0ED780D9-243D-48FC-945B-CD8D02D64B2F

Bukan Dan Brown namanya jika ia menulis novel tanpa dibumbui kontroversi. Tak terkecuali novel terbaru karyanya berjudul Origin. Kali ini Dan Brown berusaha mengusik kepercayaan kita tentang bagaimana asal-usul kita, dan bagaimana takdir kita di masa depan.

Dari awal membaca bab prolog novel ini saja saya sudah merasa getir. Bahkan saya khawatir, klimaks dari Origin akan segetir Inferno. Apa yang berusaha diangkat oleh Dan Brown seakan benar-benar akan mengguncang iman setiap manusia beragama di dunia. Apalagi di bab-bab awal novel ini, Brown berani mengangkat tokoh-tokoh dengan latar agama Islam, Kristen, dan Yahudi sekaligus.

Gaya penulisan Brown memang, saya akui, HEBAT! Dia selalu berhasil menggabungkan berbagai disiplin ilmu yang mungkin jika kita harus membacanya dari buku lain, kita akan bosan. Tapi Brown selalu berhasil mengangkat berbagai karya seni, tempat-tempat bersejarah, bangunan-bangunan artistik, hingga sains-sains modern, meramu menjadi sebuah sajian dengan runtutan yang luar biasa.

0ED780D9-243D-48FC-945B-CD8D02D64B2F

Saya terkadang justru tertegun … Jangan-jangan Dan Brown ini bisa menggandakan diri untuk selalu bisa menulis novel hebat. Hehehee..

Brown dengan cerdas akan membuat Anda selalu penasaran dengan hal “kontroversi” apa yang berusaha ia ungkapkan melalui novel ini. Dengan plot cerita yang beragam, dari banyak arah, membuat novel ini sangat kaya. Tidak akan membuat Anda terbersit sedikitpun ingin berhenti untuk membacanya.

Satu hal yang menjadi ciri khas novel Dan Brown adalah, Anda akan kesulitan memisahkan antara hal-hal yang nyata di dalam Novel dengan hal-hal yang fiksi. Itu karena kemampuan hipnotic writing Brown yang harus diakui, sangat hebat! Satu kunci penting dari kemampuannya tersebut adalah sebuah ungkapan sederhana yang selalu ia tuliskan di halaman awal novel:

Fakta:
Semua karya seni, arsitektur, lokasi, sains, dan organisasi keagamaan dalam novel ini nyata.

Sebuah pernyataan sederhana, jelas, namun akan membius setiap pembaca sehingga lupa bahwa alur cerita dari novel tersebut adalah fiksi.

Sekilas mengenai novel ini, kali ini Robert Langdon berpetualang di Spanyol untuk memenuhi undangan mantan mahasiswa sekaligus sahabatnya Edmond Kirsch. Kirsch yang seorang ilmuwan atheis yang nyentrik, menyatakan bahwa ia berhasil mengungkap bagaimana awal mula kehidupan di Bumi serta apa yang akan terjadi di masa depan. Kirsch mengadakan presentasi megah di Spanyol yang juga dihadiri oleh Langdon. Namun yang terjadi justru menggemparkan, Kirsch terbunuh sesaat ketika akan memaparkan temuannya. Pembunuhan Kirsch yang ditonton secara tragis oleh jutaan pemirsa di dunia, meninggalkan teka-teki tetang apa yang ditemukannya.

Langdon yang sempat menemui Kirsch sesaat sebelum perhelatan, merasa punya tanggung jawab moral untuk melanjutkan apa yang ingin Kirsch sampaikan kepada dunia. Dibantu oleh calon Ratu Spanyol dan sebuah kecerdasan buatan karya Kirsch, Langdon berusaha mengungkap hal tersebut. Tak ayal, Langdon yang dianggap berbahaya menjadi sasaran pembunuh bayaran selanjutnya.

Tentu saja Langdon berhasil melanjutkan misi Kirsch, namun saya yakin, ending novel ini tidak akan sesuai dengan apa yang Anda harapkan. Masih getir sig, tapi bukan getir yang itu…

Penasaran?
Selamat membaca! 😊

img_3834

“Fuadi menulis tentang perantauan terus,” begitu komentar teman saya di Facebook ketika saya mengunggah foto cover buku ini. Menurut saya, ya memang itu pengalaman dia. Sama seperti saya menulis tentang boiler, turbin, termodinamika, seputaran teknologi pembangkit listrik, ya memang itu pengalaman saya.

A. Fuadi sudah merantau sejak usia belasan, ketika menjelang masuk usia SMA lebih tepatnya. Oleh karena itulah ia sangat ahli menuliskan bagaimana perasaan seorang anak kecil yang ditinggalkan ayahnya di kampung halaman sang ayah.

Singkat cerita, Hepi anak Jakarta sang tokoh utama novel ini dengan terpaksa harus “diungsikan” oleh ayahnya sendiri, Martiaz sang orang tua tunggal, ke kampung halaman Martiaz. Hepi yang tidak naik kelas karena sering membolos menjadi alasan utama keputusan berat ini. Martiaz dengan terpaksa berencana menitipkan Hepi ke rumah kakek neneknya di Tanjung Durian.

Awalnya Hepi tidak mengetahui rencana ayahnya ini. Di musim liburan kenaikan sekolah ia diajak ayahnya pulang ke kampung halaman Martiaz. Tak disangka di saat-saat terakhir mudik mereka, Martiaz justru dengan tega meninggalkan Hepi di Tanjung Durian. Martiaz tidak mengajak Hepi pulang ke Jakarta.

Adegan inilah yang membuat Hepi dendam kepada ayahnya sendiri. Ia merasa tertipu, marah, dan berjanji mengumpulkan uang sendiri untuk membeli tiket pulang ke Jakarta. Ditemani dua teman baru Hepi, Attar dan Zen, mereka membantu Hepi mengumpulkan uang itu.

Berbagai petualangan pun mereka arungi. Termasuk ketika mereka bertiga berhasil meringkus komplotan pencuri yang meresahkan kampung halaman kakek neneknya. Trio inipun menjadi terkenal dan dianggap sebagai pahlawan di kampung Tanjung Durian.

Petualangan tak berhenti di situ saja karena ternyata masih ada masalah lain yang lebih meresahkan ketimbang komplotan pencuri tersebut. Bahkan Hepi bisa saja tewas terbunuh jika Pandeka Luko terlambat menyelamatkannya.

Cerita perkenalan Hepi dengan Pandeka Luko inilah yang menurut saya menjadi inti pesan moral yang ingin disampaikan A. Fuadi. Pergulatan perasaan Hepi yang merasa terbuang karena ia harus dibesarkan tanpa seorang sosok ibu, dan kini harus “dibuang” pula oleh ayahnya, seakan memuncak ketika ia mengobrol dengan Pandeka Luko. Hepi sadar bahwa ternyata ia bukan satu-satunya di dunia ini yang merasa terbuang. Cerita pengalaman hidup Pandeka Luko yang seorang pejuang kemerdekaan dan juga mantan anggota pemberontakan PRRI pada masa itu, menjadi semacam obat luka bagi Hepi.

Pergulatan emosi Hepi dan Pandeka Luko dengan apik diceritakan oleh A. Fuadi. Banyak pesan moral yang dapat diambil dari novel ini, justru ketika keduanya sedang mengobrol di rumah hitam.

Untuk masalah plot cerita, novel ini cenderung datar, satu arah, dan terlalu sederhana. Konflik cerita yang diangkat juga sangat sederhana. Namun demikian, cerita di novel ini masih cocok jika diangkat ke layar lebar. Saya bisa membayangkan film Anak Rantau sangat menarik jika mengisi liburan anak-anak sekolah.