img_5897

Saya adalah muggle penggemar Harry Potter. Harry Potter adalah cinta pertama saya terhadap novel. Terutama novel keempat Harry Potter: The Goblet of Fire, adalah novel yang pertama kali saya baca. Sekali lagi ya, novel pertama saya. Karena sebelum-sebelumnya, seperti generasi 80-an yang lain, saya baca komik. Heheheee…

Tepatnya sekitar tahun 2001-2002 saya mulai kenal novel-novel karya J. K. Rowling ini. Dan lucunya, pertama kali yang saya baca adalah Harry Potter seri keempat. Saya masih keingat sampai sekarang, saat Harry mengikuti kompetisi penyihir-penyihir muda dunia bertajuk Tournamen Triwizard. Alur cerita yang sangat detail, sangat hidup, membuat dunia sihir yang seakan memang ada, hidup berdampingan dengan dunia kita para muggle.

Sejak saat itu saya mulai membaca kisah-kisah Harry Potter dari yang pertama, kedua, ketiga, lalu menunggu yang kelima, keenam, hingga yang terakhir ketujuh. Semua ludes tanpa sisa, termasuk wujud novelnya. Karena sebagian besar memang saya sewa perpustakaan. Jaman segitu mah belum kuat beli. Hahahaa…

Dari semenjak saya membaca novel ini, satu hal yang sangat membuat saya terkesan adalah, bagaimana cara tante J. K. Rowling ini mengingat semua hal mengenai dunia sihir Harry Potter. Bayangkan saja, bagaimana struktur Kementrian Sihir dari masa ke masa sering diceritakan sekilas di setiap kesempatan. Lalu bagaimana permainan Quidditch diciptakan oleh Rowling dengan sangat detail, lengkap dengan perjalanan sejarahnya dan bagaimana piala dunia-piala dunia Quidditch berlangsung. Lalu bagaimana Rowling mengingat seeeemuuuuuaaaa karakter sihir yang menurut saya, keterlaluan banyaknya.

Saat itu saya membayangkan, pasti tante ini punya sebuah katalog besar yang menjadi database tokoh-tokoh, kalimat-kalimat sihir, resep-resep ramuan, hewan-hewan dunia sihir, dan lain sebagainya pokoknya semuanya. Dan dengan sangat cerdasnya, Rowling mengemas semua itu dengan saling berkaitan hanya melalui tujuh novel Harry Potter yang ajaib ini.

Kecurigaan saya sedikit benar ketika Rowling merilis buku yang saya buat resensinya ini: Fantastic Beasts and Where to Find Them. Uniknya adalah, di cover buku ini ada dua pengarang yang dicantumkan. Pertama adalah Newt Scamander, penyihir yang mengarang buku ini sesuai dengan alur cerita di dalam novel Harry Potter. Kedua adalah tentu saja J. K. Rowling, sang dalang pencipta tokoh Newt Scamander. Dari sini saja nampak bahwa buku ini dibuat senyata mungkin untuk para muggle.

Untung saja penerbit terkait cukup memikirkan keselamatan para muggle yang ingin membaca buku ini. Sepertinya mereka menggunakan mantra khusus untuk mematikan secara permanen sifat liar buku ini, agar para muggle tidak memerlukan rantai dan gembok untuk menyimpan buku pelajaran tersebut. Hehehehee…

Awalnya saya sedikit skeptis dengan buku ini. Makanya saya telat belinya. Dan baru greget beli setelah hampir saja, dan untung gak saya lanjutkan, nonton filmnya sebelum baca bukunya. Hehee..

Awalnya saya pikir buku ini hanya berisikan katalog hewan-hewan dunia sihir yang membosankan. Namun ternyata, oh ternyata, J. K. Rowling sangat cerdas mengemas buku ini. Ia menulis beberapa bab pendahuluan yang membuat seakan buku ini sangat nyata.

Diawali dengan kata pengantar penulis. Tapi tunggu dulu, kata pengantar ini bukan bertanda tangan J. K. Rowling, namun Newt Scamander. Sangat nyata!

Selanjutnya Mr. Scamander menjelaskan bagaimana kita, terutama para muggle, memahami buku ini. Diawali dengan bagaimana proses dunia sihir mengklasifikasikan mana yang bisa disebut hewan atau makhluk. Lalu diikuti dengan penjelasan tentang semakin sadarnya para muggle akan adanya hewan-hewan sihir ini, dan bagaimana Kementerian Sihir berusaha menutupi kenyataan ini termasuk dengan menggunakan jampi memori terhadap muggle. Serta bagaimana Kementerian Sihir mengklasifikasikan hewan-hewan tersebut berdasarkan tingkat bahayanya.

Barulah inti dari buku ini dijabarkan. Hewan-hewan buas dijelaskan dengan tingkat imajinasi sangat tinggi. Urut sesuai abjad, buku ini menjelaskan semua hewan sihir baik yang sempat muncul di novel Harry Potter maupun yang tidak. Yang menarik adalah, buku ini menjelaskan berbagai hewan legendaris yang sering menjadi desas-desus para muggle seperti Yeti, Ular Laut Loch Ness, dan tentu saja Naga.

Satu contoh saja, buku ini menjelaskan bahwa hewan yang diklaim banyak muggle sering ditemui di danau Loch Ness, sebenarnya adalah hewan bernama Kelpie. Kelpie adalah monster air dari Inggris dan Irlandia dengan bentuk beragam, namun sering kali berwujud sebagai sosok kuda dengan tanaman air bulrush menutupi kepalanya.

Sedangkan apa yang ada di danau Loch Ness merupakan Kelpie terbesar yang pernah ada, yang sering tampil dalam wujud Ular Laut (Sea Serpent). Ular Laut ini diketahui ternyata langsung akan berubah menjadi berang-berang setiap kali ada penyelidik muggle mendekat.

Tentu saja buku ini sangat menarik. Imajinatif. Dan membuat saya siap untuk menonton versi filmnya. Hehehehee…

snapseed-4

Sejak adanya Google Street View (GSV), sudah menjadi kebiasaan saya jika akan mengunjungi suatu tempat wisata baru, saya pasti survey lokasinya terlebih dahulu menggunakan GSV. Dengan cara ini saya selalu bisa tahu terlebih dahulu bagaimana medan di sana, bagaimana tempat parkirnya, atau minimal di mana gerbang masuknya.

Nah, kesulitan pun timbul ketika saya ingin menuju ke Benteng Fort Willem I di Ambarawa, salah satu lokasi wisata yang lagi hits di Kabupaten Semarang ini. Melalui GSV ataupun mbah Google, saya tidak berhasil menemukan di mana pintu masuk yang tepat untuk kendaraan roda empat. Kalau roda dua sudah ada beberapa blog yang berbagi lokasi gerbang masuk dari Jl. Kartini Tambakboyo, Ambarawa.

Gapura Benteng: jalur masuk roda dua ke Benteng Fort Willem I (Sumber: Google Street View)

“Malu bertanya, sesat di jalan.” Ungkapan ini tak akan lekang oleh waktu. Setiba saya di Ambarawa dan setelah selesai main ke Museum Kereta Api Indonesia, saya pun mencari informasi bagaimana kendaraan roda empat bisa menuju ke Benteng Fort Willem I. Cukup sekali bertanya, jawaban pun saya dapatkan. Jadi ternyata total ada tiga jalur untuk bisa masuk ke Benteng Pendem.

Jalur Gapura Benteng

Sesuai foto di atas, jalur ini hanya bisa dilewati oleh roda dua. Gerbang masuk jalur ini ditandai dengan sebuah gapura khas berbentuk benteng. Gapura ini bersebelahan dengan RSUD Ambarawa, tepatnya di sisi timur rumah sakit tersebut.

Tepat di tengah-tengah jalan gapura dipasang portal yang membuat jalan ini hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua saja. Jika Anda mencoba survey jalan ini via Google Street View, jalur menuju gapura ini akan nampak ditandai dengan garis biru khas jalur kamera GSV. Namun kamera GSV akan berhenti hanya sampai di depan gapura, tidak masuk terus ke jalan tersebut.

Dari gapura ini, Anda hanya perlu lurus terus masuk mengikuti jalan yang ada. Nanti jalan tersebut akan sedikit menikung ke selatan. Di ujung jalan, Anda akan langsung menemukan gerbang bagian belakang Benteng Pendem.

Gerbang belakang Benteng Fort Willem I

Bangunan tempat parkir yang dikelola warga setempat

Di sisi kanan jalan masuk benteng, ada sebuah bangunan yang dikelola oleh penduduk lokal. Bangunan ini difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan roda dua. Jadi jika di dalam masih ada tempat kosong, sepeda motor Anda bisa diparkir di dalam bangunan tersebut. Biaya parkirnya pun cukup murah, hanya lima ribu rupiah saja.

Jalur Kampung Bugisan

Jalur kedua adalah melewati Kampung Bugisan, Kelurahan Lodoyong. Jalur ini tak jauh dari Gapura Benteng, Anda hanya perlu mengikuti dua tikungan zig-zag di depan gapura ini terus ke arah timur, hingga di kanan jalan Anda menemukan sepasang gapura kembar kecil bertuliskan Bugisan.

Jalan masuk Kampung Bugisan, Ambarawa (Sumber: Google Street View)

Dari sini masuk saja lurus ke selatan sampai mentok, lalu belok kiri hingga menemukan persimpangan gang lagi di kanan jalan. Di persimpangan ini belok saja ke kanan, lurus terus hingga mentok. Dari sini Anda tinggal belok kiri lagi mengikuti jalan hingga menemukan gerbang belakang Benteng Pendem seperti di jalur Gapura Benteng.

Jalur ini cukup lebar, sehingga kendaraan roda empat bisa melewatinya. Nanti di gerbang belakang benteng, Anda tinggal parkir saja di halaman depan bangunan parkir roda dua yang sudah saya sebut di jalur sebelumnya.

Jujur saja, saya tidak mencoba jalur ini. Saya hanya mengetahui jalur ini dari penduduk setempat yang mengelola tempat parkir gerbang belakang benteng.

Jalur Markas TNI-AD Batalyon Kavalery 2 Turangga Ceta

Nah, jalur inilah yang menurut saya paling recomended. Jalur ini jelas bisa dilewati oleh kendaraan roda empat, apalagi roda dua. Namun tentu saja ada beberapa hal yang wajib Anda perhatikan karena via jalur ini Anda akan memasuki kawasan militer TNI Angkatan Darat.

Gapura Masuk Markas TNI-AD Batalyon Turangga Ceta (Sumber: Google Street View)

Gerbang masuk markas Batalyon Turangga Ceta tak jauh dari Museum Kereta Api Indonesia. Hanya 100 meter ke arah selatan, Anda akan menemukan persimpangan jalan raya. Beloklah ke kanan dan lurus saja sedikit hingga di kiri jalan Anda menemukan gapura besar penanda markas TNI-AD ini.

Di gerbang ini Anda diwajibkan untuk melapor ke Provost atau petugas yang sedang berjaga. Turunlah dari kendaraan Anda, dan saran saya, jagalah kesopanan Anda.

Di pos ini Anda akan diminta untuk mengisi buku tamu. Tak hanya itu, kartu identitas Anda juga akan ditahan sementara Anda masuk ke kawasan ini. Oleh petugas yang berjaga, Anda akan diingatkan untuk terus selalu membuka kaca mobil Anda. Selain itu, Anda juga diminta untuk menjaga kesopanan selama berada di kawasan Benteng Pendem. Hal ini dikarenakan masih ada beberapa ruang di benteng ini yang digunakan sebagai tempat tinggal petugas lembaga pemasyarakatan.

Dari pos pemeriksaan depan, Anda hanya perlu mengikuti jalan yang ada, lurus terus sampai Anda menemukan gerbang depan benteng. Gerbang depan benteng ini ditandai dengan adanya papan bertuliskan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Ambarawa. Dari sini Anda diminta untuk memarkir kendaraan Anda di bawah pohon beringin yang ada di sisi kanan gerbang benteng.

Gerbang depan masuk kawasan Lapas Ambarawa dan Benteng Fort Willem I

Sedikit perlu saya tambahkan di sini adalah bahwa Benteng Fort Willem I merupakan bangunan yang masuk kawasan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Ambarawa. Namun menurut informasi yang beredar, semua bangunan tersebut masih aset milik Kodam IV/Diponegoro.