image

Travelling sudah menjadi hobby saya sejak dulu. Apalagi setelah menikah dengan istri yang juga memiliki hobby yang sama ini, setiap tahun ada saja tempat wisata baru yang kami kunjungi baik dalam maupun luar negeri. Dan kali ini kami mendapat kesempatan untuk melancong ke Hong Kong dan Macau. Sedangkan Malaysia bisa dibilang bonus lah, karena memang perjalanan kami mengharuskan untuk transit sehari di Kuala Lumpur.

Menyusun itenerary menjadi tugas saya, karena kami berangkat bersama beberapa anggota keluarga dewasa maka kami harus lebih detail menyusun agenda wisata agar perjalanan lebih efisien. Sejak 2 minggu sebelum keberangkatan saya sudah melakukan berbagai macam survey seperti lokasi menginap, tempat-tempat wisata, pasar oleh-oleh, hingga rumah makan halal di Hong Kong. Survey tersebut juga termasuk rute perjalanan baik naik angkutan umum maupun rute jalan kaki. Survey ini sangat terbantu oleh adanya situs google maps, street view, dan youtube. Namun karena terkadang rute perjalanan kaki yang ditunjukkan oleh google maps tidak selalu valid, maka saya juga mencari info rute pedestrian melalui youtube. Mengapa survey pedestrian wajib dilakukan? Karena Hong Kong memang terkenal dengan jalur pedestriannya yang sangat tertata dan bisa dibilang “tersembunyi”.

Hari-1: Transit Malaysia

Rejeki memang tidak kemana! Begitu kami mendengar ada promo tiket pesawat murah ke Hong Kong, kami langsung memburu tiket tersebut. Alhasil kami mendapatkan harga pulang-pergi Surabaya-Hong Kong via Kuala Lumpur hanya sekitar 2,7 juta rupiah per orangnya. Jika bukan tiket promo, mungkin pulang-pergi membutuhkan anggaran dana 3 atau bahkan 4 jutaan untuk 1 orangnya.

Tiket perjalanan yang sudah kami pesan mengharuskan kami untuk transit di Kuala Lumpur satu malam satu hari. Malam hari kami gunakan untuk istirahat di bandara, yaaa sedikit ngirit sih, tinggal cari bangku panjang kosong dan tidur saja. Hehehee..

Pagi-pagi betul kami menitipkan 2 koper besar kami di Luggage Storage bandara Kuala Lumpur International Airport terminal 2 (KLIA2). Per koper ukuran ekstra besar dipatok tarif RM51 atau sekitar Rp 180.000,00 per hari. Setelah koper aman, kami membeli tiket KLIA Express tujuan KLIA Sentral seharga RM55 sekali jalan atau RM100 jika pulang-pergi. KLIA Express kami pilih karena transportasi ini hanya membutuhkan waktu 28 menit dari KLIA2 ke pusat kota KL. Dibandingkan bus atau taksi, kereta ekspres ini jauh lebih menghemat waktu mengingat terbatasnya waktu kami di KL.

 photo 47F57D0C-2690-413D-BC4B-F1E1BD5512E4.jpg

Obyek wisata utama yang kami tuju di KL tentu saja adalah Menara Kembar Petronas, sang icon Malaysia. Oleh karena itu, setelah turun dari kereta KLIA Express di stasiun Sentral, kami naik LRT Kelana Jaya Line dengan tujuan ke Kuala Lumpur City Centre (KLCC). Turun di stasiun KLCC tinggal jalan sedikit saja ke taman KLCC. Taman ini bersebelahan tepat dengan Petronas Twin Tower, maka dari itu lokasi ini menjadi spot paling pas untuk ber”selfie” ria.

Sebelum berfoto-foto kami mampir ke Masjid As-Syakirin untuk melaksanakan sholat subuh. Masjid yang cukup besar ini hanya berjarak sekitar 100 meter dari Twin Tower, dan letaknya pun tepat di pinggir utara taman KLCC, mudah sekali kok untuk menemukan masjid ini. Setelah sholat subuh kami sedikit berpiknik ria sambil sarapan bekal yang sudah kami beli sebelumnya. Di taman KLCC ini banyak sekali disediakan kursi untuk bersantai menikmati suasana. Dan yang asyik lagi, di dalam area taman terdapat drinking water tap atau air siap minum yang dapat kita konsumsi secara cuma-cuma dan aman.

Setelah puas berfoto ria dan menikmati suasana taman KLCC, kami kembali ke bandara KLIA2 melewati rute yang sama seperti berangkat tadi, yakni Stasiun KLCC – LRT Kelana Jaya Line – Stasiun Sentral – KLIA Express – KLIA2. Tak lupa kami mengambil koper di Luggage Storage dan lanjut check-in untuk penerbangan selanjutnya.

Check-in Hotel

Malam di hari yang sama kami tiba di Bandara Internasional Hong Kong di area Pulau Lantau. Dari sini kami harus menuju ke hotel di salah satu area iconic Hong Kong, Tsim Sha Tsui (TST). Lagi-lagi moda transportasi kereta menjadi andalan bagi kami. Di bandara kami berjalan menuju Airport Station. Di sini kami membeli kartu Octopuss, yakni kartu prabayar yang akan kami gunakan untuk menggunakan fasilitas transportasi kereta di Hong Kong. Sebenarnya bisa saja kita membeli tiket per perjalanan, namun dengan kartu Octopuss ini kita bakal jauh lebih praktis untuk kemana-mana, karena tidak ada waktu terbuang untuk membeli tiket single di mesin tiket.

Setelah Octopuss di tangan, kami naik kereta jalur Airport (warna hijau tosca), turun di stasiun Tsing Yi, pindah kereta jalur Tung Chung (warna kuning) dan turun di stasiun Lai King. Di sini kami pindah kereta lagi ke jalur Tsuen Wan (warna merah) dan turun di stasiun Tsim Sha Tsui. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah Anda harus tahu pintu stasiun apa yang paling dekat dengan tempat tujuan Anda. Sebab satu stasiun terdapat banyak pintu masuk/keluar yang dekat dengan berbagai macam obyek. Caranya cukup mudah, melalui aplikasi google maps cari simbol stasiun yang lokasinya paling dekat dengan tujuan Anda. Catat kodenya, dan masukkan ke itenerary Anda agar tidak tersesat. Semisal untuk kasus kami, hotel yang kami pilih adalah London Guest House di Mirador Mansion, maka sekeluar kami dari kereta, kami keluar stasiun melalui pintu stasiun D1.

Sedikit informasi saja, kami memilih hotel London Guest House karena ada tiga alasan utama, yang pertama adalah hotel ini menyediakan satu kamar ukuran keluarga untuk 5 orang, yang kedua adalah lokasinya yang strategis di area Tsim Sha Tsui, dan yang ketiga harganya relatif murah yakni sekitar 700ribuan rupiah per malam. Jangan kaget kalau menginap di hotel semacam ini ya, karena di dalam satu bangunan besar terdapat beberapa hotel kecil. Anda harus catat alamat lengkap hotel yang Anda tuju supaya tidak salah masuk hotel. Dan yang menarik adalah lingkungan yang tidak semewah hotel budget seperti di Bali atau Yogyakarta. Sangat sederhana. Jika digambarkan mungkin mirip rumah susun di Indonesia, namun dengan kebersihan area yang lebih terjaga.

Hari-2: Hong Kong Island

Di hari kedua ini kami punya agenda utama ke Madame Tussauds. Madame Tussauds dapat dibilang sebuah museum artis, karena di dalamnya terdapat patung-patung lilin yang dibuat sangat menyerupai tokoh-tokoh dunia. Tidak hanya artis hollywood maupun mandarin yang ada di sini, atlet-atlet kenamaan seperti David Beckham, Tiger Woods, hingga Yao Ming juga ada. Bahkan tokoh-tokoh politik seperti Barack Obama, keluarga kerajaan Inggris, hingga bahkan presiden pertama kita Bung Karno pun juga ada!

Sedikit tips dari kami, jika Anda berniat mengunjungi Madame Tussauds Hong Kong, sebaiknya Anda membeli tiket secara online saja beberapa hari sebelum Anda ke sana. Sebab Anda dapat menghemat hingga 40% dari harga normal! Diskon 40% tersebut akan Anda dapatkan jika Anda membeli secara online, dan memilih jam masuk ke Madame Tussauds pada pukul 10.00-11.00 atau pukul 20.00-22.00. Waktu itu kami memilih untuk masuk Madame Tussauds jam 10.00 pagi. Alhasil dari harga tiket standard sebesar HK$255, kami dapatkan hanya HK$150 saja per orang. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata pada hari di saat kami masuk Madame Tussauds, harga tiket untuk pembelian di tempat sudah melonjak menjadi HK$290 karena peak season.

Madame Tussauds terletak di kawasan puncak Victoria atau terkenal dengan istilah Victoria Peak. Untuk dapat menuju ke sana, dari TST kami naik kereta jalur merah ke arah Hong Kong Central dan turun di Stasiun Admiralty. Di stasiun ini kami keluar pintu C1, dan lanjut naik eskalator yang persis ada di sebelah timur pintu keluar C1. Keluar eskalator langsung belok tajam kiri dan jalan ke jembatan pedestrian yang ada tulisan Pacific Place. Jembatan ini menghubungkan gedung United Centre dengan Pacific Palace, dengan menyeberangi Queensway Rd. Masuk gedung Pacific Palace langsung saja jalan lurus terus dan naik ke eskalator. Eskalator naik ini menuju ke tepi Hong Kong Park sisi utara. Sampai di Hong Kong Park tinggal jalan ke arah barat daya menyusuri taman dan cari petunjuk jalan bertuliskan Peak Tram. Ikuti saja petunjuk jalan tersebut hingga Anda sampai di Peak Tram Station.

Sesampainya di Peak Tram Station, ada dua pilihan cara untuk bisa naik tram ini. Yang pertama adalah memakai kartu octopuss Anda, atau yang kedua Anda membeli tiket baru. Jika Anda berminat, Anda juga bisa membeli paket tiket Peak Tram plus Sky Terrace 428 dengan harga yang lebih murah. Sky Terrace 428 adalah spot paling asyik untuk mengamati hamparan permadani gedung-gedung pencakar langit Hong Kong dari titik tertinggi di pulau ini.

 photo 6224A8AA-38BC-4E85-A2FB-6723E2D38948.jpg

Bruce Lee at Madame Tussauds Hong Kong

 photo 07BD877D-8928-4E19-91FD-0438B4B76388.jpg

 photo 2AD311CB-39A9-4EEA-AE39-B547C358DEC5.jpg

Kakek Albert

Kami sampai di kawasan Victoria Peak sekitar pukul 09.30 pagi, dan masih ada waktu sedikit untuk mengisi perut kami, karena ternyata Madame Tussauds baru buka pukul 10.00 waktu Hong Kong. Pukul 10.30 kami baru masuk ke Madame Tussauds, lanjut jeprat-jepret foto sana foto sini ga kerasa baru keluar jam 13.00. Kelelahan, lalu kami beristirahat di atap The Peak Galleria. Sama seperti Sky Terrace 428, di sini kita juga bisa menikmati pemandangan Hong Kong dari ketinggian puncak Victoria, hanya yang beda adalah masuk ke atap the Peak Galleria ini gratis.

 photo D8EE55E8-F605-4D2E-A3A7-87CDE6F9C96A_1.jpg

View dari atap The Victoria Peak

Puas menjelajahi kawasan Victoria Peak, kami turun dari bukit Hong Kong via Peak Tram. Sesampainya di bawah, kami bersantai-santai sejenak di area Hong Kong Park. Kawasan hijau ini selain terdapat ekosistem buatan seperti kolam dan pepohonan, juga terdapat pusat konservasi burung yang dikenal dengan nama Hong Kong Park Conservatory. Kandang burung raksasa ini menyimpan berbagai jenis burung yang seakan bebas terbang kesana-kemari.

Dari Hong Kong Park, dengan santai kami menyusuri jalanan pedestrian Hong Kong hingga sampai di IFC Mall. Di mall ini kami sengaja sedikit membuang-buang waktu dengan berkeliling karena kami berencana akan kembali ke dataran Tsim Sha Tsui saat hari mulai menjelang gelap dengan menaiki kapal ferry. Maka menginjak pukul 6.00 sore kami bergerak ke pelabuhan Star Ferry Pier (Central Ferry Pier no. 7) untuk naik ferry penyeberangan. Saat menyeberang matahari sudah semakin tenggelam, dan benar saja, naik ferry ini memang lebih seru di malam hari karena background pemandangan Hong Kong di malam hari yang spektakuler. Gedung-gedung pencakar langit mulai menari-nari dengan lampunya hingga Hong Kong Observation Wheel yang mulai menyalakan lampu cincinnya.

 photo 06169F21-DA80-41FF-9AE7-97EC18264F41.jpg

Turun ferry di pelabuhan Star Ferry Pier kawasan Kowloon, kami langsung menuju ke dermaga publik Kowloon (Kowloon Public Pier). Dan ternyata, dermaga ini sudah hampir penuh oleh para wisatawan yang menantikan pertunjukan Symphony of Lights pukul 08.00 malam itu. Symphony of Lights memang sudah menjadi salah satu daya tarik wisatawan asing untuk berlibur ke Hong Kong. Pertunjukan kolaborasi laser dan lampu-lampu gedung pencakar langit Hong Kong yang hanya berlangsung 13 menit saja ini mampu menyedot para wisatawan untuk memadati kawasan dermaga Kowloon hingga Tsim Sha Tsui. Cukup menarik memang pertunjukan lampu menari ini, hingga sanggup menutup petualangan kami menyusuri Pulau Hong Kong di hari pertama ini dengan senyum kepuasan.

(To be continue…)

Ini dia! Rumah lumba-lumba!

Pantai Lovina, Singaraja, Bali.

Awalnya cukup khawatir karena kami datang bertepatan dengan musim hujan. Saat saya bertanya kepada sang pemilik perahu, ternyata lumba-lumba di sini akan selalu ada. Itu karena memang di sini adalah rumah mereka. Jadi ya hanya dengan satu cara untuk membuktikannya, ayo kita kejar mereka!

Berbekal sekitar Rp 500.000 per perahu, kami di antar sedikit ke tengah laut untuk mengejar lumba-lumba. Dan benar saja, banyak sekali mereka! Ternyata sistem yang digunakan adalah perahu-perahu pengunjung dengan jumlah yang cukup banyak berusaha mengejar kawanan ikan mamalia ini bersama-sama. Jadi seakan-akan lumba-lumba tersebut akan sedikit terkepung. Maka agar lumba-lumba tidak stress karena pengejaran ini, para pemilik perahu menyarankan para pengunjung untuk datang di pagi hari pukul 6.00 WITA, tidak di jam-jam yang lain. Dengan durasi sekitar 1,5 jam, dijamin Anda pasti puas dengan pengalaman baru mengejar lumba-lumba.

____________________________________________________________

This it it! The Dolphin’s Home!

Lovina Beach, Singaraja, Bali, Indonesia.

First time came here made us little bit worry because it’s rainy season. But the boat owner said that this is the dolphin’s home. They will always there, no matter what season is. So, only one way to proof it! Let’s go get them!

With about IDR 500.000 for each boat, we’ve taken to the sea by the boat owner. And it’s right! There was a lot of dolphin there! With other boats, we together tried to cornering them. So, to prevent the dolphin from stress, tourist is suggested to come here only in the morning at 6 am (WITA), not in other time. With 1.5 hours, you gonna be satisfied with this new experience to chase the dolphin!