini telah punah; dan bahwa jenis ini yang Allah beritahukan kepada malaikat bahwa Dia akan menempati dan menggantikan kedudukannya, sebagaimana Allah menyebutkan kehancuran umat-umat terdahulu, ‘Kemudian, Kami jadikan kamu sebagai pengganti-pengganti di bumi setelah mereka untuk Kami lihat bagaimana kamu berbuat.’ (QS Yunus: 14). Mereka mengatakan bahwa jenis yang punah itu telah merusak dan menumpahkan darah di bumi, dan bahwa malaikat menyimpulkan pertanyaan mereka dengan analogi terhadapnya karena khalifah atau pengganti mesti identik dengan yang ia gantikan dan berasal dari jenisnya, seperti yang segera dipahami dari konteks kalimat… Jika pendapat ini benar, maka Adam bukanlah jenis hewan berakal pertama dari hewan yang berbicara yang menyerupai satu atau beberapa kelompok yang punah dalam hal esensi dan materi, tetapi berbeda dalam beberapa perilaku dan sifat.”
Maka, dari makna pertama khalifah ini saja, ada ahli tafsir Al Quran yang berpendapat jika ada makhluk berakal selayaknya manusia yang hidup sebelumya yang kemudian digantikan oleh Adam dan keturunan-keturunannya. Dr. La’ribi membahas hal ini cukup panjang karena mengutip dari banyak pendapat yang sejalan.
Lalu apa makna khalifah yang kedua?
Makna khalifah yang kedua adalah mengatur dengan perintah-perintah Allah. Dr. La’ribi menjelaskan bahwa para ahli tafsir seperti Al Qurthubi menyatakan bahwa Adam adalah seorang rasul yang diutus kepada anak-anaknya. Menurut penulis, pendapat ini bisa diterima, tetapi terlalu mempersempit pemahaman yang luas. Karena biasanya seorang rasul diutus kepada kaumnya lebih dari kepada keluarganya. Tidak ada dalam Al Quran yang menyatakan bahwa seorang rasul atau nabi yang diutus oleh Allah hanya kepada keluarganya saja tanpa orang lain. Di sini Dr. La’ribi mengutip QS Ibrahim: 4 dan QS Fathir: 24.
Jadi, sejauh ini, apakah kepala Anda sudah mulai panas?
- Poin selanjutnya yang ingin saya bahas adalah larangan menikahi saudara perempuan.
Nah, poin ini cukup menarik. Karena seperti yang diajarkan oleh guru-guru saya sejak kecil, dan mungkin oleh sebagian besar guru-guru ngaji di Indonesia, bahwa Nabi Adam dan Siti Hawa melahirkan anak beberapa kali secara kembar. Setiap melahirkan, Hawa melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan. Kemudian ketika dewasa, mereka akan dinikahkan secara bersilangan dengan saudara bukan kembarannya. Lalu bukankah hal ini dilarang dalam hukum Islam? Bahwa menikahi adik atau kakak sendiri adalah haram hukumnya?
Jujur saja, hingga saya membaca buku ini saya masih berusaha menerima ajaran itu tanpa ada niatan untuk membenturkannya dengan hukum Allah yang difirmankan di QS An Nisa’: 23-24. Saya masih ingat dulu ketika SMA, guru agama saya menjelaskan bahwa ayat ini adalah salah satu dari dua ayat yang penjelasannya sangat detail tentang suatu hukum dalam Islam. Ayat yang lain adalah pembahasan tentang warisan. Dua ayat yang sangat tidak terbantahkan.
Barulah dari buku ini kepala saya pecah. Satu fakta dibuka oleh Dr. La’ribi.
Bahwa ternyata, kisah pernikahan anak-anak kembar Nabi Adam itu tidak bersumber dari Al Quran atau bahkan Hadits sekalipun. Ternyata kisah itu berasal dari kisah yang diriwayatkan dari ahli kitab, terutama dari literatur israiliyat.
🤯 Puuuuuffffffff….
Detail dari hal tersebut dijelaskan oleh Imam ath-Thabari dalam tafsirnya yang ternyata berujung dari cerita ahli kitab, bukan hadits shahih.
Menurut Dr. La’ribi, kemungkinan besar cerita-cerita tersebut adalah hasil ijtihad, yang mencoba untuk keluar dari kerumitan yang ada, namun menggunakan sumber riwayat yang tidak didukung oleh wahyu atau dalil yang tepat.
Kalau begitu, dengan siapa anak cucu Adam menikah? Inilah yang menarik. Menurut Dr. La’ribi, dengan mempertimbangkan berbagai dalil yang lainnya juga, semakin menunjukkan kemungkinan adanya manusia lain sebelum Nabi Adam, hidup sejaman dengan beliau, yang kemudian menikah dengan anak-anak Adam, meskipun tidak secara eksplisit dijelaskan dalam Al Quran dan hadits.
- Acaman dalam ayat-ayat tentang penggantian kita dengan kaum lain, dan kita tidak tahu apakah Allah SWT telah melakukannya sebelumnya.
Allah SWT berfirman, “Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Jika berkehendak, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Yang demikian itu bagi Allah tidak sulit.” (QS Fathir: 15-17)
Ada dua ayat lain dengan makna serupa yang dikutip oleh Dr. La’ribi yaitu QS Muhammad: 38 dan QS An Nisa’: 133. Hingga penulis mengajukan pertanyaan, mungkinkah Allah telah melakukan ancaman ini sebelumnya? Kita tidak tahu apakah Allah telah melakukan ancaman ini dengan kaum sebelum Nabi Adam, seperti yang Dia lakukan dengan kaum Nuh yang mendustakan.
Apakah mungkin Allah telah mengganti kaum sebelum Adam, dengan keturunan Adam, atau apakah mungkin Dia menghilangkan sebagian dari mereka, dan mengangkat kita sebagai khalifah di bumi?
- Allah SWT menciptakan kita dari keturunan suku bangsa lain.
Firman Allah dalam QS Al An’am: 133, “Tuhanmulah Yang Maha Kaya lagi penuh rahmat. Jika menghendaki, Dia akan memusnahkanmu. Setelah itu, Dia akan menggantimu dengan yang dikehendaki-Nya, sebagaimana Dia menjadikan kamu dari keturunan kaum lain (sebelummu).”
Siapakah keturunan kaum lain yang dari mereka Allah menciptakan kita? Sungguh pertanyaan misterius ini sangat memikat hati saya.
Beberapa poin itu baru bagian sedikit saja dari banyak yang dibahas oleh Dr. La’ribi. Setelah membahas banyak tafsir Al Quran, Dr. La’ribi membahas hadits-hadits Rasulullah ﷺ yang berkaitan dengan hal ini, dengan membuat pertanyaan serupa: Apakah Hadits Menegaskan Keberadaan Manusia Sebelum Adam?
Memang jawaban pertama dari pernyataan yang diajukan Dr. La’ribi itu adalah, tidak ada hadits yang menyangkal keberadaan manusia sebelum Nabi Adam. Namun lebih dalam lagi, penulis secara nyata telah menyusuri begitu banyak hadits, membandingkannya, menyajikan perdebatan yang ada, menuliskan secara rinci semua perbedaan cara penginterpretasian dari para perawi hadits, sehingga pembaca akan disajikan tidak hanya kesimpulan kosong, namun semua pertimbangan detail yang menjadikan Dr. La’ribi sampai pada kesimpulan yang ia ambil.
Sebagai satu contoh saja, ketika Dr. La’ribi menghitung umur Nabi Adam as, berdasarkan beberapa hadits sahih yang ada. Dari hadits yang ia bahas, lalu dari semua kesepakatan ulama akan makna dari hadits-hadits itu, maupun dari semua perbedaan interpretasi yang ada (yang dengan detail dijabarkan oleh penulis), bahkan kemudian Dr. La’ribi masih menambahkan asumsi rentang tahun aman, ia sampai pada satu kesimpulan bahwa estimasi umur Nabi Adam AS paling rendah adalah 5.200 tahun, dan estimasi tertingginya adalah 7.000 tahun.
Pendapatnya ini juga didukung ketika Dr. La’ribi menghitung umur Nabi Adam AS berdasarkan silsilah Nabi Muhammad ﷺ sampai Nabi Ibrahim AS, lalu ditambahkan dengan waktu sepuluh generasi antara Nabi Ibrahim AS dengan Nabi Adam AS yang didasarkan pada hadits sahih. Dari sini, Dr. La’ribi mendapatkan perkiraan waktu yakni 2.460 tahun (berdasarkan silsilah Rasulullah ﷺ hingga Nabi Ibrahim AS), ditambah dengan 2.000 tahun (berdasarkan hadits ada 10 generasi antara Nabi Ibrahim AS dengan Nabi Adam AS), maka didapatkan angka 4.460 tahun pada masa Rasulullah ﷺ. Atau jika ditambahkan dengan jarak antara zaman kita dengan zaman Rasul, maka didapatkan angka 5.860 tahun, yang tidak terlampau jauh dengan perkiraan sebelumnya.
Lalu, kalau begitu, waduh, saya cucu siapa?
Menarik sekali karena selanjutnya Dr. La’ribi mengajak kita untuk membuka pendapat-pendapat ulama klasik, yang ternyata, jauh sebelum darwin menceturkan teori evolusi, ada ulama-ulama yang sudah mengungkapkan teori yang sama meskipun belum sepopuler teori evolusi Darwin. Bisa saja pendapat-pendapat ulama itu ditinggalkan, tidak banyak yang mempelajarinya, sehingga tenggelam oleh waktu begitu saja. Belum lagi benturan teori evolusi yang mengatakan jika seleksi alam dan hasilnya terjadi secara kebetulan.
Nah, poin ini sangat ditolak oleh Dr. La’ribi. Ia memang setuju dengan teori evolusi sebagai salah satu bentuk ajaib penciptaan dari Allah Sang Maha Pencipta. Namun ia dengan sangat tegas menolak bentuk teori evolusi atau seleksi alam terjadi karena kebetulan belaka. Ia, dan tentu saja saya, dan semoga Anda juga, yakin jika seleksi alam dan evolusi adalah salah satu bentuk penciptaan Allah SWT. Hal ini tidak berbeda dengan kenyataan bahwa Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS dengan tangan-Nya sendiri. Evolusi adalah cara lain Allah SWT menciptakan isi bumi.
Ini menarik sekali. Bagi saya ini mencerahkan. Karena apa? Karena ini membuktikan bahwa ajaran agama Islam tidak bertentangan dengan temuan-temuan fakta hadirnya manusia di bumi jauh-jauh hingga ratusan ribu tahun yang lalu. Ini menjadi tidak bertentangan dengan fakta-fakta yang disajikan di buku Sapiens karya Harari. Dan ini tentu saja bisa menarik para ilmuwan-ilmuwan muslim untuk tidak terbelenggu akan stigma lama yang bisa jadi salah.
Namun perlu diingat bahwa bagi saya, Nabi Adam tetaplah bapak saya, bapak umat Muslim semuanya, tanpa kecuali, entah itu Muslim di Cina (peradaban Cina sudah ada sejak 10.000 tahun yang lalu), maupun Muslim Aborigin di Australia (suku aborigin masuk ke dalam ras Australoid yang datang ke benua Australia sejak 40.000-60.000 tahun yang lalu), semua mengakui Nabi Adam AS adalah bapaknya.
Tak berbeda dengan Nabi besar Muhammad ﷺ adalah bapak saya juga. Bapak kita semua. Saya mengimani beliau. Selalu, dan insyaAllah iman ini akan selalu terjaga. Dan semoga kita semua akan dikumpulkan kembali nanti di hari akhir bersama BAPAK-BAPAK kita itu.
Aaamiiin ya robbal ‘aalamiin.
