Categories
Resensi Buku

Resensi Buku #33: DUNE (Series) karya Frank Herbert

Mind blowing! Sungguh mind blowing! Di bahasa sehari-hari saya disebutnya pecas ndahe, ungkapan yang lebih berbobot daripada sekedar pecah ndase.

Tidak salah jika banyak orang berpendapat bahwa Dune karya Frank Herbert ini termasuk top tier-nya masterpiece novel sains fiksi. Tapiii, ini tapi yang sangat seru. Justru ternyata kisah Dune jadi novel mahakarya bukan karena teknologi jelajah luar angkasa mumpuni, ketemu alien, pesawat berkecepatan cahaya, senjata laser, atau bahkan AI. Bukan itu semua! Justru alasan di luar itu semua yang bikin novel ini mind blowing dan menurut saya bacaannya tidak akan lekang oleh zaman.

Lalu apa dan dimana sisi sains fiksinya? Mari kita bedah sedikit-sedikit.

Pertama, saya yakin Anda semua pernah mendengar social science. Atau bahasa SMA-nya adalah ilmu sosial. Alias IPS. Jangan pernah lupakan bahwa ilmu sosial juga salah satu bentuk sains. Nah, Frank Herbert bermain di ranah ini.

Lebih spesifik lagi, Herbert bermain di political science dan sosiologi. Ia sangat piawai membangun dunia politik semesta dengan batas-batas halus tapi tidak terbantahkan. Bahasa mudahnya, sistem sosial dan pemerintahan yang dibangun Herbert cukup sederhana, tapi jika seandainya kita mendebatnya dengan sebuah pertanyaan “Kenapa harus begini, kenapa harus begitu?” Herbert dengan halus mengemukakan semua latar belakang dengan epic, sangat mumpuni, dan tidak terbantahkan.

Menariknya, ini salah satu pecas ndahe bagi saya, adalah bagaimana Herbert seperti melakukan eksperimen rekayasa sosial politik di setiap seri novel. Buku pertama Dune misalnya, bagaimana ia membangun konsep pemerintahan kekaisaran semesta yang kemudian dengan bumbu-bumbu keyakinan religius dikudeta oleh Paul Muaddib Atreides. Dari sini saja Herbert mulai menyentil kita bagaimana kekuatan religius bisa menjadi kekuatan sekaligus bibit kesesatan. Nah, pemanfaatan kesesatan religius demi melanggengkan kekuasaan sangat kental dijadikan tema di Dune Messiah dan Anak-anak Dune.

Belum berhenti sampai di situ, di Kaisar Dewa Dune semua konsep pemerintahan itu berubah total karena kendali penuh Letto 2 atas pemerintahan semesta. Di novel seri ini, jujur saja, kita akan kesulitan menemukan kelemahan atau mendebat cara Letto 2 mengendalikan semesta tanpa tentara laki-laki, tanpa penjara, tanpa polisi, tanpa hakim. Menurut saya, kesan Herbert melakukan eksperimen rekayasa sains sosiologi politik jauh lebih kental di seri ini. Dan hasilnya justru sangat brilian. Pemimpin yang punya alasan benar yang kuat, tapi caranya memimpin dianggap salah, tiran, kejam, dan tidak bisa dibantah. Sangat paradoksal!

Kedua. Frank Herbert sangat jago mengaduk perasaan kita diranah paradoksal kepemimpinan. Semua seri novel Dune dibangun dengan dua sisi pertentangan yang diramu dengan sangat baik, menghasilkan kebenaran yang menganduk paradoksal.

Paul Atreides, meskipun dia sempat memprotes Jessica yang adalah seorang Bene Gesserit tentang penanaman ramalan yang dilakukan Bene Gesserit berabad-abad lalu perihal akan datangnya Lisan Al-Ghaib ke kaum Freeman, toh pada akhirnya Paul menggunakan kekuatan ajaran Lisan Al-Ghaib untuk membakar semangat kaum Freeman menguasai Imperium. Paul yang sempat dikalahkan oleh Harkonen memang menang di kemudian hari, tapi kemenangannya tidak bisa lepas dari sisi jahat di dalam hati Paul. Ini paradoksal yang hadir sejak seri novel pertama.

Contoh paradoksal menarik dengan bumbu fiksi sains adalah ketika Letto 2 bersimbiosis dengan forel pasir untuk mendapatkan kekuatan super yang kemudian ia gunakan untuk mengalahkan bibinya Alia. Memang ia tidak langsung menghajar begitu saja Alia, tetapi Letto 2 menciptakan ketidakstabilan keamanan planet Arrakis dengan merusak banyak sekali kolam air, hingga akhirnya sang bibi terdesak di akhir cerita dan berakhir dengan tragis.

Kisah paradoksal yang menurut saya paling tajam diantara yang lain adalah ketika Letto 2 sudah menjadi kaisar dewa, menciptakan kepemimpinan absolut, tiran, tidak ada yang bisa dan berani membantahnya (bahkan saya pun yang membacanya tidak bisa menemukan kelemahan tirani Letto ini), namun ia harus mengorbankan badannya, dirinya, menghadapi kesepian selama ribuan tahun, tidak ada teman, hanya segelintir orang yang percaya padanya. Namun hasilnya dunia begitu damai, tidak ada percecokan, meskipun mungkin nampak miskin namun semua kebutuhan rakyat tercukupi. Menariknya lagi, meskipun Siona yang keturunan Atreides sendiri memerangi Letto 2, Jalan Emas cita-cita Letto dengan Ghanima bisa tercapai dan terjamin keberlanjutannya justru berkat gaya tirani ini.

Ketiga. Jujur saja, saya sangat terkesan dengan bagaimana Herbert menggunakan inovasi teknologi khayalan atau fiksi justru sebagai penguat saja akan eksperimen rekayasa sosial yang ingin ia bangun di setiap seri kisahnya. Satu contoh yang paling kuat adalah bagaimana kisah kecerdasan buatan, yang oleh novel Dune dinamakan Mesin Berpikir Menyerupai Manusia, justru sudah mengalami pemusnahan masal lewat sebuah masa bernama Jihad Butlerian.

Kejadian itu terjadi justru jauh sebelum kisah petualangan klan Atreisdes hadir di planet Arrakis. Pondasi ini membuat petualangan semakin menarik, karena rekayasa ilmiah berbelok ke beberapa arah seperti rekayasa biologis keturunan manusia yang kemudian hari bisa menciptakan manusia berotak komputer bernama Mentat. Ada pula rekayasa pengembangbiakan manusia untuk mengejar penciptaan manusia super oleh organisasi Bene Gesserit. Ada juga organisasi Ix yang curi-curi menciptakan alat-alat canggih selain kecerdasan buatan yang dilarang oleh konsensi Jihad Butlerian. Belum lagi organisasi Tleilaxu yang punya teknologi membangkitkan manusia mati dari sisa-sisa daging saja. Terciptalah ghola.

Selain itu, bagaimana teknologi jelajah pesawat antar bintang yang membutuhkan pilot atau juru mudi, yang harus memiliki kemampuan prekoginisi super untuk memprediksi tujuan jelajah, karena pesawat bergerak melampaui kecepatan cahaya. Nah, agar bisa memiliki kemampuan prekognisi tersebut, setiap juru mudi pesawat harus mengkonsumsi melange. Tidak ada melange, tidak bisa terbang. Sementara rempah melange hanya diproduksi di planet Arrakis, Dune. Dihasilkan oleh cacing-cacing gurun sebagai by-product saja sebenarnya, namun nilainya amat sangat berharga.

Maka ketika Kaisar Dewa Letto membatasi produksi melange dengan hanya menyisakan satu cacing pasir di satu gurun saja, berhentilah perlawanan kekuatan imperium lainnya.

Jujur saja, masih banyak kekuatan yang ditawarkan oleh Dune ini. Salah satu yang lain adalah permainan kata yang awalnya terbaca membingungkan, tapi tersimpan makna yang keren. Butuh daya cerna tinggi untuk memahami permainan kata Herbert. Filosofis, pedas, tapi halus. Dan saya curiga, untuk lebih masuk lagi, butuh membaca dari awal lagi jika selesai di satu seri novel. Karena Herbert sering mengungkapkan apa di benak siapa, akhir apa yang dialami siapa, di awal-awal cerita melalui ungkapan-ungkapan tokoh yang beraroma prekognisi, namun dengan permainan kata halus yang sekilas kulitnya seperti berbelit-belit. Cukup menantang untuk hal ini bagi saya.

Tapi mungkin ucapan dari Letto 2 kepada Siona Atreides ini adalah yang paling simpel dan dalam maknanya:

“Kau adalah pengejawantahan dari yang ilahiah. Kau berjalan ke sana kemari di dalam mukjizat terhebat di semesta ini, namun kau menolak untuk menyentuh, melihat, merasakan, ataupun memercayai mukjizat itu.”

(Kaisar Dewa Dune, hal. 586)

Menurut saya ungkapan itu sangat menggugah siapapun yang membacanya. Tidak terbatas hanya ditujukan kepada toko Siona saja, sang pemberontak tirani. Tapi kepada siapapun yang mungkin masih memburu kemukjizatan, ketika bahkan hidup kita ada saja adalah sebuah mukjizat.

Secara ringkas, buku ini cocok untuk penggemar sains fiksi namun dengan tingkatan yang lebih lagi. Karena seperti yang sudah saya ungkap di atas, Frank Herbert bukan menulis novel bertemakan sains alam atau IPA, tapi bertema IPS. Ini sangat sangat untuk menurut saya pribadi.

Novel ini juga cocok bagi Anda yang gemar membaca buku-buku sejarah, atau politik-politik praktis juga. Bagi saya pribadi yang akhir-akhir ini membaca sejarah peradapan seperti Islam, Majapahit, Geography of Genius, novel ini sangat nyambung.

Saya juga sangat terkesan dengan cara Herbert menyusun dunia dan cerita yang tidak terkesan fiktif, tapi justru terkesan eksperimentalis yang sangat manis. Bagaimana ia membangun dunia tirani, bagaimana ia membangun kekuasaan yang diperkuat oleh agama, bagaimana ia membangun budaya freemen yang melegenda, dan lain sebagainya, semuanya disusun secara kompleks, epic, dan super duper masuk akal. Tanpa cela!

Sekian dari saya. Selamat membaca.

Salam manfaat,

Onny

Tinggalkan Jejak Anda di Sini