Writing vs Copywriting

Anda santai saja dan simak baik-baik rumus sederhana di bawah ini:

Kopi + Writing ≠ Copywriting

Writing disambi dengan ngopi, tidak sama dengan Copywriting.

Hehehee,,

Sudah, cukup. Saya hanya bercanda sedikit.

Sebelum lebih dalam membahas Writing vs Copywriting, saya ingin bercerita sedikit hal ini dulu.

Saya baru menyadari tentang satu hal yang menurut saya keren di beberapa hari terakhir ini. Saya baru tersadar bahwa di tahun dengan angka cantik ini, 2020, saya genap sudah 10 tahun memulai hobi baru: Menulis.

Baru beberapa detik yang lalu saya mengunjungi blog pertama saya, apriyahanda.wordpress.com langsung saya scroll ke ujung paling bawah. Dan yak! Beberapa kalimat itu masih ada di sana. 

Malas ngeklik tautan yang saya beri tadi? Hfftt.. 

Oke lah. Inilah tulisan pertama saya, yang tentu saja punya judul post yang sangat standard — khas postingan pertama di setiap Blog —: “Hello World”

My “Hello World”

My “Hello World”

Sejak saat itu saya terus menulis dan terus berusaha berbagi ala saya. Mayoritas tulisan saya memang mengenai sains dan bidang-bidang keilmuwan yang berhubungan dengan pekerjaan saya.

Namun seiring berjalannya waktu, tulisan-tulisan saya menjadi tidak terkotak di satu bidang saja. Banyak sekali. Bahkan akhir-akhir ini saya lebih sering menulis resensi buku daripada sains.

Tapi satu hal yang jelas. Ada semacam ketagihan jika saya tidak menulis. Dan ada semacam ‘kekurangan’ jika saya sudah cukup lama tidak menulis. Ada cerita kecil menarik jika hal ini saya bahas. Suatu saat saya akan bahas tentang hal ini.

Lanjut dulu. 

10 tahun menulis apa yang saya dapatkan?

Adsense? Hehehee…

Jujur saja, pendapatan adsense saya tidaklah banyak. Paling bagus, saya mendapatkan sekitar US$120-an, selama 3 bulan. Ya, tiga bulan. Sampai detik ini pendapatan Adsense saya paling cepat saya bisa mengumpulkan di atas seratus dolar adalah dalam tiga bulan. Dan belum pernah lebih cepat dari itu. Sekedar info saja bagi Anda yang mungkin belum tahu, Google baru mengirim pendapatan Adsense kepada kreator jika pendapatan yang dihasilkan mereka sudah mencapai US$100.

Nah,, lalu apa yang benar-benar saya dapatkan?

Skill! Ya, Sebuah skill baru yang sebelumnya saya tidak pernah membayangkan hal itu akan saya miliki. Keahlian Menulis.

Tapi apakah sudah seahli itu?

Ya tentu saja belum. 

Tapi jujur saja keahlian ini baru saya sadari beberapa hari yang lalu sangat bermanfaat untuk mengasah skill baru yang lain, yang baru saja saya mulai pelajari. 

Skill itu adalah Copywriting.

Tapi saya ingin meluruskan satu hal ini — yang mungkin juga berguna bagi otak saya juga:

Copywriting amat sangat jauh berbeda dengan Writing.

Writing, atau menulis adalah, mmmm,, ya sudah menulis. Menulis apapun. Dan siapapun bisa menulis. Entah ada yang baca atau nggak ya bentuk tulisan ya seperti itu.

Nah kalo Copywriting? Begini pengertiannya.

Apapun bentuk media, entah itu video, suara, gambar, tulisan, atau lainnya, yang tujuan akhirnya adalah untuk menjual produk atau jasa, disebut sebagai Copywriting.

Sudah keliatan ya bedanya?

Perbedaannya ada di dua hal pokok. Yakni pada media, dan tujuannya. 

Menariknya, sekalipun frasa Copywriting ada kata “writing”-nya, tapi bentuk dari Copywriting tidak melulu berupa tulisan. Dahulu kala ketika awal muncul istilah Copywriting memang karena bentuknya yang hanya berupa tulisan iklan yang bertujuan menjual sesuatu. Namun sekarang, semisal ada logo Nike yang terpampang besar di sebuah baliho di pinggir jalan, itu juga disebut Copywriting.

Oke. Kembali ke, saya lagi sekarang.

Apa yang bisa saya pakai dari pengalaman 10 tahun menulis, untuk mendukung saya dalam membuat Copywriting?

Ini yang menantang. Dan jujur saja, saya butuh kopi. Hehehehe..

Pertama, tentu saja jenis Copywriting yang paling cocok untuk mulai saya asah adalah yang jenis tulisan. 

Bagaimana itu Copywriting yang berbentuk tulisan?

Banyak.

Postingan di Instagram yang captionnya ada aroma-aroma jualan, itu Copywriting. 

Landing Page? Itu termasuk Copywriting, sekalipun kadang jualannya ndak langsung saat itu — biasa diberi istilah Soft Selling.

Tulisan saya ini? Bisa saja jadi Copywriting kalo semisal Anda saya ajak untuk follow akun Instagram bisnis saya 👉 @queen_keeza

Hehehee.. Jangan keras-keras ketawanya kalo sudah lihat apa yang saya jual ya. Hehehehe

Storytelling yang di ujung akhir cerita ada produk yang diiklanin, itu juga termasuk Copywriting.

Banyak kok contoh penggunaan Copywriting dalam bentuk tulisan.

Namun yang pasti, menulis dengan tujuan jualan itu beda banget dengan menulis biasa. Banyak hal-hal yang harus diperhatikan. Tapi menurut saya yang paling ingin saya asah adalah membuat sebuah tulisan yang jika Anda baca, Anda tidak merasa kalo Anda sedang saya jualin.

Waduh, gimana itu caranya?

Ya ini lagi saya asah. Hehehee..

Kalo kata guru Copywriting saya Pak Bi — Subiakto Priosoedarsono — saya butuh paling tidak 10.000 jam latihan menulis Copywriting hingga saya bisa fasih menggunakan skill tersebut.

Saya sih seneng-seneng aja disuruh latihan selama 10.000 jam lagi. Wong ya menulis sudah jadi hobi juga. Hehehee..

Tapi ngomong-ngomong, Anda tahu nggak siapa Pak Bi? 

Nggak tahu? Weleh..

Kalo lirik ini? Nggak mungkin nggak tahu.

Dari Sabang sampai Merauke,

Dari Timor sampai ke Talaut

Indonesia, Tanah Airku

Indomie, Seleraku

Awas sampai Anda membaca lirik di atas sambil menyanyikannya ya! Hahahahaa..

Jingle Indomie itu Pak Bi yang buat. Pak Bi lah yang menyulap Indomie jadi rajanya mie instan di Indonesia. Dan jangan salah, empat baris lirik itu jadi satu Copywriting paling kuat lho yang pernah ada di Indonesia! Berani menyanggah? Hehehehee

Sudah, sederhana saja. Kalo Anda penasaran gimana cara Pak Bi membuat Copywriting, langsung saja follow akun Instagram beliau. Beliau aktif sekali di Instagram, dan sering sekali berbagi ilmu Selling, Branding, dan Marketing, GRATIS! Mantab!

Monggo langsung follow beliau ya 👉 @subiakto

Sekalian saya pengen ndompleng tipis. Kalo Anda pengen diskusi dengan saya, tentang apapun, silahkan follow saya juga ya 👉 @onny

Sampai jumpa di Instagram. 👋🏻😊

Bagi saya pribadi, menulis sesuatu dengan tujuan untuk dibaca oleh orang lain haruslah: BERKUALITAS! Well, perlu ditekankan bahwa ini menurut pendapat saya ya. Karena masa-masa sekarang aliran informasi sudah amat sangat cepat. Sebuah artikel dengan riset berhari-hari dapat dengan mudah lewat begitu saja karena derasnya arus informasi yang mengalir. Bayangkan saja, dalam setiap satu menitnya: mesin pencari Google memproses 4 juta kata kunci, ada 2,5 juta update-an status di Facebook, 300.000 kicauan di Twitter, 220.000 foto baru di Instagram, dan ada tujuh puluh dua jam durasi video baru terunggah ke server Youtube. Jika seorang penulis seperti saya hanya menulis sekedar untuk, well, numpang lewat doang, habislah sudah!

Makanya saya menulis bukan sekedar menulis. Dalam setiap satu single artikel yang saya buat, paling tidak saya sudah membaca dua atau tiga sumber informasi. Ini jumlah minimal. Kadang juga puluhan, sampai-sampai saya lupa mencatat dan mencantumkannya di akhir artikel. Biasanya ada satu artikel yang saya jadikan acuan, lalu pengembangan tema seakan sudah “terpetakan” di otak kecil ini. Dengan “peta” yang ada itu seakan jari saya sudah tahu akan menulis ke arah mana. Dengan bantuan mbah Google saya akan mencari sebanyak mungkin informasi yang bisa saya gunakan sebagai materi pendukung. Lalu lanjut deh menulis!

 photo FB161C0D-1780-477F-BC82-42F0471F3606.png.jpeg

Memberikan informasi dengan seakurat dan berkualitas menjadikan artikel-artikel saya, yaaaah, bisa dibilang awet muda lah. Terbukti dari statistik Artikel-Teknologi.com sepanjang 2015 yang menunjukkan justru artikel-artikel lawas bikinan tahun 2011 yang laris manis dibaca. Dengan fakta ini membuat saya konsisten dengan prinsip: Kualitas nomor satu, setelah itu kuantitas yang kedua!

 

Credit: ACI.info